
Happy Reading 😊
Revan hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar jawaban dari Ara. Rasanya sangat sakit, apalagi dengan terang-terangan Ara menolak Revan yang ingin mengejar cintanya.
'Hanya dengan jawaban Ara yang seperti ini saja rasanya sakit banget, apalagi dulu gue sering nolak lo mentah-mentah, Ra? lo kok masih sabar ngadepin gue, masih perhatian sama gue, gue benar-benar malu, tapi gue gak bakal nyerah, cuma gini aja, apalagi elo yang sampe berbulan-bulan, Ra,, jadi makin sayang banget ke elo,' batin Revan.
Kata-kata Ara tidak menghina, atau bahkan menolak dengan kata-kata kasar, dia hanya mengatakan tidak ingin jatuh cinta lagi karena mungkin masih trauma.
Sakit, memang sih! Apalagi di saat kita ingin bisa selalu bersama dan berduaan dengan orang yang kita cintai.
Entah kenapa sekarang mata hati Revan benar-benar terbuka, melihat ketulusan hati gadis itu, selama ini dia hanya di hasut oleh Angel. Revan tahu itu, tapi cowok itu tidak ingin memikirkan masa lalu.
Yang di pikirkan hanyalah Ara, masa depannya. Bahkan saat ini gadis itu ada di hadapannya dengan makan bakso begitu lahap.
"Van, lo gak kehilangan selera makan, kan?" tanya Ara.
Menatap Revan yang sedari tadi malah melihat dirinya makan.
"Eh, enggak kok, gue makan sekarang, mumpung bisa makan bareng sama elo," Revan langsung mengambil sendok dan memakan bakso dengan lahap.
Ara tersenyum puas, dia tahu kalau sebenarnya Revan tengah berbohong padanya, mana mungkin Ara tidak tahu kalau Revan sangat tidak menyukai bakso. Apapun tentang makanan kesukaan Revan dia tahu. Jadi Ara juga pasti tahu mana makanan yang tidak di sukai olehnya.
Akhirnya setelah menghabiskan semangkuk bakso jumbo, Revan dan Ara memutuskan untuk pulang.
"Van, makasih ya buat traktirannya!" seru Ara.
"Iya, Ra.. makasih buat lo juga karena mau makan bareng gue," jawab Revan .
Hatinya berbunga-bunga, makan di warung bakso pinggir jalan, dengan tempat yang sangat sederhana, bersama Ara benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa. Gadis yang ceria dan menyenangkan.
Berbeda dengan Angel, gadis itu selalu memilih-milih tempat makan, harus di restoran mewah dengan menu yang mahal. Revan merasa hambar dan tidak berselera.
Ara bukan gadis yang lemah lembut seperti Angel, tapi Revan semakin suka dengan tingkahnya yang menurutnya begitu menggemaskan.
__ADS_1
Apa adanya, begitu lah Ara.
Akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Adam dan Fitria. Ara turun dari motor dan langsung mengembalikan helm Revan.
"Gue gak di suruh mampir, nih?" ucap Revan.
"Om dan tante gue gak ada di rumah kalau jam segini, gak enak lah nyuruh seorang cowok mampir, apalagi di rumah cuma ada Sifa dan mbok minah, jadi mending lo pulang aja," jawab Ara.
"Iya deh, besok gue jemput, ya?"
"Gak usah, gue pake motor sendiri, udah balik sana!"
"Iya-iya, Ra. Jahat banget gue di usir secara terang-terangan," Ara memutar bola matanya.
Kemudian membuka pintu gerbang dan langsung masuk ke dalam tanpa menoleh lagi. Sebenarnya Revan sedikit kecewa. Tapi dia harus sabar menghadapi sikap Ara yang sekarang.
Tidak ada Ara yang dulu selalu mencarinya, dan dengan senyum tulus selalu di tunjukan oleh gadis itu. Tapi Revan akan membuat senyum itu kembali lagi, senyum manis yang hanya boleh di tunjukan pada Revan seorang.
Sungguh egois, tapi sekarang tekad Revan sudah bulat, hanya Ara yang akan menjadi pemilik hatinya.
"Kak, Ara!!"
Sifa berlari menaiki tangga menyusul Ara yang sudah lebih dulu naik ke atas.
"Ada apa, Fa?"
"Tadi itu yang nganter kak Ara pulang bukankah Abangnya Raka, ya?"
"Hemm!" jawab Ara membuka pintu kamarnya.
"Wah, gak bener ini!" Sifa mengekor ikut masuk.
Ara meletakkan tas sekolah dan menyodorkan kantong plastik yang di bawanya tadi.
__ADS_1
"Ini apa, kak?" tanya Sifa.
"Ini buat lo, dari Revan," Sifa membulatkan matanya.
Ara mengangguk. "Tadi kita makan di warung bakso mas Rizal, terus dia beliin buat lo, karena tahu kalau lo suka bakso," ucap Ara.
"Wah, dia nyogok Sifa, kak? tapi gak apa-apa deh, bilang ke kak Revan, makasih," Ara mengangguk dan tersenyum.
Sifa tidak jadi menginterogasi Ara dan langsung keluar dari kamar setelah mengambil kantor plastik itu.
Ara memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muda dan berwudhu.
Sedangkan di sisi lain.
Revan baru sampai di rumahnya yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumah Ara. Matanya menatap tajam ke depan melihat Angel berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Van, aku mau ngomong sama kamu!" seru Angel berjalan mendekati Revan dengan senyum khasnya.
"Ada apa lo kemari?"
"Van, please,, aku gak mau kalau kita putus hanya gara-gara kejadian tadi pagi, aku beneran gak sengaja,, masa cuma masalah kaya gitu kamu mutusin aku, pokoknya aku gak terima!" seru Angel dengan nada sedih.
"Maaf, gue mutusin lo bukan karena hal itu, tapi gue emang udah pengen putus dari lo!"
"Enggak, Van,, aku gak mau kita putus, aku cinta sama kamu, dan aku juga yakin kamu masih cinta sama aku, aku tahu kamu tadi khilaf, kan?" Revan mendesah kasar.
Pintu gerbang terbuka setelah satpam di rumah mewah Revan membukanya.
"Angel, gue gak khilaf, selama ini gue merasa hubungan kita ini hambar, rasa gue ke elo sepertinya bukan cinta, tapi hanya sebuah obsesi, di mana setelah gue bisa jadian sama lo, Semua terasa berbeda dan jujur, gue udah gak nyaman, maaf!" Revan segera melakukan motornya masuk ke dalam rumah.
Angel tidak terima. Diapun berteriak memanggil nama Revan. "Maaf neng, sebaiknya neng pulang, jangan buat keributan di sini!" ucap salah satu penjaga di kediaman Sandi itu.
Angel mengepalkan kedua tangannya, marah, kecewa dan emosi menjadi satu.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Ara! gue bakal bales semuanya sama dia!"
Bersambung.