Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Bertemu Kembali


__ADS_3

Happy Reading 😊


Ara turun ke lantai satu rumahnya dan melihat seorang pria berwajah oriental, bermata sipit dengan rambut yang jabrik duduk di sofa sambil bermain ponsel.


Perawakannya tinggi besar, mungkin masih tinggi pria ini jika di bandingkan dengan Revan.


"Pagi Ryuzu," pria bernama Ryuzu itu langsung mendongak dan tersenyum menatap gadis yang berdiri di depannya dengan memakai dress putih tulang bertaburan bunga di bagian bawahnya.


"Pagi Ara, hmm,, pagi ini kamu sangat cantik," Ara terkekeh mendengar pujian dari sahabat baiknya itu.


"Maaf, lama," Ara nyengir memperlihatkan giginya yang putih.


"Iya, tidak apa-apa, aku bisa mengerti, apakah kamu sudah siap?" Ara mengangguk.


"Ayo," ucap Ara mengajak cowok asli Jepang itu keluar dari dalam rumah setelah berpamitan kenapa Aldo sang kakak.


"Ara, bagaimana rencana mu untuk penelitian ke kota Hokkaido lusa?" tanya Ryuzu.


"Sepertinya akan ku tunda, besok lusa pacarku akan mengunjungi ku ke Jepang, jadi aku akan mengundur sampai pacarku pulang ke Indonesia," jawab Ara dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Deg, jantung Ryu terasa berdegup kencang. Pria itu merasa tidak suka dengan jawaban Ara. Sudah lama dia menyukai gadis itu, bahkan sejak mereka masih kuliah dan kebetulan di jurusan yang sama. Ryuzu sudah memiliki perasaan terhadap Ara.


Tetapi sayangnya, Ara mengatakan bahwa dia sudah memiliki seseorang di dalam hidupnya. Ryu tau kalau dia tidak bisa memaksakan perasaannya terhadap gadis itu.


Pria itu hanya bisa memendam rasa cinta yang semakin besar dan dalam.


"Ryu, bagaimana denganmu? Meiko juga akan ikut, aku sudah mengatakan padanya bahwa jadwalku akan ku undur, sebaiknya kalian berdua berangkat bersama," ucap Ara membuyarkan lamunan Ryuzu.


Meiko adalah sahabat mereka yang menyukai Ryuzu tetapi Ryu tidak menyukainya. Padahal Ara sudah sering menjodohkan mereka.


"Tidak, aku juga akan mengundur jadwalku, aku akan menunggumu, Ra," jawab Ryuzu tanpa menoleh.


Membuat Ara yang berada di sampingnya mengarahkan pandangannya pada sahabatnya itu.


Mereka berdua sedang berada di dalam mobil menuju rumah doktor Yamazaki untuk mengadakan pesta dadakan menyambut kelulusan Ara dan kawan-kawan.


Doktor Yamazaki adalah salah satu dosen pembimbing mereka. Beliau memiliki sudut pandang yang luas dan selalu memberikan motivasi dan arahan kepada mahasiswanya.


"Kenapa kamu mengundurkan jadwal? kamu ada acara, Ryu?" Pria itu melirik Ara sekilas kemudian fokus kembali lagi ke depan, melihat jalanan yang nampak basah akibat guyuran hujan semalam yang baru reda subuh tadi.


"Aku ingin kita ke Hokkaido bersama, aku takut kamu tidak akan berani ke sana sendirian," jawab Ryuzu membuat Ara melayangkan pukulan ke bahu kiri cowok tersebut.


"Oh, ayolah, aku bukan Ara yang dulu, sekarang aku sudah tidak takut pergi jauh sendirian," jawab Ara manyun.

__ADS_1


Ryuzu menoleh sekilas dan mengacak rambut Ara gemas. Gadis itu selalu bisa membuatnya tertawa lepas hanya dengan mimik wajahnya yang terlihat lucu seperti ini.


"Ryu! jangan membuat rambut ku berantakan!!"


"Maaf, aku memang sengaja!" Pria itu terkekeh.


Ara yang tidak terima dengan sahabatnya itu langsung membalasnya. Dengan sedikit kekuatan dia mulai membuat rambut Ryuzu berantakan.


"Hahahaha, lihatlah rambutmu sudah seperti sarang burung saja!" seru Ara menertawakan sahabatnya itu.


Inilah yang di sukai oleh Ryuzu, sikap Ara yang tidak pernah jaga image dan di buat-buat seolah-olah mereka wanita baik-baik. Ya, meskipun di Jepang para wanita selalu bersikap sopan dan sangat menjada aturan, tetapi terkadang mereka hanya menggunakan hal itu untuk menjadikan topeng agar nama baik mereka terjaga dan perilaku yang plus akan membuat di mata pria semakin menarik.


"Apakah kamu nanti akan memperkenalkan pacarmu padaku?" tanya Ryuzu.


