
Happy Reading 😊
Revan berdecak kesal melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Seharusnya dia bisa memakai waktunya ini untuk berdekatan dengan Ara, tetapi lihatlah apa yang terjadi sekarang.
Niat hati ingin memanfaatkan Bundanya biar bisa menjadi lebih dekat dengan Ara, tapi nyatanya sekarang Aulia malah tidak membiarkan Ara pergi dari sampingnya. Revan tidak bisa mendekat sama sekali.
Aulia, Ara dan Fitria duduk bersebelahan di sofa ruang keluarga, Aulia benar-benar merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Ara saat ini.
"Tante itu sudah lama banget nyari kamu, Ra. Sejak kejadian saat itu, tante nyuruh suami tante buat nyari jejak kamu, tapi suami tante malah tertawa karena tante tidak bisa memberikan ciri-ciri yang tepat karena kita memang hanya bertemu sekali, itu pun cuma beberapa menit, tapi bagi tante waktu secepat itu kamu bisa menyelamatkan tante dari orang jahat, terasa seperti ada seorang bidadari cantik yang nolong tante, aduh kenapa tante jadi grogi gini, ya!" Ara dan Fitria terkekeh mendengar setiap cerita Aulia.
"Tapi sekarang tante sudah lega, Ra. Bisa ketemu kamu seperti ini, dan yang tidak pernah tante bayangin ternyata kamu ponakannya Fitria, Ya Allah, Fitri, kenapa kamu gak cerita kalau ternyata kamu mempunyai keponakan yang selama ini aku cari?"
"Ya, mana aku tahu, Lia, kalau kamu sedang mencari Ara, kamu kan gak pernah cerita sama aku, yah intinya semua ini sebenarnya hanya kebetulan yang indah," ucap Fitri membuat Ara dan Aulia terkekeh.
Ketiga wanita beda generasi itu, tapi hanya Ara di sini yang beda umurnya dengan kedua wanita dewasa yang masih terlihat sama-sama cantik, akhirnya mengobrol banyak hal, dan di sini yang paling antusias adalah Aulia.
Entah kenapa Aulia sangat menyukai Ara, kesan pertama bertemu dengan Ara memang membuatnya sangat terharu dan merasa berhutang budi pada gadis cantik tersebut.
Revan merasa jengah karena sedari tadi tidak di anggap oleh mereka.
"Bunda, udah sore, nanti Ayah keburu pulang, dan bunda tidak ada di rumah, bisa di pastikan kalau Bunda bakal di hukum tidak boleh keluar kamar semalaman!" seru Revan membuat ketiga wanita itu langsung menoleh.
"Kenapa tidak boleh keluar kamar semalaman? tante Lia di kurung? kok serem!" cicit Ara membayangkan hal lain. Sedikit merasa ngeri karena hukumannya di kurung. Kan kasihan.
Aulia langsung melotot pada putra sulungnya itu. Ternyata selama ini Revan memperhatikan kalau Ayah dan bundanya tidak keluar kamar semalaman dan masih menganggap kalau itu adalah sebuah hukuman dari Sandi.
Dulu waktu Revan masih kecil dan menanyakan hal itu, Sandi hanya menjawab karena Ayah sedang menghukum Bunda dan tidak boleh keluar kamar karena masih dalam masa hukuman.
Tetapi tentu saja sekarang Revan sudah mengerti hukuman apa itu, putranya kini sudah remaja dan dalam masa puber, mempunyai hasrat kepada lawan jenisnya dan semua itu adalah hal yang normal. Aulia tentu paham.
__ADS_1
"Tapi aneh gitu, Ra, masa gue denger suara-suara dari balik pintu, lebih tepatnya suara Bunda, sih," Fitria sudah menutup mulutnya menahan tawa. Tentu saja dia paham dengan apa yang di ceritakan oleh Revan.
"Tante, gak apa-apa kan, kalau di hukum seperti itu?" tanya Ara polos, menatap Aulia khawatir.
