Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Jogja


__ADS_3

Happy Reading 😊


Ara menaikkan sudut bibirnya kala keluar dari dalam gerbong kereta eksekutif di stasiun tugu Yogyakarta. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7-8 jam dari Jakarta ke Jogja membuat tubuh Ara terasa remuk dan pinggangnya terasa pegal.


Pasalnya baru kali ini dia pulang ke Jogja menggunakannya kereta api, biasanya Ara selalu naik pesawat, berhubung karena ini permintaan dari Sifa, yang merengek ingin naik kereta, akhirnya mau tidak mau Ara mengiyakan permintaan adik sepupunya yang ikut liburan ke ke tempat simbahnya di Jogja.


Ara tersenyum sambil menarik kopernya, akhirnya dia bisa Menghirup udara kota Jogja yang sudah setahun ini tidak ia rasakan. Berjalan dengan senyum yang mengembang, menyapa setiap orang yang juga ikut menyapanya lewat anggukan kepala atau sebatas saling melemparkan senyum.


Itulah Jogja, orangnya ramah dan hangat, kota tempat kelahirannya itu juga banyak sekali menyimpan kenangan indah, meskipun ada juga kesempatan yang tidak mengenakkan di hatinya.


"Ra, ntar kita langsung ikut lo ke rumah simbah lo, ya?" ucap Revan yang kini sudah berada di samping Ara. Meminta koper Ara untuk dia bawa.


"Rencana awal kan emang gitu, kita menginap di rumah simbahnya Ara di Bantul, tenang aja, kita gak akan numpang gratisan kok," ucap Nita terkekeh.


Ara hanya memukul ringan lengan Nita karena sudah berbicara asal. Padahal Ara sudah bilang kalau mereka tidak perlu membahas mengenai biaya ataupun upah ganti rugi numpang, toh Ara juga yang mengajak mereka untuk liburan ke kampung halamannya itu.


Sifa yang sedari tadi berjalan di belakang Revan, Ara dan Nita hanya bisa tersenyum sambil memainkan ponselnya. Pasalnya di samping Sifa saat ini ada Romi yang berjalan sejajar dengannya, membuat jantung Sifa berdegup kencang sejak tadi.


Rencana yang awalnya hanya keinginan iseng dari Nita yang akhirnya di setujui oleh Revan, bukan, sebenarnya memang Revan juga menginginkan nya, akhirnya semua itu terkabulkan karena Ara juga menyetujuinya.


"Kak, bang ojolnya udah nunggu di depan pintu keluar timur!" seru Sifa yang sejak tadi memandang ponsel dan memang telah memesan taksi online atau sering disebut Go car. Sifa juga belum lama download aplikasi untuk memesan ojek online itu. Karena memang selama ini dia ataupun Ara tidak pernah memakai jasa ojek online.


"Eh, kita pake ojek?" tanya Vero yang berjalan di barisan paling belakang bareng Gilang.


"Iya kak, tapi ini kan ojol yang mobil, bukan motor, memangnya kita bertujuh gak rugi apa, kalau harus pesen tujuh motor?" ucap Sifa.


"Gue udah gak sabar buat makan gudeg khas Jogja!" seru Gilang.


"Gudeg simbah memang the best, beliau dulu penjual gudeg terkenal di kota sini, mempunyai rumah makan dan beberapa cabang yang menyebar di seluruh kota Jogja, tetapi setelah beliau sepuh akhirnya yang meneruskan adalah Bude dan Pakde, tapi kalau tau kita akan datang, pasti simbah sudah masakin gudeg spesial untuk kita," ucap Ara yang mendapati teriakan terima kasih dari para sahabatnya.


Akhirnya mereka bertujuh berangkat ke Bantul menggunakan taksi online. Hari sudah mulai larut, mereka sampai di kota Jogja pukul 5 sore dan sudah merasakan sangat kelelahan.

__ADS_1


###


Bu Ana atau biasa di sapa Mbah Na terlihat sangat antusias dengan kedatangan cucu-cucunya yang paling ragil (paling kecil) itu yaitu Sifa dan Ara.


