
Happy Reading
Aldo mendapatkan pelototan dari Ara karena tidak mau membalas jabat tangan dari Revan.
"Eghem!!" kali ini terdengar deheman dari Ara yang terdengar sedikit keras. Membuat Aldo mengalah dan langsung menjabat tangan Revan yang sudah menggantung beberapa detik.
"Aldo!"
###
Revan bisa merasakan atmosfer di sekitarnya terasa agak panas, niat hati ingin melepaskan rindu dengan sang kekasih tetapi malah mendapatkan pelototan tajam dari Aldo yang sedari tadi sudah memperlihatkan ketidaksukaan-nya.
Setelah dari bandara tadi, Revan, Ara dan Aldo langsung pergi menuju ke rumah yang di tempati Ara selama Enam tahun ini dengan cicilan setiap bulan. Rencananya nanti Revan juga akan numpang menginap di rumah Ara, tetapi setelah melihat kakak Ara dengan tanggapan yang tidak suka, sepertinya Revan akan tidur di hotel saja.
"Mas, kenapa tamunya di diemin?" Ara datang dari arah dapur dan meletakkan tiga gelas jus di atas meja.
"Gak kok, Ra. Kita barusan mau ngobrol, eh kamu nya udah datang," jawab Revan tersenyum.
Ara menatap kakaknya yang nampak bermain ponsel tanpa membalas atau pun menatapnya.
"Mas, tadi Erika menyuruhku untuk mengembalikan shoes nya yang ku pinjam minggu lalu, ehhm sekarang aku sedang ada tamu, apakah Mas Aldo mau bantu Ara buat balikin shoes nya Erika?" tanya Ara dengan menyebutkan nama wanita yang Aldo suka..
"Eh, ke rumah Erika?" Aldo sedikit terkejut dan jantungnya berdegup kencang setelah mendengar kata-kata Ara yang menyebutkan nama wanita yang di cintai nya.
'Erika' adalah gadis muda nan cantik jelita, sahabat kuliah Ara selain Meiko dan Ryuzu. Aldo awalnya belum memiliki perasaan apapun terhadap Erika pada saat tahun-tahun pertama dia sering main ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kuliah bersama Ara.
Terapi rasa itu muncul ketika Aldo pernah mengantarkan Erika pulang dan pada waktu itu Erika terlihat sedih dan murung. Aldo pun bertanya pada saat mereka sudah sampai di depan rumah Erika.
Bukannya menjawab, Erika malah memeluk Aldo dan menangis. Pada saat itulah Aldo merasa jantungnya tidak normal hanya karena pelukan refleks itu.
"Mas! bisa gak anter Shoes nya Erika? kenapa malah melamun!!" seru Ara membuyarkan lamunan Aldo.
__ADS_1
Revan hanya tersenyum melihat kakak Ara yang terlihat konyol itu. Revan yakin, sebenarnya Aldo orang baik. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya sedikit tidak suka dengan Revan.
"Boleh deh, sini Mas anterin, tapi awas kamu jangan aneh-aneh sama dia!!" tunjuk Aldo lewat ekor matanya ke arah Revan.
"Ealah, Mas Aldo kenapa sih, Revan baru datang kenapa gak di sambut dengan baik, sih! kalau gitu Mas di rumah saja, aku akan ke rumah Erika sama Revan!"
"Eh, kok gitu!" sela Aldo.
"Mas, kenapa kamu kekanakan sekali, sih!" seru Ara membuat Revan dan dan Aldo terkejut.
Revan merasa tidak enak hati melihat perdebatan antara Ara dan kakaknya itu karena dirinya. Meskipun terkadang mereka memakai bahasa Jepang, Revan tetap paham dengan apa yang di maksud.
"Ehm, Ra, kalau kalian sibuk, sebaiknya aku pergi dulu," ucap Revan.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Ara sendu, wajahnya menampilkan kekecewaan.
"Aku mau nyari hotel dulu, mau istirahat sebentar, nanti sore aku akan ke sini lagi," jawab Revan kemudian berpamitan kepada Aldo.
"Ara kecewa sama Mas Aldo, Mas tau kan siapa Revan? dia pacar Ara, Mas, ngebelain jauh-jauh datang ke sini tetapi sikap Mas Aldo benar-benar keterlaluan!! kalau Mas Aldo di posisi Ara bagaimana?" ucap Ara datar sambil menahan air matanya.
Kemudian ia berlari keluar rumah untuk mencegah Revan yang akan pergi.
"Van, tunggu!!" Revan langsung menoleh ke arah wanita yang sangat ia rindukan itu.
"Maafin kakakku, ya? dia emang keterlaluan, kamu jangan pergi, aku gak mau kamu pergi, aku kan masih kangen, kita belum ngobrol, belum bertukar cerita, aku,,!"
Greep!! Ara terkejut saat Revan tiba-tiba memeluknya. Melihat Ara yang begitu banyak bicara dan dengan gamblang mengungkapkan perasaannya, rasa rindunya, melihat raut wajah cemasnya, hal inilah yang Revan inginkan sejak dulu.
Semua ekspresi yang Revan tunggu-tunggu dari Ara, setelah sekian lama ia mendapatkan lagi dari wanita yang selalu memenuhi hatinya ini.
Meskipun mereka masih sering berkomunikasi lewat telepon atau video call, tetapi Ara tidak pernah menunjukkan sisi yang seperti ini dan hal itu membuat Revan begitu bahagia.
__ADS_1
"Aku gak akan pergi, Ra! kamu kan yang pergi ninggalin aku!" bisik Revan.
Ara langsung memukul pelan dada Revan yang kini terasa semakin lebar dan keras. "Aku kan terpaksa!" Ara mengerucutkan bibirnya.
Revan menatap bibir itu dan ingin sekali merasakan bibir itu lagi. Bibir yang menjadi candunya tetapi hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi.
"Ra, nikah yuk!!"
Ara terkejut dan melepaskan pelukannya dari tubuh Revan. "Nikah?"
"Iya, nikah, biar bebas peluk cium kamu, biar gak di pelototin kaya sekarang," ucap Revan menatap ke arah teras rumah Ara di mana di sana Aldo menatap keduanya sambil bersedekap dada.
Ara menoleh ke belakang dan melihat ke arah kakaknya.
"Ara sudah gede, Mas. Sudah bukan anak kecil lagi yang masih punya pikiran labil, Ara bisa nentuin mana yang baik dan yang gak baik untuk hidup Ara, jadi izinkan Ara dan Revan saling melepaskan rasa rindu ini!"
Revan benar-benar kagum dengan kekasihnya ini, Ara memang cewek tegas dan pemberani, tetapi setelah dulu cewek itu merasa sakit hati dengan Revan, cewek itu tidak pernah menunjukkan ekspresinya.
"Ayo kita masuk ke dalam, aku akan bicara sama mas Aldo," ucap Revan tersenyum.
###
"Sebenarnya apa yang Mas Aldo pikirkan tentang ku? kenapa dari awal kita bertemu di bandara, Mas Aldo sudah kelihatan tidak menyukaiku?" tanya Revan.
Aldo menghela napas kasar. Pria itu menatap wajah Revan yang terlihat sorot kerinduan di matanya.
"Aku hanya berusaha bersikap tegas dengan semua cowok yang dekat dengan Ara. Aku gak mau adikku di sakiti lagi, dulu tidak sengaja aku pernah membaca buku diary-nya. Dan di situ Ara sering menulis tentang dirinya yang sedang patah hati karena sedang jatuh cinta."
Deg! jantung Revan langsung berdetak kencang
Bersambung.
__ADS_1