Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Buket mawar putih


__ADS_3

Happy Reading 😊


Revan hanya menatap bangunan di hadapannya ini dengan tatapan yang sulit diartikan. Baru saja dia memberi pelajaran berupa kata-kata yang menohok pada seorang wanita yang telah membuat masalah dengannya.


Revan mendapatkan izin dari Ara untuk menemui wanita itu untuk membuatnya paham dan mengerti bahwa apa yang telah dia lakukan untuk Revan selama ini adalah kesalahan yang besar.


Revan juga memutuskan kerja sama dengan keluarga Cecilia dan semua yang ada hubungannya dengan Cecilia.


Setelah mengeluarkan sumpah serapah dan berbagai umpatan untuk wanita itu, akhirnya Revan kembali ke rumah sakit. Sudah lebih dari sepuluh hari Ara di rawat dan sekarang kondisinya semakin membaik.


Kalau Cecilia bukan perempuan, sudah pasti Revan langsung memberi bogeman mentah setelah apa yang di lakukan wanita itu padanya dan juga sang istri.


"Ya Allah, sabar Van, kalau tidak demi Ara, aku sudah tidak sudi bertemu dengan wanita itu lagi!" gerutu Revan sambil mencengkram erat kemudinya.


Sungguh kalau bukan Ara yang menginginkan Revan untuk memberikan ketegasan pada Cecilia, cowok itu sama sekali tidak ingin melihat wajah Cecilia kembali.


Sebaiknya Revan segera kembali ke rumah sakit, dia ingin segera bertemu dengan Ara.


Revan berhenti di sebuah toko bunga, dia berpikir akan membelikan bunga untuk Ara. Sepertinya kalau di ingat-ingat selama ini Revan belum pernah memberikan bunga untuk Ara.


Ah, ternyata dia bukan tipe pria yang romantis, setidaknya dia pernah memberikan hadiah saat Ara ulang tahun dan itu lewat jasa on-line shop.

__ADS_1


Maklum, jarak terbentang jauh antar benua membuat Revan mau tidak mau, rela dan sangat rela merogoh kocek yang lebih dalam hanya demi memberikan hadiah untuk Ara.


"Mau membeli bunga apa, tuan?" tanya seseorang yang tidak lain adalah penjual bunga setelah melihat Revan turun dari mobilnya.


"Ya, aku ingin membeli bunga di sini, bunga yang bagus di toko ini, bunga apa?" tanya Revan.


"Semua bunga yang ada di sini bagus-bagus dan masih fresh semua, tuan. Anda tinggal memilih bunga apa yang anda inginkan?" ucap penjaga toko bunga yang masih terlihat muda itu.


Revan nampak berpikir, bunga apa yang di sukai oleh sang istri? Selama ini dia tidak tahu karena memang Ara terlihat tidak terlalu menyukai bunga.


"Kalau bunga untuk istri kita yang sedang sakit, sebaiknya bunga apa ya, Nona?" tanya Revan.


Wanita itu terlihat berpikir. "Sepertinya bunga mawar atau Daffodil bagus, kalau istri anda tidak suka bunga, belikan mawar putih saja, itu sih saran saya, tuan," jawab wanita itu.


"Baiklah, saya ambil bunga mawar putihnya," ucap Revan.


"Baik, tuan, apakah anda ingin menuliskan beberapa kalimat untuk istri anda?"


"Ehm, boleh saya tulis sendiri?"


"Tentu saja, saya kan juga menawari Tuan untuk menuliskan ungkapan isi hati Anda sendiri, ini tuan, silahkan!" wanita itu memberikan secarik kertas dan bolpoin untuk Revan.

__ADS_1


Setelah menulis beberapa kalimat untuk Ara, akhirnya Revan membawa sebuket mawar putih di genggaman nya masuk kedalam mobil dan segera melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.


Revan masuk ke dalam kamar rawat istrinya, dan melihat Ara sedang berbincang dengan Jovinka.


Revan memang menyuruh Jovinka untuk menemani Ara saat dia pergi ke kantor polisi menemui Cecilia.


Ayah, Bunda, Raka dan Kaila sudah pulang ke Indonesia beberapa hari yang lalu.


Jadi mau tidak mau hanya Jovinka yang bisa ia mintai tolong.


"Terima kasih, Jo, kamu boleh kembali ke kantor," ucap Revan pada sekretarisnya itu.


"Baik, tuan, nona Ara, permisi," pamit Jovinka.


"Sayang, apa kamu suka bunganya? Maaf, aku tidak tahu kamu suka bunga apa, jadi aku pilih mawar putih karena netral," ucap Revan terkekeh.


Ara mengambil buket bunga itu dan langsung menghirup aroma mawar putih yang masih segar itu.


"Jujur, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan bunga, tapi buket ini ku lihat dia berbeda dan aku suka," ucap Ara memeluk buket bunga itu.


Revan mendekati istrinya dan memeluknya dari samping. "Maaf ya, kalau selama ini aku kurang romantis? Sejak awal aku memang bukan cowok yang baik, bahkan di saat pernikahan kita sudah terlaksana, aku belum bisa membuat mu bahagia," ucap Revan memberi kecupan cepat di bibir Ara.

__ADS_1


Jovinka masih belum pulang dan dia memutuskan untuk mengintip keadaan di dalam kamar rawat Ara dan berapa yang tersaji di hadapannya.


Bersambung


__ADS_2