"Bunda malah suka Ra, kalau di hukum Ayah," Aulia sudah tidak tahan dengan ocehan putranya itu yang lama-lama bisa membuka kartunya.
"Abang, ayo pulang! Ara, Fitria, kami pamit dulu, ya?" Aulia beranjak dan menghampiri Revan yang duduk di sebrang.
"Abang kan belajarnya belum selesai, Bund, iya kan, Ra?" Aulia menatap Ara untuk mencari jawaban.
"Tinggal satu mata pelajaran lagi, tante," jawab Aulia tersenyum canggung.
Aulia tersenyum dan mendekati Ara, memegang dagu gadis itu yang saat ini tengah memandang Aulia dengan tatapan bingung.
"Besok tante mau kamu ke rumah, tante mau kasih sesuatu buat kamu, biar Revan yang jemput, ya?" ucap Aulia.
Ara menoleh kepada tantenya seakan meminta izin lewat tatapan matanya.
"Tuh, kan boleh.. ya udah tante pamit dulu. Fitri, lain kali kamu sekeluarga aku undang untuk makan malam di rumah kami," ucap Aulia dan di angguki oleh Fitria.
"Assalamualaikum," seru Aulia.
"Wa'alaikumsalan," jawab mereka serempak.
Setelah itu Aulia pulang bersama sopir pribadinya yang sudah menunggu di dalam mobil.
***
"Ra, kok lo bisa kenal sama Bunda?" tanya Revan menatap lurus ke wajah Ara.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, Van, waktu itu gue hanya menolong tante Aulia dari pencopet yang udah bawa kabur tasnya, dan untuk saja pencopet itu langsung bisa gue kejar dan gue kasih sedikit pelajaran biar jera," jawab Ara menyendok bakso dan di masukan ke dalam mulutnya.
"Gimana gue gak semakin kagum sama elo, Ra? apalagi ternyata Bunda gue juga udah kenal sama elo, apa kita masih bisa...!"
"Van, nambah donk baksonya, tapi yang kecil aja, ya?" sela Ara ketika Revan sudah bicara ke hal yang menjurus dengan perasaan.
Revan mendesah kasar, dia pun bangkit dan memanggil tukang bakso untuk menambah satu porsi lagi.
Ara berbinar kala satu mangkuk bakso kecil sudah tersaji di hadapannya. "Makasih," ucap Ara.
Revan duduk di sebrang Ara dengan tangan di lipat di depan dada. Rasanya seperti sudah tidak tahan untuk terus berdiam tanpa mengungkapkan perasaan cinta pada Ara. Padahal selama dua Minggu ini Revan benar-benar menahan dirinya untuk tidak mengatakan kata-kata cintanya.
"Ra, gue tahu elo gak suka kalau gue bilang cinta sama elo, tapi gue gak tahan, Ra. Meskipun elo masih belum menyambut perasaan gue, tapi gue gak bakal lelah buat ungkapin terus kata-kata ini sampai lo bosan, tapi mudah-mudahan lo gak akan pernah bosan, Ra."
Ara menatap Revan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Gue cinta sama elo Ara Anastasia, cinta gue hanya buat elo, hati gue udah sepenuhnya milik elo!"
"Angel? segampang itu lo lupain cinta lo ke dia?" Revan mengusap wajahnya kasar. Selalu saja Ara berucap seperti itu ketika dia dengan tulus menyatakan perasaannya.
"Lo udah tau jawabannya, kan? Gue gak cinta sama dia, gue cuma terobsesi, please Ra, gak usah ngomongin dia lagi, saat ini prioritas gue hanya elo," ucap Revan sendu.
Kenapa Ara sama sekali tidak bisa mengerti perasaannya? Revan tahu kalau dia sudah sangat menyakiti Ara, tapi apakah dia tidak bisa mendapatkan kesempatan?
"Gue mau tanya elo, tapi harus jawab jujur!" ucap Revan menatap manik hitam Ara.
"Apa cinta lo ke gue udah hilang, Ra?"
Bersambung.
__ADS_1
Gimana kelanjutannya?
tunggu next episode ya 😁