Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Bertemu dengan Cecilia


__ADS_3

Happy Reading 😊


Ara bangun dari tidurnya dan mengambil pakaiannya satu persatu yang tercecer di atas lantai dan memakainya kembali.


"Auwch!" seru Ara meringis merasakan nyeri di bagian intinya saat melangkah, ternyata rasanya sesakit itu dan Ara benar-benar hampir tidak bisa berjalan.


Apalagi setelah melihat banyak tanda merah yang di buat oleh suaminya, membuat Ara kembali meringis mengingat kejadian tadi malam.


"Ya Allah, ternyata Revan ganas juga," gerutu Ara melirik sang suami yang masih terlelap.


Kemudian melanjutkan berjalan kembali ke arah kamar mandi, tapi ketika baru dua langkah Ara meringis kembali dan kali ini sedikit menjerit karena merasakan area sensitifnya yang sangat perih.


"Aww!! Kenapa sakit sekali?"


Revan merasa mendengar rintihan sang istri, cowok itu membuka matanya dan melihat bahwa istrinya seperti kesakitan.


Revan langsung bergegas turun dari tempat tidur ketika melihat sang istri yang seperti itu.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja, ayo aku gendong kalau tidak kuat," ucap Revan bangkit dari atas ranjang dan berjalan ke arah sang istri.


"Aakk! kenapa tidak memakai baju?" seru Ara ketika melihat Revan yang tidak memakai apapun berjalan mendekat.


"Sayang, aku suamimu dan artinya kita halal untuk saling melihat, jadi tidak perlu takut. Nanti lama-lama juga terbiasa," ucap Revan tersenyum menggoda.


Ara memalingkan wajahnya ke sembarang arah agar tidak melihat bentuk tubuh suaminya yang berdiri di depannya tanpa menggunakan sehelai benangpun.


"Ayo, aku gendong, sayang!" Revan langsung menggendong Ara dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah sarapan di apartemen, Revan mengajak jalan-jalan istrinya ke berbagai tempat di Munich. Ara begitu antusias menyaksikan bangunan ala Eropa yang memang begitu megah.


Setelah hampir setengah hari mengelilingi kota Munich dan melihat keindahan kota itu, Revan mengajak Ara berhenti di sebuah restoran mewah bintang lima. "Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Ara bingung.


"Kita makan siang dulu, aku sudah sangat lapar, sayang, nanti setelah itu kita lanjutkan jalan-jalannya lagi," ucap Revan.


"Baiklah, aku juga sudah lapar, di Jerman menu sarapannya bukan nasi, tidak seperti di Jepang dan itu membuat ku lapar lagi," ucap Ara membuat Revan tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita keluar dan masuk ke dalam restoran, di sini banyak menu yang pasti kamu suka, ini Restoran khas Asia," ucap Revan membuka seatbelt-nya.


Akhirnya Ara dan Revan memilih tempat duduk yang berada di dekat dengan jendela.


"Aku biasanya kalau kangen masakan Indonesia pasti ke restoran ini, mereka memang menyediakan berbagai macam makanan khas Asia," ucap Revan tersenyum.


"Sebaiknya makanan di sini recommended, aku gak mau kalau makanannya keliatan lezat tapi rasanya keluar dari ekpektasi!" ucap Ara.


Revan memanggil salah satu pelayan dan memesan menu nasi kare dan nasi goreng seafood kesukaan Ara.


"Aku minumnya orange jus pake yogurt, ya?"


"Aku sama tapi tidak pakai yogurt," ucap Revan dan di angguki oleh pelayan yang berwajah oriental tersebut.


Setelah beberapa saat akhirnya pesanan mereka datang. Mata Ara berbinar kala melihat nasi goreng seafood kesukaannya sudah tersaji di depan mata.


Revan memilih nasi kare ayam, sejenis nasi gulai tapi memakai bumbu kari. Revan dan Ara makan dengan lahap, mereka memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan mereka makan nasi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.


"Revan! kamu di sini?" Revan dan Ara menoleh ketika mendengar suara seorang wanita memanggil nama Revan.

__ADS_1


"Cecilia?" ucap Revan sedikit terkejut, tetapi itu hanya sesaat karena setelah itu Revan kembali menormalkan ekspresi wajahnya.


Sedangkan Ara langsung paham siapa wanita yang kini tengah berdiri di samping suaminya. Cecilia, nama itu dulu pernah di ceritakan oleh Revan.


Seorang wanita yang memiliki obsesi tinggi terhadap suaminya itu.


"Hai, kemana saja kamu? setiap hari aku selalu mengunjungi mu di kantor, tetapi kata Martin dan Jovinka, kamu masih sibuk di Indonesia, tapi sekarang aku melihat mu sudah pulang, rasanya senang sekali, nanti aku akan sering mengunjungi mu!" ucap Cecilia dengan bahasa yang tidak bisa di mengerti oleh Ara.


'Payah, wanita ini bicara apa? sepertinya aku harus belajar bahasa Jerman mulai sekarang, kalau seperti ini caranya aku tidak tahu harus menjawab apa pada wanita penggoda suami orang seperti ini!' batin Ara kesal.


"Maaf, Cecilia, sepertinya mulai saat ini kita tidak boleh terlalu dekat, aku sudah menikah dan ini adalah istriku, Ara," ucap Revan menggenggam tangan Ara dan mencium punggung tangannya.


Sepertinya dia sudah siap menghadapi segala resiko kedepannya mengenai Cecilia. Revan dan Ara siap dengan segala macam ujian dan cobaan yang akan mereka hadapi. Dia tidak akan menghindar lagi, Revan akan menghadapi apapun yang terjadi nanti.


Selama kekuatan cinta mereka kuat dan saling menggenggam erat seperti sekarang.


Cecilia yang melihat hal itu merasa sangat marah, ternyata usahanya selama ini sia-sia karena Revan tidak pernah bisa takluk dengan persona.


"Oh, selamat, Revan! aku tidak tahu kalau kamu ke Indonesia sedang menyiapkan pernikahan mu, maaf aku tidak datang, kamu tidak mengundang ku, sih," ucap Cecilia berusaha untuk tersenyum.


Meskipun senyum itu terlihat sangat di paksakan, terapi Cecilia tidak ingin Revan tahu dan curiga bahwa sebenarnya dia sangat sakit hati.


"Terima kasih, Cecil, maaf tidak mengundang mu," jawab Revan.


Ara sedikit paham dengan situasi yang terjadi, sepertinya Ara tidak melihat kecemburuan di wajah Cecilia.


'Mudah-mudahan dia menerima,' batin Ara

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2