Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Janji


__ADS_3

Happy Reading 🥺


Seminggu kemudian.


Revan tidak bisa tenang karena beberapa hari ini Ara tidak membalas pesannya, padahal dua hari lagi sekolah sudah mulai masuk.


Sekarang mereka sudah akan masuk ke kelas 12, dan Revan lagi-lagi resah, gelisah, lantaran Ara belum kembali lagi ke Jakarta.


Entah kenapa kata-kata Ara yang terakhir kali waktu itu membuat Revan semakin tidak karuan.


Berkali-kali Revan mengirim pesan tetapi tidak di balas juga, bahkan kali ini nomernya menjadi tidak aktif.


"Aaggrhh!! Ara, kamu di mana?"


Revan menjambak rambutnya kasar, ucapan Ara beberapa hari yang lalu, mungkin bisa di katakan ucapan terakhir dari Ara yang mengatakan bahwa ibunya di Jepang sangat membutuhkannya, benar-benar membuat pikiran Revan menduga-duga hal yang tidak ingin dia pikirkan.


'Ibuku sakit parah, Van. Beliau sekarang tinggal di Jepang bersama sahabatnya, tetapi kata sahabatnya itu, ibu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hiks, ibu membutuhkan ku, Van, ibu hanya sendirian gak punya siapa-siapa di sana! Aku harus bagaimana?'


Saat itu Ara seperti menangis, bahkan dia tidak menggunakan kata panggilan gue-elo, tetapi menyebut dirinya 'Aku'


Sungguh Revan tidak pernah menyangka kalau setelah itu Ara tidak menghubunginya lagi. Apakah Ara pergi ke Jepang menyusul Ibunya? tidak! jangan sampai itu terjadi.


Revan belum siap di tinggalkan oleh Ara, dia belum menemukan gembok hati Ara, Revan masih ingin terus bersama dengan gadis yang sangat ia cintai itu.


Pikiran Revan berkecamuk tidak tenang. Dalam hatinya selalu berharap Ara tidak akan meninggalkannya, meninggalkan cintanya. Kepingan cinta Ara yang sudah hancur kini mulai bersatu sedikit demi sedikit, Revan hampir berhasil menyatukan semua patahan hati Ara, hati yang dulu pernah ia patahkan. Kepingan itu sudah hampir terbentuk kembali. Tetapi kenapa sekarang harus ada suatu penghambatan di antara mereka.


"Ara, gue yakin, sebelum lo masih cinta sama gue, hanya elo, Ra yang akan terukir di hati ini," batin Revan.


Setelah perasaan Revan membaik dan pikirannya sedikit jernih, akhirnya Revan memutuskan untuk pergi menemui Ara di Jogja. Malam itu juga Revan langsung membeli tiket pesawat penerbangan menuju Jogja yang paling cepat.


"Ayah, Bunda, Abang mau ke Jogja hari ini.. Abang mau lihat keadaan Ara yang gak ada kabar selama beberapa hari, Abang khawatir," ucap Revan membuat Aulia dan Sandi saling berpandangan.


Sepertinya putra sulungnya ini memang menyukai Ara atau mungkin sudah ada rasa cinta yang ada di hati Revan untuk gadis itu. Melihat betapa pedulinya Revan dengan Ara selama ini.

__ADS_1


"Tapi, Bang,, ini sudah malam, kenapa tidak besok saja?" tanya sang Ayah.


"Gak, Yah, perasaan Abang gak enak, Abang izin pamit, tadi udah pesen tiket penerbangan jam 20.00 WIB ke Jogja. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam!" jawab Sandi dan Aulia serempak.


"Hati-hati ya Bang! salam buat Ara dan simbahnya!" seru sang Bunda.


"Iya, Bund, insyaallah!" jawab Revan berjalan ke arah pintu dan langsung keluar dari dalam rumah.


Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 1jam 10menit, akhirnya Revan sampai di bandara YIA dan langsung memesan taksi online menuju alamat rumah Mbah Na.


Di dalam hati Revan selalu berdoa, semoga keadaan Ara baik-baik saja, dia tidak pergi ke Jepang, atau mungkin dia tidak akan bertemu dengan Ara lagi.


Perjalanan menuju ke Bantul terasa semakin lama, ongkir kena Revan buru-buru saat ini jam juga sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih.


Revan berharap, mudah-mudahan saja Ara masih ada di tempat simbahnya. Jangan sampai Ara sudah pergi meninggalkannya menyusul ibunya ke Jepang.


