
Happy Reading 😊
Cecilia memukul setir mobilnya berkali-kali, dia merasa kalah saing dengan wanita yang bernama Ara itu.
Kenapa Ara bisa dengan mudah mendapatkan hati Revan, sedangkan dia yang selalu menolong nya dan berharap agar Revan bisa luluh tapi sama sekali tidak mendapatkan sedikit saja hati dari pria tersebut.
"Apa yang Revan suka dari wanita itu, jelas-jelas aku lebih cantik dari dia, meskipun wanita itu juga tidak jelek, tapi seharusnya Revan bisa melihat ketulusan hati ku!" ucap Cecilia masih menatap bangunan restoran yang ada di hadapannya saat ini.
Sebenarnya dia memang sudah tahu kalau Revan pulang dan dari orang-orang suruhannya mengatakan bahwa Revan sedang makan siang di restoran itu bersama dengan seorang wanita, tapi dia tidak menyangka ternyata Revan berani memperkenalkan istrinya di hadapan Cecilia.
"Aku akan membuat kalian berdua menderita! Aku tidak terima kalau Revan bahagia dengan wanita itu!!" Cecilia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Terlihat smirk muncul dari kedua sudut bibirnya. Sepertinya Cecilia akan berbuat sesuatu seperti yang dulu-dulu, dan berakhir dia menjadi pahlawan untuk Revan.
Sedangkan di dalam restoran.
Setelah kepergian Cecilia, Revan menceritakan apa saja yang tadi dia bicarakan dengan wanita itu yang memang memakai bahasa Jerman.
Ara hanya manggut-manggut paham, tapi Ara mengingat bagaimana tatapan terakhir Cecilia yang menatapnya dengan tatapan yang aneh.
Ara hanya bisa menjabarkan bahwa tatapan itu bukan hal bagus.
"Udah, gak usah terlalu di pikirin, yang penting kamu sudah tahu kalau Cecil hanya wanita nekat dan terobsesi dengan ku, tapi hanya kamu yang ku cinta," ucap Revan menggenggam tangan Ara.
Ara hanya mengangguk dan masih belum berkomentar apapun.
"Mau kembali melanjutkan jalan-jalannya?"
"Eh, tunggu, aku ke toilet dulu, ya?" ucap Ara.
"Oke, mau di anterin gak?" Revan menaik-turunkan alisnya.
"Gak usah, aku bisa sendiri," jawab Ara yang kemudian pergi ke toilet dan melakukan aktifitas di dalamnya tidak sampai 7 menit.
Ara kembali dan duduk di kursi berhadapan dengan suaminya.
Ara merasa perasaannya tidak enak, entah kenapa dia ingin kembali ke apartemen sekarang juga, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan jalan-jalannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sayang? Kok keliatan gelisah begitu?" tanya Revan melihat istrinya yang sedang menggigit bibir bawahnya.
"Entahlah, Van, rasanya tidak tenang, aku ingin pulang ke apartemen saja," jawab Ara menautkan jemarinya.
Wajahnya bahkan mendadak pucat seketika, seolah-olah dia sedang menghadapi sesuatu yang menyeramkan.
Revan yang melihat istrinya seperti itu menjadi tidak tega. Meskipun masih banyak tempat yang sebenarnya ingin dia tunjukan pada Ara, mumpung dia masih ambil libur.
Kalau mungkin besok-besok dia harus menunggu weekend karena sibuk bekerja, bisa juga nanti weekend dia harus merelakan lembur karena sudah lama dia meninggalkan pekerjaannya.
"Baiklah, kita pulang ke apartemen sekarang, kelihatannya kamu juga sedang tidak badan, ayo sayang," Revan mengulurkan tangannya ke arah sang istri dan disambut oleh Ara dengan cepat.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, Revan dan Ara bergegas masuk ke dalam mobil.
Perasaan gelisah sejak tadi menyerang Ara. Entah karena alasan apa itu, yang jelas tiba-tiba hatinya merasa resah, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di luar sana.
Revan menggenggam tangan Ara, tangan itu terasa begitu dingin, Revan memberikan ketenangan untuk sang istri yang memang terlihat tidak baik-baik saja.
"Apa kamu sakit? Sejak tapi sepertinya kamu menahan sesuatu? apakah ingin periksa ke rumah sakit?" tanya Revan yang melihat istrinya yang terlihat semakin pucat.
Ara menggeleng cepat, bukan sakit fisik yang dia rasakan saat ini, tapi hatinya yang terasa begitu tidak karuan, sehingga membuatnya menjadi resah dan pucat.
Akhirnya Revan membelokkan mobilnya dan kembali ke jalur di mana tempat apartemennya berada.
Setelah 200 meter, tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang di perempatan, padahal saat itu lampu merah sedang menyala.
Tetapi pengemudi dari arah kanan berjalan terus dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam bagian depan mobil Revan membuat suara dari tabrakan itu begitu keras.
BRAKK!!
"Ya Tuhan!!"
"Astaga, mobil itu hilang kendali!!"
Suara riuh orang-orang yang melihat adegan itu langsung terdengar bersahut-sahutan. Mobil yang menabrak itu langsung melarikan diri dan di kejar sebuah mobil polisi yang sedang berpatroli di jalan sekitar.
###
__ADS_1
Keadaan rumah sakit begitu sibuk, korban tabrak lari yang beberapa saat lalu terjadi, baru saja datang di rumah sakit. Kondisi pasien cukup parah, tetapi yang lebih parah adalah sang wanita, karena hantaman sisi kanan langsung mengenai bagian kursi penumpang.
Revan bisa melihat dia dan istrinya masuk ke dalam ruang ICU, berada dalam satu ruangan dan di tangani dengan segera oleh dokter.
Bahkan Revan masih bisa melihat bagaimana beberapa dokter berupaya membuat istrinya bisa bernapas lagi.
Dengan memakai alat untuk memompa jantung, dan lama-kelamaan pandangan Revan pun menggelap.
"Ara, jangan pergi!"
###
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetap saja, nyawa istri anda tidak tertolong," ucap salah satu dokter.
"Apa!! tidak! itu tidak mungkin! istri saya pasti baik-baik saja, dokter!! katakan kalau istri saya baik-baik saja!!" seru Revan saat baru saja membuka matanya.
"Maaf, tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab dokter tersebut.
"TIDAK!! di mana istriku!!" Revan berontak dan mencabut selang infusnya, tetapi dokter langsung menenangkan Revan.
Di luar ruangan terlihat seseorang sedang sedang tersenyum senang, sepertinya rencananya kali ini berhasil kembali.
Wanita itu berjalan menjauh dari ruangan itu dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan.
Dokter masih menenangkan Revan agar bisa mengendalikan dirinya, kemudian salah seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu.
"Orang itu sudah pergi, dokter," ucap seseorang yang masuk menggunakan pakaian serba putih itu.
Tidak lama kemudian Sandi dan Raka ikut masuk.
"Tenang, Bang, kak Ara baik-baik saja, semua ini hanya rencana Ayah untuk menyembunyikan identitas kak Ara, agar orang yang melakukan ini bisa dengan mudah tertangkap," ucap Raka membuat Revan berhenti memberontak.
"Jadi, Ara masih hidup? Benarkan, Yah?" Sandi mengangguk.
"Ayah mengajak dokter Dave untuk bekerja sama, karena ini juga untuk kebaikan Ara," jawab Sandi.
Revan bisa bernapas lega, yang terpenting istrinya masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Ada seseorang yang selama ini ngincar kamu dan Ayah sudah menyelidikinya,"
Bersambung