
Happy Reading 😊
Revan menekan tengkuk Ara dengan lembut, untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Bibir mereka saling menempel dan saling membuka agar ciuman itu lebih dalam.
Sensasi aneh dan seperti tersengat aliran listrik yang menjalar ke pusat inti, Ara merasakan banyak kupu-kupu yang beterbangan di sekitar perutnya.
Revan menginginkan lebih, tapi dia sadar bahwa istrinya belum pulih total. Setelah malam pertama waktu itu, tentu saja Revan ingin bisa memasuki istrinya lagi.
Seperti sekarang ini, Revan hanya bisa menikmati ciuman dengan menahan hasrat agar tidak semakin menjadi.
Ara merasa sudah kehabisan napas dan Revan langsung melepaskan ciuman mereka. Menyatukan kening sambil mengusap bibir Ara dengan ibu jari, merasakan hangatnya hembusan napas Ara yang menerpa wajahnya.
Sungguh tidak pernah dia bayangkan, bisa memiliki wanita ini sepenuhnya. Usahanya tidak sia-sia untuk mendapatkan wanita ini. Revan berjanji akan membahagiakan Ara seumur hidupnya, meskipun tidak di pungkiri pasti akan banyak badai di dalam rumah tangga mereka, tapi Revan tetap akan menjadi pemimpin agar rumah tangga mereka tidak akan goyah meski di terpa badai apapun.
Revan sedikit terkejut ketika Ara kembali menempelkan bibirnya.
❤️❤️
"Woah, apa-apaan ini!!" Martin menepuk bahu Jovinka saat wanita itu mengintip kegiatan Revan dan Ara.
"Hahahaha, apa tidak ada kerjaan lain kamu, Jo!" Martin menutup mulutnya agar tidak tertawa keras.
Jovinka mendengus kesal ketika melihat Martin menertawakannya.
"Kenapa kamu mengintip seperti penguntit? Kalau tuan Revan tahu, kamu bisa di pindah ke benua Antartika," ejek Martin yang baru saja datang dan melihat Jovinka sedang mengintip ke dalam ruang rawat istri atasannya itu.
"Eh, jangan sampai Tuan Revan tahu! Kalau sampai dia tahu berarti kamu yang memberitahu, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu, Martin!!"
Pria berusia tiga puluh tahun itu terkekeh geli mendengar ancaman Jovinka. Sebenarnya memang sudah lama wanita itu menyukai Revan, tapi tentu saja Jovinka tidak akan pernah masuk ke dalam kriteria Revan.
Jovinka melangkah pergi sambil menghentakkan kakinya, Martin hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah kekanakan wanita itu.
"Dasar wanita aneh!"
Sedangkan di dalam kamar rawat yang lumayan besar itu, Revan dan Ara masih saling berciuman, menyalurkan hasrat terpendam dan perasaan yang kalut selama beberapa hari semenjak kecelakaan itu.
__ADS_1
"Baru juga ngerasain buka segel nikmat, tapi sudah di beri ujian seperti ini, apa karmaku kurang lama, sudah 6 tahun aku menahan Semua, eh giliran udah halal, masih juga banyak halangan dan rintangan, kenapa sih, yank! Kamu masih belum memaafkan ku sepenuh hati, ya?" tanya Revan setelah mengakhiri ciuman panjang mereka.
Ara tersenyum lembut. "Aku sudah lama memaafkanmu, mungkin ini ujian untuk kita, harus banyak bersabar dan berserah diri, percayalah kalau kita pasti akan bahagia, dan kehidupan rumah tangga kita sakinah mawadah warahmah, Aamiin!"
"Aamiin!"
###
Beberapa hari kemudian.
Ara sudah dua hari ini di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan karena memang pemulihan nya berjalan dengan cepat.
Semua itu juga tidak lepas dari kemauan Ara yang ingin segera sembuh dan bisa menjalani kehidupannya sebagai seorang istri.
