
Happy Reading 😊
Jakarta, 07.00 WIB.
Revan memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah mendapatkan nomer ponsel Ara yang baru. Sifa mengatakan bahwa HP Ara hilang ketika di bandara internasional Soekarno Hatta dan hal itu mengakibatkan Ara tidak bisa menghubungi Revan untuk berpamitan setelah sampai di Tokyo, niatnya memang Ara akan memberitahu Revan setelah sampai di Jepang nantinya.
Untung Aldo masih mempunyai nomer Sifa dan memberitahu hal tersebut. Sedangkan Sifa tidak bisa memberikan nomer Ara yang baru untuk Revan karena gadis itu tidak memiliki nomernya.
Akhirnya Sifa memutuskan untuk memberitahu Revan pada saat sudah ada di Jakarta nanti. Tetapi nyatanya mereka sudah bertemu karena Feeling Revan yang sangat kuat dan langsung menuju ke Jogja.
Revan sudah menghubungi Ara tetapi masih belum di angkat ataupun di balas. Akhirnya cowok itu memutuskan untuk membuka kotak dari Ara yang di berikan padanya melalui Sifa sambil menunggu balasan chat dari Ara.
Revan tersenyum melihat isi di dalam kotak tersebut. Sebuah dasi berwarna abu-abu tua dan juga jepitan dasinya.
Revan mengambil sebuah kertas yang di lipat di bawah dasi itu. Diapun membukanya dan melihat beberapa coretan yang di tulis oleh Ara.
Assalamualaikum Revan. Mungkin kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di Indonesia lagi, sebenarnya aku memang sengaja memberikannya pada Sifa dan tidak berpamitan pada kamu. Aku tidak ingin bersedih saat kita berpisah.
Karena mungkin kita akan berpisah dalam waktu yang lama, entah itu satu atau dua tahun, atau bahkan lebih. Meskipun bertahun-tahun nanti kita tidak akan bertemu, tetapi aku ingin, hatimu, hatiku, hati kita akan selalu terjaga, jujur, selama beberapa bulan ini aku terenyuh dengan sikapmu yang benar-benar memperjuangkan cinta. Aku apresiasi dengan nilai 90.
Revan mengerutkan keningnya, kenapa hanya 90?
Pasti kamu akan bertanya-tanya, kenapa hanya 90? karena aku ingin bukti nyata dari kamu untuk bisa menjaga cinta ini, aku juga akan menjaga cinta ku, kalau kamu sudah menjadi orang yang sukses, sudah memakai Dasi itu sebagai simbol di keseharian mu, maka tunjukan padaku nilai 10 yang tertinggal itu.
Aduh, maaf karena pikirannya sudah sampai jauh kesitu. Hehehe. Yang jelas Aku janji padamu, aku akan setia. Aku janji padamu hatiku akan ku jaga hanya untuk satu cinta, yaitu kamu.
I love you, so much! Aku akan belajar di sini lama, aku akan berjuang sendiri saat ini, aku akan membuktikan padamu bahwa aku bisa sukses.
Kamu juga harus menjadi orang yang sukses, sehingga besok kalau kita sudah bertemu, kamu sudah siap saat bertemu dengan ku, tapi kalau kamu masih mau mempertahankan cintamu untukku.
Revan berdecak, tentu saja dia tetap akan mempertahankan cintanya. Revan tersenyum bahagia saat mengetahuinya bahwa Ara juga menginginkannya.
__ADS_1
"Gue pasti bakal sukses dan nyari lo, Ra. Gue langsung lamar lo, gak pake lama!" gumam Revan.
Kemudian dia membaca kembali tulisan Ara yang tinggal beberapa kalimat itu.
Kita harus fokus untuk mengejar cita-cita, fokus belajar, fokus menjadi orang sukses, setelah itu aku pasti akan kembali tanpa kamu minta. Itu janjiku padamu. Ya udah, ya. Ini udah panjang banget. Sekian. Salam sayang dari Ara Anastasia.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
"Gue juga janji akan selalu setia Ra, gue belum sempet ngrasain bagaimana punya pacar seorang Ara, eh udah di tinggal gitu aja, tapi gak apa-apa, Ra. Gue juga janji akan jadi orang sukses, gue akan jadi kebanggaan elo pokoknya," gumam Revan sambil mencium Dasi yang di berikan Ara padanya.
