Terjerat Cinta Ketos Arrogan

Terjerat Cinta Ketos Arrogan
Keadaan Ayah


__ADS_3

Happy Reading 😊


Seminggu kemudian.


Ara dan Aldo memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena mendapatkan kabar bahwa Ayah mereka masuk rumah sakit.


Permasalahan yang dihadapi oleh Aldo sudah di tangani oleh teman Revan yang sudah menjadi pengacara handal di Jepang. Dengan bukti yang cukup akurat bisa di pastikan Aldo akan memenangkan persidangan itu, apalagi ada konspirasi yang di lakukan oleh pemilik perusahaan, dengan cara menukar Ara dan jaminan hutang lunas.


Untung saja Revan mengenalkan temannya itu, kalau tidak, bisa di pastikan Aldo akan kesulitan memenangkan kasus tersebut. Karena Aldo hanya orang biasa yang jabatannya hanya sebatas karyawan.


Langit sudah mulai gelap, padahal jam masih menunjukkan pukul 5 sore. Mendung pekat menyelimuti kota Yogyakarta.


Ara dan Aldo memakai taksi online dari bandara menuju ke rumah sakit Dr. Sardjito. Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di pusat kota Jogja. Maklum, karena bandara YIA ada di kota kulon Progo yang memang berjarak sedikit jauh dari pada Bandara Adisucipto Yogyakarta.


Hujan rintik-rintik dan suara petir saling bersahutan menyambut mereka. Taksi online itu langsung meluncur ke rumah sakit Dr. Sardjito. Sejak tadi keadaan Ara benar-benar gelisah.


Sudah berapa tahun Ara tidak bertemu dengan sang Ayah. Setelah kejadian perceraian itu, Ara lebih memilih menghindar karena tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Bagi seorang anak, perpisahan orang tua adalah hal bisa membuat mereka down. Siapa yang menginginkan keluarga kita bercerai berai, pasti di situ anak lah yang menjadi korban.


tidak terkecuali untuk Ara, di mana saat itu usianya masih 16 tahun. Seharusnya dia masih bisa tersenyum bahagia bersama keluarganya yang utuh. Tapi mungkin ada faktor lain mengenai keputusan yang di ambil oleh orang tuanya.


Setelah turun dari dalam taksi online, Ara langsung berlari menuju ruangan Dahlia, ruang tempat di ayahnya di rawat.


Istri mudah ayahnya lah yang memberitahunya, bahwa ayahnya selama sakit sering menyebut nama Ara, Aldo dan ibunya. Entah kenapa bibirnya selalu mengatakan kata maaf dan maaf. Mungkin masih ada terbesit rasa menyesal karena telah menyia-nyiakan mereka.


"Ayah!!" seru Ara saat baru masuk ke ruangan sang ayah. Di sana sudah duduk seorang wanita yang sedang memangku seorang gadis kecil cantik yang begitu menggemaskan, dan Ara tahu siapa gadis kecil itu. Putri dari Ayahnya dan istri barunya yang masih muda itu.


Bahkan menurut Ara kalau ibu tirinya itu lebih pantas dengan kakaknya. Lihat saja umurnya yang masih sekitar tiga puluhan awal.


Ara melihat Ayahnya yang tergolek di atas ranjang pasien dengan memakai alat bantu pernapasan.

__ADS_1


"Ara, Aldo! Akhirnya kalian datang!" seru wanita yang duduk di samping ranjang sang Ayah.


"Tante Susi, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Aldo.


Wanita yang masih terlihat muda itu menatap Ara dan Aldo dengan mata yang sembab. Sepertinya dia baru saja menangis sepanjang hari. "Ayah kalian, keadaannya tidak baik-baik saja, sekarang dia sedang tidur, beberapa hari ini dia selalu menanyakan tentang kalian," jawab Susi.


Ara mengambil tangan ayahnya dan mencium nya. "Ayah, Ara kembali," lirih Ara. Matanya memanas dan kini sudah menggenang air yang siap jatuh kapan saja.


Sejujurnya, Ara masih sangat menyayangi Ayahnya. Meskipun selama beberapa tahun ini dia sedikit kecewa dengan sang Ayah karena telah memilih wanita muda di bandingkan dengan ibunya.