Ara tahu bahwa dia belum mampu menjalankan perannya selama ini, masih banyak Revan yang berperan dan benar-benar membuktikan cintanya.
Kali ini Ara juga ingin bisa menjadi seorang istri yang di banggakan suaminya, memberikannya cinta dan perhatian.
Setiap hubungan pasti harus di imbangi dengan saling memberi perhatian dan dukungan, kesetiaan dan kepercayaan.
"Sayang, malam ini kamu ingin makan apa?" tanya Ara lewat sambungan telepon dengan suaminya
"Suruh Martha membuatkan ku sup Ayam jamur, sayang, cuaca hari ini sangat dingin, aku ingin makan makanan hangat yang berkuah," jawab Revan.
Memang cuaca di Jerman sekarang memasuki musim dingin. Dan biasanya puncak-puncaknya saat bulan Desember-Januari.
"Ehm, baiklah, ada lagi?"
"Aku ingin coklat panas, tapi nanti bikinnya pas aku udah pulang. Ehmm,, kamu sudah makan siang, sayang? Aku kangen, sekarang baru makan siang bareng klien di luar, padahal aku ingin makan siang bareng kamu," ucap Revan dengan nada di buat manja.
Biasanya memang Revan menyempatkan diri untuk pulang saat jam makan siang, jarak antara kantor dan apartemen nya juga tidak terlalu jauh. Revan juga ingin makan siang bersama sang istri.
"Kan kamu lagi nemenin klien, gak apa-apa kok, aku juga sudah makan bersama Martha," jawab Ara.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya dulu, jangan lupa istirahat, aku nanti akan pulang cepat, love you, My wife, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Ara meletakkan ponselnya di nakas, sudah seminggu ini Revan kembali masuk ke kantor, dia ingin menyelesaikan beberapa kerja sama dan akan segera mengumumkan pengunduran dirinya dari perusahaan.
Revan akan mengurus perusahaan sang Ayah yang ada di Jakarta. Dan perusahaan yang ada di Munich akan di serahkan kepada Raka. Sejak awal Revan memang lebih mantap untuk menjalankan perusahaan yang ada di Jakarta.
"Martha, aku nanti akan masak makan malam untuk Revan, siapkan ayam, jamur dan kol, tolong di bersihkan, ya?" ucap Ara pada asisten rumah tangga dengan memakai bahasa Inggris.
Untung saja Martha paham dengan bahasa Internasional itu.
"Baiklah, Nona," jawab Martha kemudian langsung berjalan menuju dapur. Sedangkan Ara memilih untuk duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.
Sepertinya kegiatannya setelah menikah benar-benar sangat membosankan. Apalagi setelah kecelakaan itu, Revan tidak memperbolehkan Ara melakukan apa-apa, padahal sekarang kondisinya sudah sangat sehat.
Waktu berlalu begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul Lima sore. Setelah sholat ashar, Ara memutuskan untuk langsung berkutat di dapur. Dia berjanji akan mulai masak untuk hari ini.
Pasti sebentar lagi Revan juga sudah pulang, meskipun suaminya itu melarangnya melakukan aktivitas yang berat, seperti sekarang ini yaitu memasak, tapi Ara tetap akan memasak makan malam untuk suaminya.
Revan tersenyum sumringah saat masuk ke dalam apartemen.
"Assalamualaikum, sayang," sapa Revan berjalan masuk ke dalam.
Pria itu mengedarkan pandangannya, biasanya Ara sudah menyambutnya tetapi kenapa sekarang sepi dan tidak terlihat Ara yang langsung sungkem mencium punggung tangannya.
"Ara! sayang, kamu sedang apa!" Revan berlari naik ke lantai atas dengan perasaan yang was-was.
"Ara!" Reban membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati Ara di dalam. Kaki Revan melangkah menuju kamar mandi dan langsung membuka pintunya.
Kosong, dan hal itu langsung membuat Revan panik setengah mati.
"Ara!! kamu di mana!!"
Bersambung.
Mana nih bunganya 🌷🌷🌷
__ADS_1