Setelah menyambut para teman-teman Ara dengan makan malam yang membuat semuanya puas, karena Mbah Na memasak Bakmi Jawa, makanan yang banyak di jual di Kota Jogja.


Mbah Na tinggal bersama Pakde Ali dan Bude Nur di Yogyakarta, Pakde Ali adalah putra dari kakaknya Mbah Na yang sudah lama meninggal.


Bu Ana dan Pak Hendra adalah orang tua Fitria dan juga Mamanya Ara, dulu Bu Ana atau Mbah Na lama menetap di Jakarta ikut suaminya, karena Pak Hendra memang asli orang Jakarta.


Suami Mbah Na dulu adalah kepala rumah sakit di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Tetapi setelah Pak Hendra pensiun, akhirnya mereka kembali ke Jogja dan membuka usaha kuliner yang sampai sekarang masih berjalan.


Malam ini Revan dan kawan-kawan tidur di rumah sebelah, rumah milik Mbah Na yang satunya. Sedangkan arah Syifa dan menyetel tidur di rumah utama karena biar bagaimanapun mereka harus tidur terpisah rumah antara laki-laki dan perempuan.


Untung Mbah Na mempunyai dua rumah yang cukup besar, rumah yang satunya yang saat ini di pakai istirahat oleh Revan dan kawan-kawan biasanya di pakai untuk perkumpulan warga Rt atau acara pengajian rutin.


Akhirnya malam ini mereka terlelap setelah perut mereka juga sudah terisi penuh.


###


"Aduh, gue mules, anterin gue balik Ver!" seru Romi menarik lengan Vero.


"Sifa ikut kak!" ucap Sifa yang memang tidak ingin berjauhan dari Romi.


"Oke," jawab Romi tersenyum.


"Gue juga ikut," ucap Gilang bangkit.


"Eh, Gilang, gue juga ikut Lo!" kini Nita yang ikut-ikutan.


"Kita pulang dulu ke rumah Bu Ana ya, Ra, Van!" seru Nita.

__ADS_1


Akhirnya hanya tersisa Revan dan Ara di sana yang masih betah menikmati sunrise yang semakin terlihat.


Udara pagi hari di area pedesaan memang sangat sejuk, jauh dari polusi dan udara tercemar.


Revan sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya pada wajah Ara, sepertinya Revan memang sudah kecanduan dengan wajah cantik itu yang tidak pernah bosan di lihatnya.


"Muka gue ada kotorannya, ya?" tanya Ara menoleh pada Revan. Merasa sedari tadi di tatap terus membuat Ara risih.


Revan tersadar dari lamunannya. "Iya, tuh di pipi lo ada yang kotor," ucap Revan membuat Ara langsung refleks mengusap pipinya.


"Mana, gak ada kotorannya kok!"


"Sini, gue bersihin," ucap Revan menyentuh pipi Ara. Mengelus nya perlahan. Tatapan mata Revan tidak pernah lepas dari mata Ara. Seakan mengunci pada manik hitam itu.


Revan masih terus berusaha membersihkan kotoran di wajah Ara yang sebenarnya tidak ada itu. Revan merasa jantungnya berdetak kencang, apalagi posisi mereka yang saat ini saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Revan perlahan memajukan wajahnya, sekarang fokusnya adalah bibir pink Cherry milik Ara. Ingin rasanya merasakan manisnya bibir itu.


Ara bisa merasakan hembusan napas Revan yang hangat mengenai wajahnya. Kedua wajah mereka bahkan hanya berjarak 10 cm. Entah kenapa Ara diam saja saat Revan mengikis jarak diantara mereka.


Dan setelah itu apa yang terjadi?? next episode ya 😁😁


Bonus visual Revan yang pasti udah pada familiar kan 🥰



Bersambung


Othor mau promo novel keren karya sahabat othor judulnya ini ya


__ADS_1


__ADS_2