
Ara
Revan
Happy Reading 😊
Beberapa hari kemudian.
Hari-hari Revan dan Ara tidak sama lagi seperti biasanya. Mereka kini harus belajar ekstra lebih keras lagi karena sudah hampir memasuki semester ke-dua, yang artinya mereka harus serius dan tidak ada kata untuk berleha-leha kalau memang ingin naik kelas.
Revan dan Ara sudah sedang melakukan belajar bersama atau belajar privat di rumah Omnya Ara, sudah dua Minggu ini mereka melakukan kegiatan tersebut.
__ADS_1
Bagi Revan, Ara sebenarnya cewek yang cerdas dan gampang paham kalau sudah belajar serius. Ara menyebut 'Nggatekno tenanan' dan pasti dia langsung mengerti.
Tetapi khusus untuk pelajaran menghitung, Revan hanya bisa di buat geleng-geleng kepala. Entah kenapa kalau belajar soal Matematika atau pelajaran yang ada hitung menghitungnya, Ara pasti menyerah duluan, sambil angkat bendera putih lambang perdamaian.
"Van, gue nyerah!" Ara melempar bulpoin ke atas meja.
Otaknya dari tadi sudah ngebul sampai hampir gosong buat memecahkan satu rumus saja, tetapi tetap saja Ara tidak paham-paham.
Revan hanya geleng-geleng kepala, Revan juga tidak paham kenapa Ara sangat sulit untuk bisa memahami soal hitung-hitungan. Padahal Revan sudah menjelaskan sejelas-jelasnya.
"Ya udah, kalau lo masih belum bisa, kita istirahat dulu, tapi gak boleh nyerah," ucap Revan membereskan buku-buku yang ada di meja belajar Ara.
"Gue laper, tapi mau keluar kamar malu, di luar pasti banyak temen-temen Tante," ucap Aulia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ara langsung duduk dan merebut makanan ringan kesukaannya. "Makasih ya, Van!" Revan tersenyum.
Kemudian berganti merebahkan tubuhnya di ranjang Ara yang berukuran sedang.
Biasanya mereka akan belajar di ruang tamu atau ruang tengah, berhubung karena sedang ada acara arisan di rumah Fitria, perkumpulan para ibu-ibu sosialita yang sudah lama saling mengenal akrab dan berada di grup yang sama.
__ADS_1
Tentu saja Aulia (Bunda Revan) juga hadir di sana, karena Aulia dan Fitria ikut dalam satu grup.Tadinya Ara berniat untuk libur saja belajar privat nya, tetapi Revan tidak mau menyia-nyiakan waktu yang sudah semakin menipis untuk membuat Ara menguasai pelajaran Matematika.
Fitria dan Aulia sedang membagikan kue kering untuk para ibu-ibu sosialita yang jumlahnya sekitar tiga puluhan orang itu, kue yang di buat oleh Fitria, Sifa dan Ara tadi malam. Kebanyakan dari mereka memuji kue buatan sendiri dan menyamakan dengan kue-kue yang di jual di toko-toko bakery terkenal.
"Aulia, kamu tahu gak, kalau putra sulung mu akhir-akhir ini sering datang kemari," Aulia menghentikan suapannya.
"Maksudnya, Revan? kok bisa Revan sering kemari? memangnya dia ngapain?" tanya Aulia penasaran.
"Memangnya kamu gak tau, Lia? apa Revan tidak bercerita kalau setiap pulang sekolah, dia kasih les privat sama ponakan ku?" Aulia menggelengkan kepalanya.
"Revan anaknya tertutup, dia jarang cerita masalah pribadinya atau masalah di sekolah, ya gitu, punya anak laki dua-duanya tertutup, satu anak perempuan gak mau ikut Bunda dan Ayahnya," ucap Aulia.
Fitria mengangguk paham.
"Sekarang Revan sama Ara lagi belajar di kamar, biarlah mereka konsentrasi, semangat anak muda sekarang memang luar biasa, aku salut sama Revan yang mau bantu keponakan ku untuk belajar," ucap Fitria.
Aulia hanya tersenyum, sebenarnya dia merasa penasaran dengan keponakan Fitria yang bernama Ara.
'Kenapa namanya tidak asing, ya? Ara, seperti gadis yang telah menyelamatkan ku waktu itu, sampai sekarang aku masih belum bisa menemukannya, padahal aku berharap bisa bertemu lagi dengan gadis yang baik dan sangat cantik itu,' batin Aulia.
__ADS_1
Bersambung.
Nah loh, gimana reaksi Aulia saat bertemu dengan Ara, ya?😁