
Maaf ya sebelumnya untuk para akak2 reader, kalau update agak slow, othor lagi manja pokoknya, gak suka begadang lagi, bawaannya ngantuk terus, waktunya di habiskan untuk bobo karena gak kuat nyium bau apapun πππ tapi sebisa mungkin othor usahakan bisa nulis. Jadi jangan bosan-bosan ya nunggu up Revan dan Ara π₯°
Happy Reading.
Revan perlahan memajukan wajahnya, sekarang fokusnya adalah bibir pink Cherry milik Ara. Ingin rasanya merasakan manisnya bibir itu.
Ara bisa merasakan hembusan napas Revan yang hangat mengenai wajahnya. Kedua wajah mereka bahkan hanya berjarak 10 cm. Entah kenapa Ara diam saja saat Revan mengikis jarak diantara mereka.
Jantung kedua manusia itu sudah berdetak kencang. Sebuah hasrat naluri manusia tiba-tiba muncul dalam diri mereka, Ara dan Revan sudah bukan anak kecil lagi yang tidak paham dengan situasi yang sangat intim seperti ini.
"Ra, gue pengen nyium lo, bolehkan?" bisik Revan.
Tenggorokan Ara rasanya tercekat, ingin menolak tapi sentuhan Revan dan nalurinya mengatakan lain. Ara hanya diam sambil menahan napas.
Merasa tidak ada penolakan dari Ara, Revan langsung memajukan wajahnya dan mencium bibir Ara yang sejak tadi sudah menghipnotisnya.
Hanya menempel, sedikit agak lama, Revan merasakan Ara mencengkeram kuat lengannya. Akhirnya dengan memberanikan diri Revan meraup bibir Ara, berusaha belajar sebuah ciuman yang belum pernah dia lakukan sebelumnya yang seperti ini.
Hanya melihat di ponselnya dan Revan sekarang mempraktekkan apa yang dia tonton dengan cewek yang dia cinta.
πππ
Nita menarik tangan Gilang agar cowok itu ikut pulang ke rumah Mbah Na. Setelah tahu kalau Revan dan Ara tidak mengekor di belakang mereka, perasaan Gilang mendadak was-was.
"Nita, gue mau susulin Revan sama Ara, kenapa mereka tidak ikut kita balik!" seru Gilang merangsek maju, tapi langsung di halangi oleh Nita.
"Mereka bakal balik sebentar lagi, sekarang bantuin gue nyuci baju di kali, masa mau numpang mesin cuci punya simbahnya Ara, kan gak enak," jawab Nita langsung menyeret lengan Gilang.
__ADS_1
"Ayo Gilang!! cepet!!"
Cowok itu pun akhirnya pasrah saja dengan sikap Nita yang memaksanya, biar bagaimanapun Revan sekarang sudah lebih perhatian dan peduli dengan Ara, Gilang harus percaya pada Revan kalau cowok itu tidak akan menyakiti Ara lagi.
Akhirnya Gilang mengikuti langkah Nita yang mengajaknya pergi ke kali. Tempatnya berada tidak jauh dari rumah Mbah Na. Dalam perjalanan ke Rumah simbahnya Ara, Gilang masih tetap memikirkan Revan dan cewek yang masih di sayangi sampai saat ini. Gilang mengusir pikiran buruknya, tidak mungkin kan kalau Revan berbuat macam-macam dengan Ara, apalagi di tempat yang masih sepi seperti itu.
Selama beberapa hari ini Gilang lebih sering melihat Ara bersama dengan Revan ketimbang dengan Nita, yang mana biasanya Nita akan selalu di sisi Ara. Malah sekarang Nita yang sering nempel padanya kaya perangko yang di kasih lem kertas.
"Sepertinya Revan memang benar-benar membuktikan pada semua orang kalau dia serius ingin mengambil hati Ara kembali," ucap Nita tiba-tiba.
Seakan cewek itu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh gilang.
"Maksudmu?" tanya Gilang menoleh.
Nita menghentikan langkahnya dan ikut menoleh ke arah Gilang.
