Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Ada sesuatu dengan Gilang dan Nita


__ADS_3

Happy Reading 😊


"Gue udah sering di cium sama Abang gue, jadi gak tau kalau ini bisa di namakan first Kiss atau bukan, yang jelas kalau orang lain ya baru sama elo," jawab Ara membuat Revan manyun.


Sedangkan Ara sudah yang merasa malu karena telah takluk oleh pesona Revan memilih langsung berjalan meninggalkan Revan yang masih mencerna ucapan Ara.


'Masa Ara sering di cium sama Abangnya?' batin Revan merasa tidak suka dengan jawaban Ara.


'Mana ada Abang yang nyium adeknya di bibir? Kalau ada itu namanya brother kompleks, di mana seseorang yang suka sama saudara kandungnya,' Revan masih membatin.


Revan yang melihat Ara sudah berjalan langsung berlari mengejarnya. Masih dengan pikiran yang mengganjal di kepalanya, cowok itu benar-benar penasaran dengan ciuman yang di maksud Ara dengan kakak kandungnya.


"Ra, masa lo suka di cium sama Abang, lo?" tanya Revan masih penasaran.


Ara yang berjalan di depan Revan berhenti dan menoleh ke belakang. Padahal sebenarnya dia berusaha jaga image setelah tadi tidak menolak ciuman dari Revan. Ara benar-benar masih merasa malu. Apalagi bibirnya yang masih bengkak akibat hisapan panjang dari Revan berhasil membuat dadanya berdegup kencang.


"Ra, please, cerita ke gue donk! kalau lo dulu ciuman sama cowok lain gue gak masalah, tapi masa ini lo di cium sana Abang lo sendiri?" tanya Revan dengan bayangan yang sudah kemana-mana.


Bisa jadi gawat kalau dia punya calon ipar yang posesif pada adiknya sendiri.


"Lo kenapa sih, Van? tanya terus! emang gak boleh gitu kalau Abang cium adeknya sendiri?"


"Ya bukan gitu maksudnya, ya masa lo sama Abang lo cium-ciuman gitu," tanya Revan sambil memperagakan tangan yang saling di tautkan seperti gerakan orang sedang berciuman bibir dan bibir.


Ara menghela napas, rasa malu dan tersipu sudah menguar gara-gara sikap Revan yang kekanakan. Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh cowok ini? bisa langsung percaya ucapan Ara begitu saja, padahal itu semua sudah di pastikan tidak akan terjadi. Ara sudah remaja, dan tidak mungkin dia mau di cium oleh Kakaknya di bibir.

__ADS_1


"Ya, gak lah, Abang cuma nyium di kening, pikiran lo tuh ngeres banget! gue di cium bibir cuma sama elo! udah gue mau balik!" jawab Ara jujur. Sebenarnya tadi dia hanya menjawab asal, tapi ternyata berhasil membuat cowok jangkung itu penasaran setengah mati.


Revan akhirnya merasa lega ketika mendapat kan jawaban yang mengganjal di hatinya sejak tadi. Sebuah senyuman terbit di wajahnya.


"Ya, yang bikin gue berpikir ngeres itu kan lo sendiri, Ra!" gumam Revan yang pasti tidak di dengar oleh Ara, karena gadis itu sudah berjalan jauh meninggalkan Revan.


Di sisi lain.


Gilang menatap Nita yang sejak tadi mendiamkannya, apakah ada yang salah dengan ucapannya? sehingga membuat cewek cerewet itu berhasil diam.


"Sini, gue bawain!" ucap Gilang mengambil ember yang berisi pakaian yang sudah di cuci dari tangan Nita.


"Gak usah, gue bisa bawa sendiri, mending lo balik lagi, sana!" Gilang hanya bisa menghela napas. Sikap Nita menjadi seperti ini ketika cewek itu mengungkapkan perasaannya tadi pada saat di jalan menuju ke kali.


Gilang bukan cowok yang suka di diamkan seperti ini, apalagi setelah mengetahui kalau ternyata Nita menyukainya, membuat cowok itu menjadi semakin merasa tidak enak hati.


Gilang yang tidak suka dengan sikap Nita akhirnya merebut ember itu dari tangan Nita dan berhasil, tapi karena sentakan yang kuat membuat Nita oleng dan hampir terjatuh.


"Aaaakkk!" Nita berteriak saat tubuhnya hampir mencapai air kali, tapi tiba-tiba tubuhnya berasa tertarik dan langsung terjatuh menabrak dada Gilang.


"Gue minta maaf kalau gue ada salah sama lo. Nit," bisik Gilang setelah Nita berada di pelukannya.


###


Siang harinya, setelah pulang dari kali tadi, Nita dan Gilang menjadi lebih pendiam. Biasanya Nita yang selalu banyak bicara, dia menjadi manusia yang irit bicara. Begitupun dengan Gilang.

__ADS_1


Sebenarnya Ara juga merasa ada yang aneh dengan sikap keduanya. Tapi masih menganggap itu hal yang wajar.


Yang tidak wajar adalah sikap Revan yang sejak tadi selalu menempel dan sering senyum-senyum sendiri tidak jelas. Terkadang Revan juga berusaha menggoda Ara, tetapi di abaikan oleh cewek itu.


Ara berharap tidak ada yang tahu dengan kejadian tadi di sawah antara dirinya dan Revan.


"Nduk, ada pesan dari Ayahmu, dia tahu kalau kamu ke Jogja, dia berpesan kalau kamu di suruh mampir ke rumahnya di Kaliurang, tadi Mas Aldo yang kasih tau Simbah, Mas-mu telepon, katanya kangen, tapi dia belum sempat ke sini," ucap Mbah Na.


Sebenarnya mbah Na ini masih terlihat belum terlalu tua, biasanya para warga di desa memanggil nya Bu Ana.


"Kenapa Mas Al gak kasih tau Ara sendiri, Mbah? padahal dia punya nomernya Ara, ugh!! jadi pengen tak tarik tuh rambut jabriknya!!" jawab Ara kesal dengan Kakaknya yang tidak langsung menghubunginya. Padahal Ara sudah memberitahu Aldo kalau mau liburan ke Jogja, tetapi Kakaknya itu hanya mengatakan kalau sedang tidak berada di kota itu.


"Katanya ndak kangen sama kamu, nduk, soalnya sekarang dia masih sibuk, belum bisa langsung jemput kamu," jawab Mbah Na.


"Katanya sedang di Semarang, Mbah?"


"Sudah pulang tadi malam," Ara hanya mengangguk. Jujur dia juga sudah merindukan kakaknya itu.


Revan hanya mendengarkan obrolan kedua wanita beda generasi itu, sebenarnya Revan juga penasaran dengan kakaknya Ara yang ia dengar namanya adalah Aldo.


'Jadi nama Abangan Ara, Aldo ya?'


Saat Revan masih berpikir tentang Aldo, tiba-tiba dari arah depan di kejutkan oleh suara Sifa yang berteriak.


"Kak Ara! Semuanya tolong!!"

__ADS_1


Bersambung.


Maaf Baru bisa update 🙏🙏🥺


__ADS_2