
Happy Reading 😊
Jakarta, 14.45 WIB
Kaila berpamitan pada Vero, dia sudah lebih dari dua jam menemani Vero di apartemennya. Kaila benar-benar harus ekstra sabar menghadapi tingkah Vero yang sangat manja itu, padahal jarak usia mereka 4 tahun, tapi terkesan lebih dewasa Kaila di bandingkan dengan Vero.
Meskipun begitu, sikap manja Vero hanya ia tunjukkan kepada kekasih tercintanya.
"Kenapa buru-buru sih, yank! udah gak ada jadwal kuliah lagi, kan?" tanya Vero.
"Aku harus pulang ke rumah, Bunda udah berpesan kalau malam ini aku harus tidur di rumah karena rencananya Bang Revan dan kak Ara besok mendarat, mungkin sekarang mereka udah ada di pesawat, jadi aku harus pulang," jawab Kaila.
"Revan dan Ara jadi balik ke Jakarta? kangen deh sama mereka, ya udah kalau gitu kamu hati-hati, ya? maaf, aku gak bisa anter ke bawah," ucap Vero dengan wajah yang menyiratkan penyesalan karena tidak bisa mengantarkan Kaila sampai basemant.
"Gak apa-apa, lagian kamu juga masih sakit, jaga diri dan istirahat, ya? biar cepat sembuh, katanya mau minta restu sama Bang Revan?"
"Iya, besok aku pasti akan langsung nyamperin dia kalau udah bangun, kamu juga hati-hati ya, sayang!" ucap Vero mencium kening Kaila.
"Iya, Kaila pulang dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalan," jawab Vero sambil melambaikan tangannya.
Kaila keluar dari dalam lift dan segera menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Tiba-tiba langkahnya berhenti saat tidak sengaja dia melihat seseorang yang sangat tidak asing.
"Sifa!" gadis yang sudah memakai hijab itu pun melihat ke arah depan setelah mendengar siapa yang memanggilnya.
"Kaila, kamu di sini?"
Kaila langsung menghampiri Sifa. "Aku baru dari apartemen kak Vero, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Kaila.
"Oh, aku udah seminggu ini nyewa apartemen di sini, tempatnya juga tidak jauh dari kampusku," jawab Sifa.
"Jadi kamu mutusin untuk kuliah kembali?" Sifa mengangguk.
"Ayo mampir ke apartemen ku, dulu, nanti kamu bisa main ke sana kalau pas ketemu Kak Vero," ujar Sifa sambil menarik lengan Kaila agar ikut dengannya. Alhasil Kaila langsung menurut saja.
__ADS_1
Sifa membuka unit apartemen nya setelah menekan sandi, kemudian dia menyuruh Kaila untuk duduk, sebenarnya mereka bisa akrab karena Raka, meskipun usia Sifa dan Kaila terpaut dua tahun, tapi Sifa menganggap Kaila seumuran dengan nya. Bahkan Sifa tidak mau kalah di panggil pakai embel-embel kak atau mbak oleh Kaila.
"Minum dulu, Kai," Sifa menyodorkan jus jeruk yang baru saja dia ambil di dalam kulkas.
"Jadi setelah bercerai sama kak Romi, kamu mutusin untuk lanjutin kuliahmu?" tanya Kaila.
"Ya, kan sudah bebas, dan tidak ada ikatan lagi, jadi dari pada aku harus berdiam diri di rumah, mending nerusin kuliah," jawab Sifa tersenyum.
Kaila mengamati wajah cantik Sifa yang sepertinya sudah tidak terlihat bersedih setelah bercerai dengan Romi.
Kaila sempat hampir percaya pada Vero, kalau sebenarnya mereka hanya salah paham, tapi kalau memang salah paham kenapa tidak di luruskan? lalu kalau Romi memang mencintai Sifa, kenapa dia tidak bisa menahannya? Ah, Kaila tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Sifa dan Romi.
Mereka pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa memilih bercerai.
"Hoek! hoek!" Kaila terkejut ketika melihat Sifa menahan muntah dan langsung pergi ke dalam kamarnya.
