
Happy Reading 😊
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah dua hari Revan dan Ara menjadi suami istri, dan sampai saat ini mereka belum pernah tidur bersama.
Ara masih setia menemani Ayahnya di rumah sakit dan Revan selalu setia di samping sang istri. Hari ini adalah hari ke tiga mereka menjalani kehidupan rumah tangga di atas normal. Tetapi mungkin ini akan menjadi hari terakhir mereka menginap di rumah sakit, karena tepat jam 7 pagi ini Ayah Ara telah di panggil oleh yang maha kuasa.
Tepat dua Minggu Ayah di rawat karena penyakitnya dan akhirnya beliau tidak kuat dan tidak bisa bertahan.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!"
"Ayah!!" Ara memeluk jenazah sang Ayah yang sudah terbujur kaku itu.
Rasanya sungguh tidak percaya bahwa di usianya yang belum genap dua puluh lima tahun dia sudah menjadi yatim piatu.
"Allah lebih sayang kepada Ayah, kita harus mengikhlaskan kepergiannya, sayang," bisik Revan. Pria itu selalu memberi dukungan terhadap istrinya.
Revan bisa merasakan bagaimana kesedihan yang menimpa sang istri kala menemaninya menjaga Ayah. Terlihat penyesalan dan kesedihan yang mendalam di wajah Ara.
Sedangkan Revan sendiri lebih memilih cuti lama dari pekerjaannya agar bisa fokus dengan istri dan Ayah mertuanya.
Untung saja dia adalah pemilik perusahaan itu dan masih di percayakan oleh Martin sang asisten. Ya, Revan tetap akan memimpin perusahaan yang ada di Jerman karena memang itu sudah di berikan oleh sang kakek kepadanya.
Revan akan menghadapi apapun yang akan menjadi penghalang di kehidupannya, melangkah bersama istrinya tanpa harus takut terjadi sesuatu yang akan membuat rumah tangga mereka goyah.
Karena Revan yakin kekuatan cinta nya dan Ara akan selalu kuat walau di terpa badai.
###
Kabar duka masih menyelimuti keluarga Ara dan Aldo. Banyak kerabat yang melayat meskipun jenazah sudah di makamkan satu jam yang lalu. Ucapan bela sungkawa datang silih berganti.
Ara hanya termenung dengan tatapan kosong, entah kenapa dia sekarang merasa menyesal karena dulu pernah membenci ayahnya saat sang ayah menceraikan ibunya.
Ternyata semua masalah rumah tangga yang tidak bisa di selesaikan dengan damai dan mungkin hanya perpisahan jalan satu-satunya yang di lakukan oleh kedua orang tuanya. Dulu Ara baru mengerti akan hal itu.
__ADS_1
Tetapi setelah Ara mendapatkan cerita sedikit demi sedikit tentang masalah kedua orang tuanya, Ara menjadi paham bahwa perpisahan adalah jalan yang memang harus di tempuh karena kalau tidak pasti akan menyakiti hati masing-masing.
"Sayang, makan dulu, ya? kamu belum makan sejak pagi," Revan menyodorkan semangkuk bubur ayam yang di buatkan oleh Sifa.
Ya, Sifa datang dari Jakarta bersama kedua orang tuanya. "Aku belum lapar, nanti saja," jawab Ara.
Terdengar suara ketukan di pintu. Revan dan Ara menoleh dan melihat Sifa masuk ke dalam kamar dengan senyum manis di bibirnya.
"Kak, ayo donk di makan, nanti keburu dingin, kak Ara nanti sakit, loh kalau gak mau makan," ucap Sifa menasihati.
Ara tersenyum dan memeluk adik sepupunya itu.
"Sifa, apa kabar? Apa kamu baik-baik saja? Kakak mendengar kabar bahwa kamu dan Romi bercerai?" tanya Ara.
Sifa melepaskan pelukannya. Merasa sedikit sakit dan nyeri di hati kala mendengar kata perceraian.
"Iya, kak. Kami memutuskan bercerai," jawab Sifa tersenyum.
"Loh, memangnya kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?"
Senyum yang sedikit di paksakan terlihat jelas di wajah Sifa.
