Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Akhir Liburan


__ADS_3

Happy Reading 😊


Dua hari berlalu, kegiatan Ara, Revan dan teman-teman di Jogja menjadi terhambat karena kejadian Sifa yang terkena gigitan ular di tangannya.


Adam dan Fitria juga sudah di beri tahu dan langsung terbang ke Jogja keesokan harinya. Rencana mau ke puncak di Kaliurang juga tinggal rencana, semuanya menjadi kacau karena mereka tidak akan meninggalkan salah satu dari mereka karena memang niat ke Jogja untuk liburan bersama.


Meskipun Sifa sudah mengatakan pada semuanya kalau dia tidak perlu ikut, karena Sifa juga sudah sering liburan ke Jogja, tetapi hal itu justru membuat Romi tidak mau meninggalkan Sifa.


Alhasil kalau Romi tidak mau ikut, otomatis semuanya juga tidak akan jadi pergi. Dan akhirnya semuanya memutuskan untuk kembali ke Jakarta siang ini.


"Ra, kenapa lo gak ikut pulang ke Jakarta?" tanya Revan sambil menggenggam tangan Ara erat, seakan tidak mau melepaskannya.


Ingin sekali menarik tangan itu, tetapi percuma saja karena Revan menggenggamnya terlalu erat. Yang ada nanti tangan Ara akan sakit sendiri.


"Gue masih pengen ketemu sama Ayah dan Abang gue, lagian liburannya masih seminggu lagi, gue mau liburan di kota kelahiran gue, besok juga bakal balik lagi, Van!" jawab Ara.


Entah kenapa Revan merasa kalau keinginan Ara untuk tetap tinggal di Jogja seakan menjadikan sebuah perpisahan untuk mereka. Meskipun itu perpisahan yang sementara karena Ara akan kembali lagi ke Jakarta, tetapi Revan memiliki firasat lain.


"Tapi tetep gue gak rela kalau lo gak ikut balik bareng kita," Ara kali ini menarik tangannya yang sudah berkeringat dari genggaman tangan Revan.


"Udah deh, Van, gak usah lebay, nanti juga bakal ketemu lagi," ucap Ara menepuk bahu Ara.


"Boleh video call?"


"Telepon aja," jawab Ara.


"Kalau gue kangen, gue video call pokoknya!" Ara menggelengkan kepalanya.


"Gak boleh, biar kamu kangen!" Revan langsung melotot sempurna.


"Udah belum pamitannya!!" seru Gilang membuat Ara dan Revan langsung menoleh.


"Iya, udah kok, sana, ntar ketinggalan pesawat lagi!" ucap Ara.


"Gue balik dulu, jaga diri, jangan CLBK sama yang di masa lalu, jaga hati lo buat gue..!"


"Udah, stop Revan! kenapa sih gak nyerah aja,"

__ADS_1


"Gak akan, Ra, kalau gue belum dapetin hati lo kembali, hati lo cuma milik gue, karena lo duluan yang nawarin hati lo, jadi semuanya gak bisa di ambil lagi!" ucap Revan penuh penekanan.


Ara hanya diam saja, ternyata melepaskan perasaannya untuk Revan memang sangat sulit, meskipun rasa sakit yang dulu telah di perbuat oleh Revan sudah terhapus dengan segala perhatiannya dan kasih sayang dari Revan, tetapi untuk membuka hati lagi rasanya masih sulit.


Tidak, sebenarnya tidak sulit, tetapi Ara sendiri yang tidak menginginkan, keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa menjadi murid yang teladan dan sukses, apalagi bisa mendapatkan juara satu. Hal itulah yang di bangun oleh Ara untuk menjadi pembatas antara dirinya dan juga hati Revan.


"Sampai kapanpun lo akan terjerat cinta gue, gak akan pernah bisa lo terlepas setelah loh terkena jeratannya," bisik Revan disertai sebuah ciuman di pipi Ara.


Ara melotot sempurna dan langsung memegang pipinya yang mungkin sudah memerah.


###


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalan, eh Abang udah pulang? kok cepet? katanya liburannya seminggu?" tanya Aulia pada sang putra.


"Gak jadi, Bund. Liburan di rumah aja," jawab Revan menyalami tangan sang Bunda.