"Sifa, kamu kenapa?" Kaila mengikuti Sifa ke dalam kamar dan mendengar suara keran di dalam kamar mandi sedang menyala.
Setelah beberapa saat Sifa keluar dari dalam sambil mengelap wajahnya dengan tissue.
"Fa, apa kamu hamil?" tanya Kaila to the point.
Kaila memicingkan matanya tidak percaya, di tatap seperti itu membuat Sifa mendesah.
"Aku gak mungkin hamil, Kai!"
"Loh, kenapa? apa kamu belum di buka segelnya sama Romi?" tanya Kaila penasaran.
"Huss, ngomongnya itu, loh! masa hampir dua tahun bersama belum begituan juga, ya gak lah, aku bukan janda tin-ting," jawab Sifa duduk di sofa kamarnya di ikuti Kaila.
"Berarti kan bisa jadi kamu lagi ham, Fa!" Sifa menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin aku hamil, Kai, kalau mas Romi ngasih aku pil pencegah kehamilan!"
Kaila menutup mulutnya mendengar jawaban Sifa. Rasanya tidak percaya kalau Romi sampai melakukan hal itu.
__ADS_1
"Masa sih, Fa? Romi kasih pil KB buat kamu?" tanya Kaila masih shock.
"Iya, Kai, jadi aku pikir sepertinya Mas Romi emang gak pengen punya anak dariku, yah, apalagi dia juga deket sama sektretaris nya, sejak awal nikah sebenarnya aku sudah tau, tapi menurutku itu masih dalam hal wajar, mas Romi juga selalu memberi kabar dan tidak pernah absen menanyakan aku sudah makan atau belum saat bekerja, tapi ya, gitu!" Sifa menghela napas kasar.
Kaila mengelus bahu Sifa, memberikan semangat untuknya.
"Aku rasa memang kami tidak berjodoh, mungkin memang Mas Romi sudah mencintai sekretaris nya itu sejak lama karena dia teman Mas Romi sewaktu SMA," lanjut Sifa.
"Memang nya kamu punya bukti kalau Romi selingkuh?" tanya Kaila.
"Ya, enggak sih, Mas Romi selalu terbuka, dia juga gak pernah pulang terlambat, ah aku gak tau, Kai, yang pasti keputusan ku ini memang yang terbaik untuk kami."
Kaila hanya bisa mengangguk pelan, memang urusan rumah tangga Sifa bukanlah ranahnya, dia juga tidak ingin terlalu ikut campur ke dalam masalah orang lain.
###
Ara dan Revan memutuskan untuk pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan semua urusan pekerjaan yang akan di tinggalkan Revan untuk Raka nanti.
Mereka sudah turun dari dalam pesawat dan di sambut oleh para sahabat yang sudah menunggu mereka sejak sejam yang lalu di bandara.
Romi, Gilang, Kaila dan Raka tersenyum bahagia menyambut kedatangan mereka.
Gilang langsung menyambar Ara dan memeluknya, membuat Ara terkejut dengan perlakuan sahabatnya ini.
"Eh, sekarang Ara udah jadi istri gue, jangan asal main peluk-peluk, lo!" Revan mendorong tubuh Gilang dan langsung mendekap Ara ke dalam pelukannya.
"Yaelah, Van, posesif amat, gue juga kangen sama Ara, lo harus inget kalau gue udah ngalah sama elo!" ucap Gilang.
"Iya-iya, makasih Lang, elo emang gentleman!" semuanya tertawa mendengar ucapan Revan.
"Ra, kalau lo udah bosan sama Revan, pintu hati ini selalu terbuka buat lo, tau gak! gue masih jomblo sampe sekarang, Awww!!" Revan langsung menonjok perut Gilang pelan.
Meskipun tidak sakit tapi wajah Gilang di buat seakan dia merasa kesakitan.
"Enak aja, gak mempan lo pengaruhin Ara, Ara kan cintanya cuma sama Gue! iya kan, yank!" Revan melihat Ara sudah tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Ara pergi menggandeng lengan Kaila, meninggalkan para pria yang sedang bernostalgia tersebut.
Bersambung.