"Tentu saja, dia adalah pria yang baik, Revan pasti akan senang berkenalan dengan sahabat terbaik ku ini," Ryuzu mengepalkan kedua tangannya.


Sungguh rasanya ingin sekali dia mengatakan pada Ara bahwa selama ini Ryuzu memiliki perasaan terhadapnya. Perasaan yang di namakan cinta.


###


Munich, Jerman.


Revan membaca beberapa laporan yang sudah di persiapkan sekretarisnya di meja kerja.


"Jangan terlalu serius, tuan Revan, kenapa anda terburu-buru sekali?" ucap seorang wanita cantik yang terlihat sedikit dewasa.


"Bukankah jadwal anda ke Jakarta Minggu depan, tuan?" tanya sekretaris Revan bingung.


Cowok tampan dengan wajah tampan khas Indonesia itu mendongak menatap wajah sekretaris yang juga sahabatnya itu.


"Aku akan ke Jepang lusa, dan ku gunakan waktu beberapa hari di Jepang sebelum ke Indonesia, jadi atur ulang jadwalku," perintah Revan.


"Baik, tuan, akan saya laksanakan," jawab Jovinka membungkuk kan kepalanya kemudian mendongak lagi.


Jovinka menatap Revan dengan tatapan yang sulit di artikan


Seharusnya Revan memang di jadwalkan ke Indonesia Minggu depan, tetapi dia akan menyelesaikan pekerjaannya sekarang juga agar ia bisa memiliki kesempatan ke Tokyo sebelum ke Indonesia.


"Ehmm, apakah kamu akan menemui gadis itu, Van?" tanya Jovinka kali ini tidak formal.


"Iya, aku sudah sangat lama menantikan hari esok, bantu aku, ya? kamu kan sahabat ku, handle semuanya yang ada di sini selama aku pergi," ucap Revan kali ini menatap ke arah Jovinka.


"Hemm, baiklah, apapun untukmu, Revan!"

__ADS_1


"Terima kasih, Jo! kamu memang yang terbaik!" wanita itu hanya tersenyum simpul selalu mendapatkan pujian itu dari Revan.


"Ara, tunggu aku, sayang."


###


Resah dan gelisah itulah yang di rasakan oleh Ara saat ini. Sambil membawa kertas besar yang bertuliskan 'Welcome Revanku' dia sudah berdiri selama tiga puluh menit di bandara.


Ara meremas kertas itu ketika melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Revan berjalan dengan gaya coolnya sambil menarik sebuah koper kecil.


Senyum mengembang juga tidak pernah lepas dari wajah Revan, yang sejak tadi melihat Ara yang sedang menunggunya.


Revan bisa melihat perubahan pada kekasihnya itu. Semakin bertambah dewasa dan cantik. Tubuhnya juga semakin terawat. Dengan rambut yang masih lurus panjang dan juga kakinya yang terlihat semakin tinggi.


Entah karena pertumbuhannya atau karena saat ini Ara sedang memakai hils yang tinggi, yang jelas setelah 6 tahun tidak bertemu membuat Revan benar-benar ingin segera memeluk Ara seharian dan tidak ingin melepaskannya.


"Assalamualaikum," ucap Revan dengan senyuman yang lebar.


"Wa'alaikumsalan," jawab Ara juga tersenyum.


Pandangan mata mereka saling menyiratkan tentang kerinduan yang mendalam. Selama beberapa detik mata mereka masih saling terkunci, dunia seakan hanya milik mereka berdua. Waktu seakan berhenti untuk sementara.


"Kok cuma diam?" tanya Revan.


Ara masih merasa canggung setelah perpisahan yang sangat lama itu. Tentu saja dia masih malu setelah sekian lama tidak bertemu.


"Ehmmm,, selamat datang, aku kangen!" ucap Ara malu-malu.


Revan merasa sudah tidak tahan lagi dengan keadaan yang begitu canggung ini. Diapun segera menarik kekasihnya itu dan langsung memeluknya erat.


"Aku kangen banget sama kamu, yank!" ucap Revan menekan kepala Ara yang berada di dada bidangnya. Ara membalas pelukan itu juga tidak kalah erat.


Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ternyata setelah sekian lama tidak bertemu tubuh Revan semakin nampak berisi. Dengan dada yang bidang dan lengan yang kekar, Ara seperti anak kecil yang tenggelam di dalam tubuh Revan saat mereka berpelukan seperti ini.


"Eghem-eghem!!" sebuah deheman keras membuyarkan nostalgia mereka.


Revan melihat sosok pria di belakang Ara yang menatap mereka dengan tatapan maut.


"Eh, Revan, kenalin, ini mas Aldo,"


Revan langsung melepaskan pelukannya dari Ara dan tersenyum canggung.


"Revan, Mas!" ujar Revan saat menyodorkan tangannya pada Aldo.

__ADS_1


Aldo hanya menatap tangan Revan yang menggantung di udara.


Bersambung.


__ADS_2