###
Dua tahun kemudian.
Munich, Jerman.
"Bang, mukanya jangan di tekuk gitu donk!" seru Raka saat melihat Revan yang sejak siang tadi uring-uringan tidak jelas.
"Gitu aja udah marah-marah, udah mandi sana, nanti malam Raka ajak ke tempat yang bisa bikin mood Abang balik lagi," jawab Raka mencoba menghibur Revan.
Saat ini Revan dan Raka berada di Jerman untuk melanjutkan pendidikannya. Revan mendapatkan beasiswa di salah satu universitas terbaik di kota Munich, Jerman.
Ketika Revan memutuskan untuk mengambil beasiswa itu, akhirnya Raka juga ikut pindah sekolah ke Jerman. Menggantikan Kaila yang sekarang sudah tinggal di Indonesia.
Revan dan Ara masih berhubungan sangat baik, bahkan sampai tadi malam mereka masih saling Video call. Tetapi sejak pagi tadi ponsel Ara sudah tidak aktif dan hal itu membuat Revan uring-uringan seperti barusan.
"Abang gak tenang kalau ponsel Ara belum aktif," lirih Revan sambil menekuk wajahnya.
"Udah, Abang tenang aja, pasti nanti bakal aktif lagi kok," ucap Raka merangkul bahu Revan. Saat ini tinggi Raka sudah hampir sama dengan tinggi kakaknya itu.
Mereka bahkan tidak terlihat seperti kakak adik karena wajah Raka juga sudah semakin dewasa. Setelah ini mungkin kisah Revan dan Ara akan lebih banyak rintangan.
__ADS_1
Di sisi lain.
Ara menghembuskan nafasnya perlahan, melihat kondisi Ibunya yang sudah semakin memburuk. Padahal dua tahun ini Ara dan Aldo selalu berusaha merawat ibunya.
Aldo bekerja sebagai sopir di salah satu swalayan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Sedangkan Ara harus bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah demi bisa membiayai penyakit Ibunya yang memang sudah kronis.
"Bu, bertahannya! Ara tidak akan menyerah untuk kesembuhan ibu, Ara akan mencari cara agar ibu bisa di operasi dan sembuh," ucap Ara sambil menggenggam tangan ibunya yang sedang koma.
Tumor ganas menggerogoti sebagian tubuh sang ibu, dan sekarang sudah semakin parah. Ara hanya bisa menangis dan menangis. Operasi pun percuma karena tumor itu sudah pernah diangkat tetapi hidup lagi dan tumbuh lagi.
"Dek, kita ikhlaskan ibu, kasian ibu kalau harus menahan sakit ini setiap hari, kita sudah berusaha sebaik mungkin," ucap Aldo membawa Ara ke dalam pelukannya.
"Enggak mas, Ara gak mau, Ara gak ikhlas untuk di tinggal sama ibu!"
Tiba-tiba terdengar bunyi bip yang sangat panjang dan hal itu membuat Ara dan Aldo langsung menjerit seketika.
"IBUUU!!! jangan pergi!! ibu kenapa ninggalin Ara!! katanya ibu ingin melihat Ara jadi dokter, Ara masih berusaha belajar, bu,, bangun!!!"
Aldo berlari memanggil dokter dan setelah beberapa saat seorang dokter langsung mengecek kondisi ibu Ara.
"Maaf, sepertinya ibu kalian sudah meninggal." Ucap dokter tersebut dalam bahasa Jepang.
Tubuh Ara langsung luruh seketika, napasnya terasa tercekat, dan tiba-tiba pandangannya terasa menggelap.
'Ibu, kenapa ibu pergi, Ara belum menjadi dokter, bu'
Bersambung.
Part besok makin seru karena mereka akan di uji cinta mereka. Apakah bisa sama-sama saling menjaga?
Baca ini sambil dengerin musik yang sangat menyentuh judulnya Janji Putih. Pasti ngena banget deh 🤧ðŸ˜
__ADS_1