"Sabar ya, sayang. Pasti di balik semua ini ada hikmah yang besar, udah deh, jangan sedih," ucap Ara menenangkan Sifa.
"Iya, kak,, kakak juga harus kuat dan sabar, sekarang kan kakak udah gak sendirian, ada kak Revan yang menjaga kak Ara sekarang, jadi mulai sekarang kalian harus memulai kehidupan yang baru, ini bukan akhir dari perjalanan cinta kalian, tapi sebuah awal dari kisah perjuangan rumah tangga, kalian harus bisa menjaga bahtera rumah tangga, jangan seperti Sifa, yang ada nanti hanya penyesalan," ucap Sifa.
Revan dan Ara saling memandang, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya di alami Romi dan Sifa dalam pernikahan mereka yang baru berusia 2 tahun. Yang pasti semua itu mungkin pilihan yang terbaik untuk Romi dan Sifa.
###
Seminggu kemudian.
Munich, Jerman.
__ADS_1
Ara masuk ke dalam kamar dan menatap sekeliling. Kamar yang selama 6 tahun di tempati oleh Revan ini sangat khas dengan aroma lelaki.
Bersih, rapi dan harum aroma maskulin adalah kesan pertama yang di rasakan oleh Ara.
"Istirahat dulu, nanti setelah itu kita makan malam, ada asisten yang sudah menyiapkan," ucap Revan menyentuh pundak Ara, membuat Ara reflek menoleh.
"Kamarmu lumayan besar, kasurnya juga besar, muat untuk 4 orang, apa kamu sering mengajak teman menginap?" tanya Ara.
Revan tertawa kecil, kenapa pikiran istrinya itu selalu saja curiga. Apalagi setelah Ara ikut ke Jerman dan melihat banyak wanita bule cantik yang tersenyum menggoda ke arah Revan.
Revan memeluk Ara dari belakang, menghirup aroma sampo pada rambut istrinya itu.
"Kamarku ini adalah wilayah pribadi, tidak ada yang boleh masuk ke dalam sini, aku paling tidak suka kalau area pribadiku di lihat oleh orang lain kecuali Martha asisten pribadi ku, jadi jangan berpikir macam-macam donk, sayang?"
"Maaf, entah kenapa aku sekarang menjadi sedikit posesif, maafkan aku," ucap Ara menunduk.
Revan membalikkan tubuh Ara dan menatap wajah sang istri. "Kenapa minta maaf? aku malah suka dengan sikap mu yang seperti ini, sikap posesif seorang Ara itu langka, jadi jangan merasa bersalah," ucap Revan.
Wajahnya menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ara. "Ara Anastasia, aku sangat mencintaimu, aku bersyukur bisa memiliki mu, mulai saat ini kita akan mulai hidup baru kita di sini, aku yakin kita akan bisa melangkah bersama mengarungi bahtera rumah tangga ini penuh cinta, aku akan menjadi nahkoda untuk membimbing mu mencapai dermaga cinta, kamu adalah segalanya untukku," ucap Revan sangat dekat, bahkan Ara bisa merasakan hangatnya napas Revan menyapu bibir dan hidungnya.
"Iya, aku siap menjalani kehidupan rumah tangga ini, bimbing aku, suamiku," jawab Ara tersenyum.
Revan memajukan wajahnya mencium bibir Ara. Memagut dan saling menautkan lidah, menyecapi rasa manis pada bibir masing-masing.
Revan mendorong Ara ke arah ranjang tanpa melepaskan tautannya. Merebahkan tubuh mungil itu dan mengukung di atas tubuh Ara masih saling berciuman.
Ciuman itu semakin menuntut dan panas, Revan merasakan sesuatu yang mendesak ingin di puaskan.
"Malam ini, bolehkan aku meminta hakku?" tanya Revan.
Ara tersenyum dan mengangguk membuat Revan bahagia. Selama menikah Revan memang belum berani meminta hak karena masih dalam masa berkabung. Tapi saat ini dia sudah tidak tahan untuk bisa menyatukan dirinya di dalam tubuh istrinya.
Bersambung.
__ADS_1
Di skip apa gak nih malam pertama nya??😁😁