
Happy Reading 😊
Revan menatap Aldo yang sudah bersungut-sungut siap meledak setelah Revan mengutarakan keinginannya untuk melamar Ara. Tapi pria itu cukup bisa mengendalikan dirinya setelah mendapatkan tatapan horor dari sang adik.
Ara seolah mengatakan bahwa dia tidak akan merestui hubungannya dengan Erika yang baru saja jadian itu. Dengan isyarat jari telunjuk yang di goreskan ke leher, seolah-olah mengancam dengan kata-kata 'Jangan harap kamu bisa bersama Erika kalau kamu tidak merestui kami' membuat Aldo mau tidak mau harus bisa membuat keputusan yang di inginkan oleh adiknya itu.
"Apa yang akan kamu berikan pada Ara kalau kalian bersama?" tanya Aldo dengan wajah yang dingin.
Revan merasa lega setelah mendengarkan pertanyaan dari kakak kekasihnya itu, yang ternyata mengarah ke hal-hal positif.
"Aku akan memberikan Ara kasih sayang dan perhatian, aku akan menjaganya dan membahagiakan sampai akhir hayat, aku tidak akan menyakitinya, aku akan mengajaknya melangkah bersama dalam mencari jalan menuju surga dengan status kami sebagai pasangan suami istri, aku janji pada mas Al, kalau Ara pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah dari keluarga besar ku!" jawab Revan mantap.
Aldo menghela napas panjang, sepertinya memang Revan dan Ara saling mencintai, apakah dia harus memberi restu agar Ara bisa secepatnya menikah?
"Kalau begitu kapan kamu akan membawa orang tuamu menghadap ku?" tanya Aldo serius.
Revan nampak berpikir, selama ini Bundanya selalu menyuruh Revan cepat-cepat membawa Ara ke rumah, bahkan kalau perlu akan di nikahkan saat itu juga, apakah ini semua adalah doa bundanya, dia dengan mudah bisa mendapat restu dari kakaknya Ara.
Ya, Bunda Aulia memang sudah tahu hubungan jarak jauh Ara dan Revan. Bunda sangat menginginkan hubungan putra sulungnya itu dengan Ara bisa berlangsung di pelaminan.
"Setelah urusanku di Indonesia selesai, aku pasti akan segera membawa keluarga besar ku ke sini, mas." Jawab Revan mantap.
"Baiklah, aku menyetujui hubungan kalian, tapi dengan syarat Ara harus berhenti untuk memikirkan S2 dan fokus menyiapkan acara lamaran, dan setelah itu kalian secepatnya menikah saja, aku rasa itu yang lebih baik," ucap Aldo tersenyum.
Ara meremas jemarinya karena merasa gugup, apakah dia sudah benar-benar siap untuk menikah? Rasanya semua ini begitu cepat, dia baru saja bertemu kembali dengan Revan.
Butuh waktu tiga tahun lebih untuk bisa memantapkan hati menerima cowok itu. Tapi Ara percaya bahwa Revan memang benar-benar mencintainya.
Dengan bukti bahwa Revan tidak pernah lelah mengungkapkan rasa cintanya pada Ara. Setiap detik, menit, jam dan hari, Revan pasti menyempatkan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Tentu saja, mas. Aku pasti akan segera membicarakan ini pada kedua orang tuaku, mereka pasti akan senang," jawab Revan mantap.
####
Andaikan malam yang sepi dapat bicara
Mungkin aku takkan kesepian
__ADS_1
Penantian ku ini hanya untukmu
Setiap saat berdoa untukmu
Kesetiaan yang kumiliki
Tak pernah memudar
Cintaku ini untuk dirimu.
Ibarat sungai yang kering tiada air
Menanti hujan turun dari langit
Kerinduanku pada dirimu tak pernah berhenti
Walau berjuta godaan mengganggu.
Aku cinta kepadamu tak terbatas waktu
Takkan ada selain dirimu
Pahit-manis berdua
Demi cintaku hanya untukmu.
