
Happy Reading 😊
Revan masuk ke dalam sebuah ruangan bernuansa putih di mana didalamnya terbaring seorang wanita yang sangat dicintainya.
Sambil mendorong kursi rodanya masuk lebih dalam karena ingin melihat bagaimana kondisi Ara yang masih belum sadar selama tiga hari ini.
Raka yang tadi membawa Revan ke ruangan itu hanya bisa menunggunya di luar, karena hanya diperbolehkan 1 orang saja yang masuk ke dalam.
Sedangkan Bunda Aulia baru saja keluar dari ruangan itu untuk melihat kondisi menantunya yang sudah stabil walaupun belum sadarkan diri.
Revan menatap Ara yang berbaring lemah dengan alat bantu pernapasan, dia merasa sangat sangat bersalah atas tragedi yang menimpa mereka. Kenapa semuanya menjadi seperti ini, Revan benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ayahnya hanya mengatakan ada seseorang yang memang sudah sejak lama mengincarnya, mungkin musuhnya di dalam bisnis atau orang yang tidak menyukainya. Ah, entahlah Revan belum bisa berpikir.
"Bangunlah, sayang, jangan lama-lama tidurnya, ya? aku sudah rindu," bisik Revan sambil mencium tangan sang istri.
Seharusnya Revan bisa memberikan perlindungan terhadap Ara, seharusnya dia bisa lebih peka kalau situasi di antara mereka sangat berbahaya.
"Ara, aku ingin kita bisa melalui semua ini bersama, sayang,, seharusnya kamu sudah bangun dan aku yang harus berbaring di ranjang ini!"
Inilah yang di takutkan Revan, dia memang lengah, padahal dia tahu kalau Cecilia pasti tidak akan membiarkan Ara begitu saja. Ya, dia ingat sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka baru saja bertemu dengan Cecilia.
"Ah, sial! kenapa aku melupakan wanita itu!! sebenarnya ini yang ku takutkan, wanita itu bersumpah akan menyakiti Ara, kenapa aku baru sadar! Y Allah, aku bodoh sekali!!"
__ADS_1
Revan berdiri dan mengecup bibir Ara, kemudian dia duduk kembali ke kursi roda, karena memang kaki dan badannya belum begitu pulih untuk berjalan sendiri.
Raka yang melihat Revan keluar dari dalam ruangan itu langsung menyambut kakaknya dan mengambil alih pegangan kursi roda itu untuk mendorong Revan kembali ke ruang rawatnya.
"Ka, Ayah di mana? abang ingin bicara sama Ayah!"
"Ayah baru ke kantor polisi, bang, dalang dari tabrakan itu sudah tertangkap," jawab Raka.
Revan merasa sedikit terkejut sekaligus lega mendengar kabar bahwa dalang dari kecelakaan itu sudah tertangkap.
"Aku ingin melihat siapa yang telah merencanakan ini padaku?"
"Abang sebaiknya tidak perlu banyak berpikir, semuanya sudah di urus oleh Ayah dan Martin, sekarang kita kembali ke kamar, Bunda dan Kaila udah nungguin abang, ada yang mau di bicarakan sama abang, katanya," ucap Raka.
Revan hanya pasrah saat Raka mendorong masuk kursi rodanya ke dalam ruang rawat.
"Bang, yang sabar, ya? Ini semua ujian dari Allah, Abang yang kuat, Ara pasti segera sadar, oh ya, ini ada banyak titipan dari sahabat Abang waktu SMA, ada juga titipan dari Angel," ucap Aulia menyerahkan paper bag kepada Revan.
"Dari Vero dan Romi, bund?"
"Iya, kotak itu dari mereka, katanya minta maaf gak bisa ke sini jenguk abang, apalagi mereka juga baru tahu kabar pernikahan Abang sama Ara sewaktu Kaila kasih kabar itu," jawab Aulia.
Revan mengambil kotak persegi dari dalam paper bag itu. Memangnya hadiah apa yang akan di berikan oleh sahabatnya yang dulu terkenal somplak dan jahil.
__ADS_1
"Abang tau gak, kalau kak Angel udah lahiran, sebelum itu kak Angel nitip salam untuk Abang sama kak Ara, semoga samawa katanya, dia juga minta maaf untuk semua masa lalu, emang masa lalu kalian kenapa, bang?"
"Udah Kai, jangan suka kepo, Abang lagi sakit, jadi jangan tanya yang aneh-aneh," Aulia menyenggol bahu putrinya yang memang serba ingin tahu itu.
"Iya, bund, maaf!"
Revan tidak berkomentar apapun tentang ucapan Kaila yang mengingatkan tentang masa lalunya, menurutnya semua itu tidak penting.
Revan juga sudah memaafkan Angel sejak lama, jadi tidak perlu ada yang perlu di maafkan lagi menurut Revan.
"Buka donk, Bang, hadiah dari kak Vero dan kak Romi, kan Kaila penasaran," sungut Kaila.
Revan mengamati kotak persegi itu dan membolak-balik dengan perlahan, sebenarnya dia juga penasaran dengan isi hadiah dari kedua sahabat baiknya sejak SMA itu. Revan ingat bagaimana dulu dia begitu terpuruk setelah Ara pergi meninggalkannya ke Jepang. Romi dan Vero lah yang menghiburnya di kala itu.
Entah bagaimana kalau Vero dan Romi tidak ada, ada juga satu lagi yang akhirnya dekat dengan mereka yaitu Gilang. Mereka berempat sudah seperti F4 saja dan semuanya sama-sama tidak memiliki kekasih alias jomblo.
Revan yang waktu itu tetap gencar mendekati Ara meskipun mereka sudah terpisah jauh dan baru bisa di terima setelah lima tahun berjuang.
Perlahan Revan membuka kotak itu dan mulutnya langsung menganga dengan mata yang melotot sempurna.
"Aaakk!!! apa itu Bang?!!" seru Kaila langsung menutup matanya dengan kedua tangan.
Revan langsung menutup kotak itu dengan jantung yang berdebar kencang, sedangkan Aulia sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat putranya itu sudah di kerjai oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung.
Hayo apa ya, hadiah yang di kasih Romi sama Vero??😁😁😁