Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Liburan Yang Kacau


__ADS_3

Happy Reading ๐Ÿ˜Š


Hari menjelang siang di kediaman rumah Bu Ana atau Mbah Na, setelah semuanya baru saja melakukan sholat Dzuhur dan makan siang dengan menu favorit khas kota Jogja yaitu gudeg dengan lauk telur areh dan sayur krecek sapi yang di masak pedas, Sifa memutuskan pergi ke belakang rumah untuk mengambil pakaian di jemuran yang sepertinya sudah kering.


Maklum, cuaca di Jogja memang sedang panas-panasnya. Sifa berjalan ke arah belakang rumah lewat pintu samping agar lebih dekat.


Halaman belakang simbahnya itu memang lumayan luas tapi langsung menghadap ke kebun dan semakin ke dalam nanti akan bertemu dengan aliran sungai yang cukup curam jalannya.


Pada saat Sifa akan mengangkat jemuran yang sudah di cuci oleh Nita pagi tadi, tiba-tiba ada seekor ular melilit di salah satu tali yang di pakai untuk menjemur. Sifa sempat terkena patokan ular itu karena awalnya dia tidak tahu kalau tali itu sudah di kuasai oleh ular hijau yang bisa-nya terkenal bahaya.


"Kak Ara! Semuanya tolong!!" Sifa berteriak sambil menahan sakit karena tangannya sudah tergigit ular beracun tersebut.


"SIFA!!" Romi yang pertama mendengar suara teriakan Sifa berlari ke arah halaman rumah belakang dan langsung memegang tangannya yang di patok ular dan menekan bagian yang tidak terkena gigitan agar bisa-nya tidak menyebar.


Sedangkan Vero ini juga sudah sampai di tempat itu langsung mengambil kayu panjang dan langsung menyingkirkan ular yang masih menggantung pada tali jemuran.


"Ya Allah! Sifa!!" Ara yang baru saja keluar bersama Revan, Nita dan Gilang langsung terkejut melihat apa yang terjadi.


Romi mengambil selendang milik Mbah Na dan kemudian mengikat pada pergelangan tangan Sifa agar menghambat racunnya biar tidak naik dan menjalar ke bagian tubuh lainnya.


Ara dan semuanya terlihat panik.


"Ra, simbah ada motor, gak? Sifa harus segera di bawa ke rumah sakit!" seru Romi membuat Ara mengangguk.


"Ada, Rom. Bentar gue ambilin!" jawab Ara kemudian berlari masuk ke dalam mencari kunci motor yang biasanya ada di kamar Mbah Na.


Simbah sedang tidur siang dan Ara tidak kesulitan untuk mengambil kunci motor yang di gantung di samping lemari.


"Ini Rom, kuncinya, bawa aja ke puskesmas yang lebih deket dari sini," Romi mengambil kunci motor itu dan langsung menggendong Sifa ala bridal style.


Tentu saja sebenarnya Sifa merasa sangat malu, karena dia masih bisa berjalan meskipun sudah agak lemas. Romi menurunkan Sifa dekat motor dan ia langsung naik ke atas motor kemudian men-staternya. "Buruan, Fa, naik!" Sifa pun menurut, dia juga merasa sudah sangat kesakitan akibat gigitan ular tersebut.


Akhirnya setelah Sifa naik ke atas motor dengan bantuan Ara, Romi langsung mengantarkan Sifa ke puskesmas terdekat dan yang lain hanya bisa menunggu di rumah Mbah Na.

__ADS_1


###


Revan, Vero dan Gilang langsung mengurus ular tersebut yang ternyata ular itu sedang hamil. Pantas saja ular hijau akan merasa terancam dan melindungi diri, sehingga tidak segan-segan langsung menggigit siapa saja yang menurutnya mengganggu.


Setelah hampir 1 jam akhirnya Romi kembali dengan tangan Sifa yang sudah di perban dan bisanya juga sudah di keluarkan. Tetapi kondisi Sifa masih lemah dan wajahnya pun menjadi pucat.


"Gimana kata dokter?" tanya Revan.


"Untung tadi langsung gue bawa ke puskesmas, kalau gak bisa parah dan mungkin saja tangan Sifa bisa di amputasi untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi, tapi kalian tenang aja, semuanya masih bisa di atasi, kok!" jawab Romi.


Nita dan Ara langsung berpelukan dan menangis karena tidak pernah menyangka bahwa akan terjadi insiden seperti ini.


"Fa, kenapa tadi kamu yang angkut jemuran, kalau tadi kamu gak ke situ kan gak bakal terjadi kejadian seperti ini," ucap Ara menghapus air matanya.