"Gue kasian sama Revan, niat dia sekarang tulus banget, sudah lebih lima bulan dia ngejar Ara, meskipun Ara sekarang cuek atau belum membuka hati lagi, tapi gue yakin kalau Ara udah siap membuka hatinya dan mempersilahkan Revan masuk, mereka berdua akan menjadi pasangan yang serasi, sama-sama saling mencintai," jawab Nita dengan mata berbinar.
Sepertinya hal itu juga yang membuat Ara menjadi semakin menghargai perasaan Revan.
"Yah, apa udah gak ada peluang untuk gue bisa mendapatkan cintanya Ara," gumam Gilang.
Nita memukul bahu cowok itu. "Awas, jangan jadi pebinor, ya?"
"Siapa yang jadi pebinor, mereka kan belum punya hubungan apa-apa, bukan sepasang kekasih! jadi di sini gak ada yang merebut pacarnya siapa!! mengerti!!" ucap Gilang sontak membuat Nita memukul lengan satunya.
"Pokoknya lo tetep gak boleh sama Ara, ngerti gak sih, kalau gue sebenernya udah lama suka sama elo!! dasar Gilang gak peka!!" seru Nita membuat Gilang melebarkan matanya.
__ADS_1
Nita langsung pergi begitu saja dari hadapan Gilang dan berjalan cepat menuju sungai.
"Nit!! tunggu!! eh kok gue di tinggal, sih?!" seru Gilang mengikuti Nita dengan sedikit berlari.
Sementara di tempat lain.
Revan memegang kedua pipi Ara yang sudah terlihat merona. Bibir pinknya yang sudah basah karena perbuatannya membuat Revan ingin melakukannya lagi dan lagi.
Ara melepaskan tangan Revan dari wajah, dia langsung memalingkan muka menghadap ke arah lain, yang penting dia tidak beradu pandang dengan mata elang Revan.
Apalagi baru saja Ara tidak bisa menolak keinginan Revan dan sepertinya memang tidak di pungkiri bahwa dia juga menginginkan. Anggaplah Ara sudah gila, siapa yang tidak gila oleh pesona Revan. Kalau saja semua orang tahu bahwa selama ini dia mati-matian menahan rasa di hatinya agar tidak jatuh cinta lagi pada Revan, semua itu hanyalah kamuflase.
Tidak ada orang yang dengan mudahnya melupakan cinta pertamanya, meskipun awalnya sangat sakit dan membuat Ara trauma untuk membuka hatinya kembali, tapi tekad dan niat Revan yang benar-benar tangguh menjebolkan dingin pertahanan hatinya, akhirnya bisa di robohkan hanya dengan suatu kejadian luar biasa dalam hidup Ara, yaitu mendapatkan nilai sempurna pada mata pelajaran yang sangat tidak ia suka.
"Ra, gue tahu kalau di hati lo masih ada setitik rasa buat gue, mulut lo bicara enggak, tapi hati dan tubuh lo berkata lain, gue suka saat lo memberi izin gue buat nyium lo," bisik Revan masih dengan posisi yang sangat dekat.
"Sok tau lo, Van!!" Revan terkekeh melihat wajah Ara yang masih merona.
"Duh, gemesnya, asal lo tau, ini adalah first Kiss gue, dan lo yang mendapatkannya," Ara langsung melotot ke arah Revan.
"Gue gak minta, lagian tuh bibir boleh di kasih ke siapa aja, sana! gue mau balik!" Ara bangkit berdiri. Berdua dengan Revan di tempat yang sepi seperti ini bisa membuat jantung bermasalah. Sejak tadi rasanya gemuruh di dadanya tidak kunjung usai.
"Eh, tunggu, Ra! gue mau tanya, itu first Kiss lo juga kan?" Ara hanya diam tidak menjawab.
"Ra, jawab gue donk! gue gak peduli lo udah pernah ciuman atau belum, yang penting first Kiss gue buat elo!" Ara menatap Revan dan tersenyum samar.
"Gue udah sering di cium sama Abang gue, jadi gak tau kalau ini bisa di namakan first Kiss atau bukan, yang jelas kalau orang lain ya baru sama elo," jawab Ara membuat Revan manyun.
__ADS_1
Bersambung.
Maaf ya kalau kurang greget π₯Ίπ