Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Perkara Pil KB


__ADS_3

Happy Reading


Ara dan Sifa saling berpandangan, mereka sangat terkejut saat mendengar Romi yang mengatakan tidak tahu apa-apa tentang masalah pil KB itu.


Sifa menatap Romi kembali dan menarik napas dalam-dalam, benarkah Romi tidak ingat saat ia memberikan nya pil pencegah kehamilan.


"Apa kamu ingat, selalu memberiku sebuah pil putih kecil-kecil dan mengatakan bahwa aku harus meminumnya setiap hari, kamu mengatakan bahwa itu vitamin, dan saat itu aku belum tahu apa-apa tentang alat kontrasepsi ada yang berbentuk pil seperti itu, aku percaya padamu begitu saja, nyatanya aku tidak kunjung hamil sampai setelah aku meminta cerai darimu, Mas!"


Jeder!!


Romi sangat terkejut mendengar hal itu, dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pil KB yang ia berikan kepada Sifa.


"Ti,, tidak mungkin!!" Romi menggeleng cepat, menahan segala rasa yang tiba-tiba membuat hatinya sakit.


"Tapi itulah kenyataannya, Mas, kamu tidak menginginkan anak dariku!" ucap Sifa menahan emosi dan kecewa.


Romi tidak mau melihat wajah Sifa, ia hanya bisa menunduk.


"Vitamin itu, sebenarnya bukan aku yang membelinya,"


"Memangnya siapa?" tanya Ara.


Sifa terlihat menautkan jemarinya, menahan segala gejolak rasa yang berkecamuk di hatinya saat ini.


"Obat itu yang memberikan..." Romi menjeda ucapannya, rasanya begitu sulit untuk mengatakan siapa orang yang telah memberikan pil itu.


"Apakah ibu?" tanya Sifa akhirnya.


Romi memejamkan matanya ketika mendengar pertanyaan dari mantan istrinya itu.


Tapi beberapa detik kemudian dia mengangguk pasrah. Memang ibunya lah yang memberikan pil itu pada Romi.

__ADS_1


Setetes air mata mengalir di pipi Sifa, jadi selama ini dia telah salah sangka. Mengira Romi yang memang sengaja memberikan pil KB itu. Saat mengetahui bahwa pil yang selama ini ia konsumsi adalah pil pencegah kehamilan, rencana Sifa untuk meminta cerai dari Romi semakin menggebu.


Pikiran buruk tentang suaminya semakin menjadi dengan merangkai semua peristiwa yang Sifa tahu dan meminta cerai bukan lah keputusan gegabah kala itu.


Sifa sudah memikirkan matang-matang keputusan nya yang ternyata semua itu tetap salah.


Tiba-tiba Romi menarik tangan Sifa dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Eehh, mau kemana!" seru Ara mengejar kedua orang itu.


"Kamu harus ikut aku, Fa, kita selesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya! Aku tidak akan diam kali ini, aku gak mau hanya karena salah paham tapi bisa membuatku benar-benar terpuruk!" ucap Romi masih menarik tangan Sifa.


"Memangnya kit mau kemana, Mas?" tanya Sifa yang menurut saja saat Romi membawanya pergi.


"Kita akan menemui Ibu dan bertanya pada nya apa alasannya memberi kamu pil itu??" jawab Romi menekan tombol lift.


Ara tidak mengejar Romi dan Sifa, ia memilih untuk membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah yang belum kelar itu.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi mudah-mudahan malam ini masalah mereka bisa usai dan semuanya jelas, siapa yang salah dan siapa yang akan merasa bersalah. Karena di dalam setiap hubungan memang komunikasi lebih banyak itu sangat penting," jawab Ara.


Revan mencium pipi istrinya gemas, Ara sekarang benar-benar menjadi wanita yang pandai. Pandai mengambil hatinya, terutama.


"Kita pulang yukk, bikin dedek," bisik Revan yang mendapatkan cubitan pedas di perutnya.


"Malu ah, kenapa ngomong nya fulgar seperti itu!" Ara melotot sambil berkacak pinggang.


"Yah, gak apa-apa, kan? Kita juga emang sedang program kehamilan, udah setahun kita nunda hamil, ntar keduluan Kai dan Vero, loh!" Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Memang selama ini Ara dan Revan menunda untuk memilik momongan, tapi setelah satu tahun, sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin segera menggendong seorang bayi mungil yang menggemaskan.


###

__ADS_1


Romi mengetuk pintu bercat coklat itu sedikit keras. Seorang asisten rumah tangga membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang.


"Ibu ada mbok?" tanya Romi.


"Ada den, di dalam, mari silahkan masuk!" Romi dan Sifa masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan ibunya untuk bertanya masalah pil KB itu.


Assalamualaikum, bu?" sapa Romi yang melihat ibunya akan masuk ke dalam kamar.


Mungkin Ibu sudah akan tidur, karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Waalaikumsalam, Romi, Sifa?" Ibu nampak terkejut melihat kehadiran mantan menantunya itu.


Sifa yang melihat ibu tersenyum paksa, dia pun menarik ujung baju Romi ingin memberitahu kalau ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan masalah pil itu kepada ibu.


"Romi, ajak Sifa duduk dulu, maaf Ayah sudah tidur, ayo Sifa," ibu Romi mengajak Sifa dan Romi menuju ruang keluarga.


Dengan senyum manisnya Ibu Dahlia membawa Sifa duduk di sofa. "Bagaimana kabarmu, nak? Kenapa tidak pernah menghubungi ibu? Setelah kalian bercerai, ibu selalu merindukanmu, Sifa?" ucap Ibu Dahlia dengan mata yang berbinar.


Sifa bisa melihat pancaran kerinduan dari dalam mata ibunya Romi itu.


"Alhamdulillah, baik bu," jawab Sifa sopan.


Dari dulu sampai sekarang ibu Dahlia selalu memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan terlihat sangat menyayangi. Dan hal itu membuat Sifa merasa bahwa mertuanya itu memang menyayanginya dengan sangat tulus.


Romi yang melihat interaksi kedua wanita yang sangat berharga di hidupnya benar-benar merasa tidak mengerti sama sekali.


Ibunya memang sangat menyayangi Sifa, tetapi kenapa ibu memberikan pil KB pada Sifa?


Bersambung.


Jangan lupa mampir di karya othor yang baru ya, judulnya : My Ex Wife

__ADS_1



__ADS_2