###


"Apakah kamu yang bernama Revan?" tanya Mbah Na membuat Revan langsung mengangguk kan kepalanya.


"Iya, Mbah, saya Revan, sahabatnya Ara, ehhmm Ara-nya kemana ya, Mbah? kenapa nomernya tidak aktif?"


"Loh, kamu tidak di kasih tahu sama Ara to Le?" Revan menggeleng.


"Ara sudah pergi ke Jepang Lima hari yang lalu, setelah selesai mengurus paspor dan segala persiapannya, Ara dan Aldo terbang ke Jepang, ibunya sakit parah dan mereka ingin melihat keadaannya," bagai di sambar petir di siang bolong, Revan sangat terkejut dan shock. Meskipun dia sudah menduganya, kalau kemungkinan besar Ara pergi ke Jepang untuk melihat keadaan ibunya, yang Revan sangat kecewakan adalah kenapa Ara tidak mengatakan hal itu.


Kenapa Ara tidak izin pamit kalau dia mau pergi. Revan merasa tidak berguna di hidup Ara, padahal selama ini dia sudah berusaha membuat hati Ara sembuh kembali. Apakah pengorbanannya selama beberapa bulan ini hanya sia-sia.


"Lalu kenapa ponsel Ara tidak aktif, Mbah?" tanya Revan.


"Kalau itu simbah tidak tahu, coba kamu tanya Sifa, dia di tempat budenya, rumahnya dekat kok dari sini, kamu jalan lurus ke arah utara, nanti setelah dua rumah di situ ada pohon mangga, nah, rumah budenya Sifa di samping pohon mangga itu," jelas Mbah Na.

__ADS_1


"Baik Mbah, terima kasih, saya akan langsung mencari Sifa," ucap Revan berpamitan.


Revan akan menghubungi Sifa dan mengatakan bahwa dia ada di Jogja dan sedang ingin bertemu dengannya.


Sialnya Revan tidak memiliki nomer Sifa. Kenapa selama ini Revan tidak pernah meminta nomer Sifa, padahal itu juga sangat penting.


"Aaggrh! gue susul ke rumah budenya aja!" Revan bergegas berjalan ke rumah buda Sifa yang tidak jauh dari rumah simbahnya.


Setelah sampai di tempat yang di tunjukkan oleh Mbah Na tadi, Revan melihat Sifa di halaman rumah sedang menggendong seorang anak kecil, mungkin anak itu adalah anak budenya.


"Sifa!" teriak Revan membuat Sifa menoleh.


"Kak Revan!"


###


Sifa dan Revan duduk di teras rumah Mbah Na karena tadi Sifa langsung mengajak Revan pulang. Sifa mengatakan ada sebuah titipan untuk Revan dan sebuah salam permintaan maaf karena tidak berpamitan.


"Ini untuk kak Revan, kata kak Ara, Sifa harus memberikannya secara langsung, tadinya mau Sifa kasih pas di Jakarta, besok Sifa udah balik kak," ucap Sifa menyodorkan sebuah kotak kecil untuk Revan.


Revan merasa jantungnya berdegup kencang, kenapa Ara melakukan semua ini? kenapa dia memberikannya hadiah.


"Kapan Ara kembali ke Jakarta, Fa?" tanya Revan, tidak mau menduga-duga lagi.


"Kakak baca aja surat di dalam kotak itu, di sana nanti kak Ara menjelaskan semuanya, yang jelas kak Ara akan lama tinggal di sana, dia sayang banget sama ibunya, selama ini kak Ara ingin bisa membahagiakan ibunya setelah Ayahnya membuat Ibu kak Ara sakit hati, kak Ara akan ikut kemana ibunya pergi," ucap Sifa membuat tangan Revan bergetar hebat.


Jantungnya serasa di remas, sakit dan sesak, dia tidak menyangka akan berpisah dengan Ara dengan keadaan kisah mereka yang belum usai.


'Ra, kenapa lo tega sama gue, apa ini balasan lo buat buktiin apakah gue serius sama elo atau gak, gue janji akan memegang hati ini, Ra. Suatu saat nanti gue bakal bawa lo kembali, membawa tulang rusuk dan pemilik hati ini kembali ke tempatnya.'


Bersambung.


🥺🥺🥺🥺 sedih gak sih?🤧

__ADS_1


__ADS_2