"Gak apa-apa kak, namanya juga musibah, kita semua kan ada yang tahu kalau akan terjadi hal seperti ini," jawab Sifa lemah.


"Gue takut banget, ternyata di tempat seperti ini masih banyak berkeliaran ular seperti itu, mudah-mudahan cepat sembuh ya, Fa?" ucap Nita.


"Walah, nduk!! gimana tadi kejadiannya? sekarang udah gak apa-apa kan? bentar, simbah punya ramuan tradisional untuk bisa mengobati luka yang disebabkan oleh gigitan ular," Mbah Na mengambil sesuatu di dalam kantong bajunya.


Seperti sebuah salep yang di buat sendiri dari racikan tanaman tradisional. Mbah Na mengolesi bekas luka gigitan ular itu dengan telaten.


Awal liburan yang seharusnya menyenangkan malah berakhir menjadi tragedi yang memilukan. Rencana mau mengunjungi candi prambanan hari ini tidak bisa terlaksana. Sifa harus istirahat total karena gigitan ular berbisa pada tangannya, untung saja Romi langsung membawa Sifa ke rumah sakit, jika terlambat racun akibat gigitan ular itu bisa menimbulkan pembengkakan, pendarahan, tekanan darah rendah, gangguan pernapasan dan syaraf, hingga menyembab kematian.


"Kak Ara, gak jadi ke candi Prambanan?" tanya Sifa.


"Gak Fa, kondisi lo kek gini, mana tega kami ninggalin elo," jawab Ara.


"Tapi kan,,"


"Udah, lo istirahat aja, Fa. Kita juga gak akan kemana-mana dan tetep di sini," ucap Romi tersenyum sambil membelai pucuk rambut gadis itu.


"Kak Romi pergi aja, Sifa di rumah gak apa-apa kak, nanti liburan kalian malah jadi tidak asyik gara-gara Sifa, sana cepat ajak kak Revan dan yang lain untuk pergi ke candi prambanan, kan itu rencana udah di jadwal sejak awal, kak?" jawab Sifa.

__ADS_1


Romi menggeleng dan tersenyum. "Udah, gak masalah mau keluar dari rencana atau gak, kalau lo masih sakit, gue gak bisa ninggalin lo gitu aja, Fa," ucap Romi.


Sebenarnya Sifa sudah mengatakan pada Ara dan yang lainnya kalau mereka harus tetap melakukan liburan ini tanpa harus menundanya, tetapi Ara tidak ingin meninggalkan Sifa di rumah.


Begitupun dengan yang lain, mereka juga tidak tega kalau harus meninggalkan Sifa, terutama Romi. Cowok itu yang benar-benar panik dan sangat takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sifa. Sejak awal pertemuannya dengan Sifa, cowok tampan itu sudah lama memiliki perasaan terhadap putri Adam dan Fitria itu.


Sebenarnya kedua orang itu memiliki perasaan yang sama, tetapi entah kenapa sama-sama tidak bisa untuk mengakui perasaan masing-masing. Mungkin bagi Romi dia merasa kalau Sifa masih terlalu kecil dan masih terlalu muda untuk bisa mendapatkan dan merasakan cinta darinya, tetapi suatu saat nanti dia pasti akan mengutarakan perasaannya terhadap gadis cantik tersebut.


Saat ini mereka hanya bisa memendam perasaan masing-masing.


๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜


Malam harinya. Revan berjalan ke rumah sebelah setelah tadi baru ke masjid bersama Romi, Vero dan Gilang. Revan merasa sejak tadi Ara benar-benar mengabaikan dirinya. Cowok itu tidak tenang kalau di abaikan begitu saja oleh Ara.


"Ra, gue mau ngomong!" ucap Revan saat melihat Ara baru keluar dari dalam kamar Sifa.


"Jangan di sini, kita ke halaman aja, Sifa barusan tidur," Ara melangkah lebih dahulu di ikuti oleh Revan.


Saat mereka sudah sampai di luar halaman depan, tiba-tiba terdengar suara berisik dari samping garasi.


"Apaan sih, Lang! gue gak apa-apa! udah gak usah maksa gue!"


Revan menarik lengan Ara untuk tidak melihat siapa yang ada di samping garasi itu.


"Tapi, Nit, gue udah salah sama elo, gue harus bagaimana biar lo maafin gue?"


Revan dan Ara saling berpandangan. "Itu si Nita sama Gilang! mereka pada ngapain!" bisik Ara.


Revan hanya mengangkat kedua bahunya. "Lo mau lihat? ntar gak bisa tidur gimana?" jawan Revan lirih sambil menaik turunkan alisnya.


Bersambung.


Mana bunganya ๐Ÿคง๐ŸŒนโ˜•

__ADS_1


__ADS_2