Ara meneteskan air mata saat menyanyikan lagu lawas itu sambil menatap Revan yang sedang memetik senar gitar mengiringi lagu yang di nyanyikan Ara. Entah kenapa lagu ini benar-benar dalam artinya, seakan mengingatkan akan kisah cinta dirinya dan Revan yang saling memegang teguh rasa percaya dan kesetiaan.
Saat ini mereka sedang berada di teras belakang rumah yang menghadap ke taman yang tidak terlalu luas.
Revan meletakkan gitar Aldo dan memegang pipi Ara yang sudah basah karena air mata. "Kenapa menangis?" tanya Revan menghapus air mata Ara.
"Aku terharu, gak tau kenapa lagu ini bikin aku baper, aku merasa seperti yang ada di dalam lagu itu," jawab Ara menunduk.
Revan mengangkat dagu Ara dan langsung mengecup kedua matanya yang masih basah.
"Aku cinta kamu, sayang,, hanya kamu yang aku inginkan dan aku sangat bersyukur akhirnya kamu mau menerima cintaku yang tidak pernah kadaluarsa ini, karena setiap saat aku selalu memupuknya," ucap Revan membuat Ara tersenyum kecil.
__ADS_1
"Memangnya kamu memupuknya pake apa?" tanya Ara.
"Pake hati donk, pokoknya aku gak mau kehilangan kamu, Ra. Udah cukup kamu memberikan waktu 6 tahun untuk membalas ku, padahal waktu itu aku hanya menyakiti hatimu selama enam bulan saja, tapi kamu membalas ku selama ini!"
"Bukan salahku, kan kita sama-sama sibuk, lagian kalau kamu gak berjuang sampai saat ini, aku juga pasti masih jomblo dan gak akan pernah mau pacaran," ucap Ara.
"Kenapa?" tanya Revan penasaran.
"Karena hatiku gak kan pernah bisa berpaling dan mencintai cowok lain, selain kamu," jawab Ara yang langsung mendapat ciuman lembut di bibirnya.
###
Revan memeluk Ara dengan erat. Seakan tidak mau melepaskan lagi. Revan tidak ingin berpisah jauh dari Ara, sudah cukup dia bertahan selama ini dan dia tidak akan kuat apabila harus di tambah lagi LDRR nya.
"Aku akan langsung mengatakan pada Ayah dan Bunda kalau kamu sudah menerima ku kembali, yank. Mereka pasti seneng banget, aku sudah tidak sabar ingin melihatmu di setiap sebelum dan sesudah tidurku, menemani setiap malam-malam ku dan me.... !"
"Eghem!!" Aldo berdehem keras membuat Revan menghentikan ucapannya.
"Pesawat nya udah mau take off, cepat masuk sana!"seru Aldo.
"Mas Al ini ganggu orang lagi berpamitan!" seru Revan. Membuat Aldo melotot kan matanya.
'Pamitan apa curhat itu, lama banget pake ngungkapin kata-kata yang gak wajar!' batin Aldo.
Ara menarik tangan Revan dan mencium punggung tangannya. "Udah sana, masuk, kalau kamu gak balik ke Jakarta, mana bisa kita bisa cepet-cepet nikah!" ucap Ara mengalihkan perhatiannya, karena sejak tadi Revan sudah berlama-lama bersama dengannya.
"Iya sayang, aku pamit dulu, ya? tunggu aku tidak lama lagi pasti aku akan membawamu ke hadapan penghulu," ucap Revan.
"Udah-udah, sana buruan masuk!" Aldo menyela.
"Mas Aldo, aku pamit dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Revan melambaikan tangannya dan segera membalikkan badan menuju ke burung besi yang akan membawanya pulang ke Indonesia. Setelah sampai di Jakarta, dia akan segera menyuruh Ayahnya untuk datang ke Jepang melamar Ara.
Inilah awal kisah manis mereka, setelah semua perjalanan panjang yang penuh tantangan untuk Revan, sudah saatnya dia merasakan kebahagiaan dengan gadis yang di cintainya sejak masa SMA itu.
__ADS_1
Bersambung.
Mana nih bunga dan kopinya ☕🌹