"Loh, kenapa?" tanya Aulia kembali, meneliti wajah putra sulungnya yang terlihat di tekuk sejak masuk ke dalam rumah.


"Sifa terkena musibah, akhirnya liburan gak jadi terlaksana, ya karena di sana kita tidak bisa melakukan apa-apa akhirnya kita berlima memutuskan untuk pulang lebih dulu," jawab Revan sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Ara masih pengen liburan di sana, juga pengen ketemu sama Ayah dan kakaknya," jawab Revan.


"Oh, ya gak apa-apa, toh nanti juga bakal kembali lagi ke Jakarta," ucap Aulia.


"Bund, kenapa perasaan Revan gak enak ya?" Aulia melihat wajah Revan intens. Terdapat kekhawatiran di dalam matanya.


"Gak enak gimana, bang?"


"Ya, gak tenang gitu rasanya, Abang merasa kalau Ara gak akan kembali ke Jakarta!"


Aulia menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari putranya itu.


"Kenapa Abang bisa berfikir seperti itu? sudahlah, pasti abang ini kecapekan karena perjalanan jauh, sekarang lebih baik mandi terus istirahat, sebelum waktunya Dzuhur, setelah itu kita makan siang bareng sama Raka dan Ayah," ucap Aulia menenangkan pikiran Revan.


"Memangnya Ayah nggak kerja, Bund?"

__ADS_1


"Ayah kerja, tapi nanti siang kembali karena ingin makan di rumah, nanti balik ke kantor lagi, kan Ayah tahu kalau Abang balik dari Jogja hari ini, rencananya nanti mau mengabari juga kalau Kaila sebentar lagi akan pulang ke Indonesia," Revan membulatkan matanya.


"Kaila akan balik ke Indonesia? wah, gak nyangka, ternyata si bungsu mau balik ke Negara asalnya, Abang kangen sama adek," ucap Revan tersenyum.


Sudah tiga tahun dia tidak bertemu dengan adiknya yang paling kecil, gadis cantik yang imut dan ngegemesin, hanya selisih satu setengah tahun dari Raka, karena waktu itu Aulia kesundulan. Maklum Sandi sudah nyolong start duluan sebelum Aulia sempat KB.


Kaila tinggal di Jerman bersama Opa dan Omanya yang tidak lain adalah orang tua Sandi. Kaila di Jerman sudah kelas SMP. Sama dengan Raka. Putri Sandi dan Aulia itu memiliki keceriaan seperti Abangnya, Revan.


"Ya udah, sana mandi dulu, Kaila masih besok pulangnya, katanya dia sudah lulus SMP dan mau meneruskan sekolah SMA di Indonesia," ucap Aulia.


"Bareng sama Raka donk, kan Raka juga sudah masuk SMA?" tiba-tiba Raka datang dari arah belakang.


"Iya," jawab Aulia tersenyum.


Raka mencebikan bibir nya. "Raka gak mau kalau harus satu sekolah sama Kaila," ucap Raka membuat Aulia dan Revan saling menoleh.


"Loh kenapa, Ka? bukannya lo seneng kalau Kaila balik ke Indonesia?" tanya Revan heran.


"Nanti kalau gue bareng sama Kaila satu sekolah, gue nggak bisa terkenal dong, bang! kan Kaila cantik, jadi bikin para cewek-cewek jadi minder deketin gue," jawab Raka dengan pedenya.


"Astaghfirullah!" Aulia menepuk jidatnya dia benar-benar tidak tahu kenapa putra keduanya itu sifatnya sangat berbeda.


Sedangkan Revan langsung menonyor kepala Raka dan langsung pergi meninggalkan adiknya dan Mamanya di ruang tamu.


###


Jogja 20.00 WIB.


"Ra, kowe mau ikut mase, gak?" tanya Aldo ketika dia bertemu dengan Ara di rumah Mbah Na.


"Ikut kemana, Mas? ke tempat Ayah?" tanya Ara penasaran.


"Bukan, kita nyusul Ibu di Jepang, beliau sakit, Ra," jawab Aldo.


"Apa Mas!! ibu sakit!!"


Bersambung.

__ADS_1


othor mau kopi deh, nanti up lagi ☕☕🥺


__ADS_2