"Ayah, bangunlah. Ara minta maaf!" bisik Ara kini sudah menumpahkan air matanya. Dadanya terasa sakit saat melihat keadaan sang Ayah yang terlihat semakin kurus dan tua.


Sangat berbeda dengan sosok ayahnya yang dulu. Tinggi, besar dan tampan. Tentu saja banyak wanita muda yang bisa langsung menyukai ayahnya termasuk istri barunya yang sekarang.


Di sisi lain.


Revan, Sandi, Aulia, Raka dan Kaila sudah bersiap duduk di dalam pesawat pribadi milik Sandi. Rencananya mereka akan terbang ke Jogja setelah mendengar kabar bahwa Ayah Ara masuk rumah sakit.


"Sepertinya nanti Abang akan langsung mengucapkan ijab qobul saja, Yah. Melihat kondisi Ayah Ara yang seperti ini, Abang dan Ara juga sudah menyiapkan berkas-berkas pernikahan. Jadi semuanya sudah siap, rencananya sebulan setelah lamaran kita nikahnya, tapi sepertinya harus di majukan," ucap Revan.


Sandi dan Aulia nampak saling memandang. Sepertinya memang mereka harus segera menikah, berhubung ayah Ara masih ada. Bukan bermaksud berpikir yang buruk, tapi melihat kondisi terakhir yang di beritahu oleh Aldo, keadaan ayahnya sudah sangat lemah.


Tapi mereka semua juga berdoa akan kesembuhan Ayah, mudah-mudahan masih ada keajaiban yang di berikan Tuhan.


###


"Sah!"


"Sah!"

__ADS_1


"Alhamdulillah," Revan tersenyum bahagia menatap wanita yang duduk di sampingnya yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Ara hanya bisa menunduk dan mengusap air mata yang sejak tadi jatuh tanpa permisi. Di sisi lain dia merasa bahagia, apalagi melihat mata sang ayah yang kini juga sudah berkaca-kaca.


Ara menyalami Revan untuk yang pertama kali setelah menjadi istri sahnya. Terlihat raut bahagia sekaligus haru di hadapan mereka. Revan menyalami sang ayah mertua.


"Jagalah putriku, jangan sampai kamu menyakiti nya, Revan. Ayah yakin kamu adalah pria yang tepat untuk Ara," ucap Ayah mertua Revan.


"Iya, Ayah, Revan janji akan menjaga dan menyayanginya Ara, Ayah tenang saja, Ara akan bahagia bersama saya," jawab Revan mantap.


"Selamat ya, nak! akhirnya kamu resmi menjadi menantu Bunda," ucap Aulia memeluk Ara.


"Iya Bunda, Ara senang, terima kasih," ujar Ara membalas pelukan Aulia.


Sandi juga mengucapkan selamat untuk pernikahan dadakan ini. Semua ini mengingatkan tentang dirinya dulu bersama Aulia. Di mana mereka juga menikah di rumah sakit karena permintaan sang nenek.


"Bunda, kenapa aku merasa pernikahan putra sulung kita ini begitu mirip dengan pernikahan kita dulu, ya?" bisik Sandi di telinga sang istri.


"Sama tapi banyak bedanya, Yah! dulu kita sama-sama tidak saling mencintai dan terpaksa, tapi kalau mereka, sama-sama saling mencintai dan tidak terpaksa," jawab Aulia masih fokus menatap kedua pasangan suami-isteri baru yang tengah berbincang dengan Raka dan Kaila.


Sandi memeluk pinggang Aulia posesif. "Tapikan tidak lama setelah itu cinta kita bersemi dan sekarang lihatlah, bukti cinta kita yang tidak akan pernah lekang oleh waktu," ucap Sandi mencium pucuk jilbab Aulia.


"Ayah, ini di tempat umum! jangan mesum!" bisik Aulia sambil mencubit perut suaminya.


Sandi langsung tertawa lirih melihat pipi Aulia yang sudah bersemu merah.


Ayah Ara tersenyum bahagia melihat putrinya yang dapat di terima dengan baik oleh keluarga suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


Maaf baru update 🙏🙏🤧


__ADS_2