
Happy Reading ๐
Ara bingung harus menjawab apa, kenapa semua ini menjadi rumit, sejujurnya dia tidak ingin menikah cepat-cepat.
"Kenapa, yank? Apa kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Revan yang melihat Ara hanya diam saja.
"Bukan gitu," Ara menghela napas kasar. "Apa kamu beneran siap untuk nikah di usia muda?" tanya Ara pada sang kekasih.
"Aku siap banget, sayang! Lihat sekarang aku sudah sukses, sesuai keinginannya mu yang mengatakan bahwa kita harus sama-sama sukses, agar kamu mau bersama ku, dan hal itulah yang membuatku semangat belajar sambil bekerja management bisnis, aku siap kapanpun untuk bisa bersama dengan mu," jawab Revan.
Ya, Ara dan Revan memang sejak dulu saling mensupport, mereka saling mendukung satu sama lain agar cita-cita yang di inginkan tercapai.
"Kalau kamu siap, aku juga siap," jawab Ara tersenyum, membuat Revan juga langsung tersenyum lebar.
"Tapi tetep harus pakai lamaran, dan nikahnya juga harus di Indonesia, aku ingin kamu dan Mas Aldo pulang ke Indonesia, kita bisa...!" Revan menghentikan ucapannya ketika terdengar suara dering ponsel yang sangat nyaring.
Revan mengambil ponsel itu dan melihat nomer tidak di kenal kembali yang menelepon. Revan tahu pasti itu nomer Cecilia. Karena sejak Jovinka mengatakan pada Revan bahwa Cecilia masuk ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri, dia sering mendapatkan email dari Martin sang asisten pribadi bahwa ada beberapa klien menarik kembali sahamnya.
Tetapi itu tidak berpengaruh sama sekali karena Revan masih memiliki segelontor dana untuk menambal saham yang di ambil kembali itu.
"Kenapa gak di angkat?" tanya Ara yang melihat Revan hanya diam tanpa ekspresi. Sejurus kemudian dia menatap Ara dan tersenyum.
"Dari nomer tidak di kenal, aku angkat dulu, ya?" Ara mengangguk.
Revan menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo?"
"Halo, Revan! kenapa kamu menghindar? Aku tahu kamu tidak mau bersamaku tapi please jangan pergi! Stay here with me!" Revan menatap Ara yang juga sedang menatapnya.
Ara bisa mendengar suara seorang wanita yang tengah menelepon kekasihnya itu, ada rasa tidak suka saat Revan dan wanita itu berinteraksi dengan bahasa yang sialnya Ara tidak paham sama sekali.
Ara tahu kalau Revan berbicara menggunakan bahasa Jerman, misalnya mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris, pasti Ara langsung paham.
Masih terdengar sedikit jelas bahwa sekarang wanita di sebrang telepon itu menangis dan entah apa yang di ucapkan. Hal itu membuat Ara semakin sesak. Kenapa dia harus merasa cemburu saat Revan berbicara dengan wanita lain.
Bukankah itu hal wajar karena tidak mungkin kan kalau Revan selama enam tahun di Jerman dia tidak berinteraksi dengan lawan jenis. Kenapa Ara mesti cemburu.
"Cecil, aku tidak peduli dengan ancaman mu, kamu tidak pernah mencintaiku, kamu hanya terobsesi padaku, dan akan ku tegaskan bahwa sekarang aku sedang bersama dengan calon istriku, aku akan menikah dan aku tidak peduli dengan ancaman konyol mu itu, kalau kamu mau bunuh diri, aku tidak peduli, aku tahu kamu dalang di balik beberapa klienku memutuskan hubungan kerja, aku tahu kamu memang wanita hebat, tapi kalau kamu memang wanita yang smart, seharusnya kamu tidak akan melakukan hal yang memalukan seperti ini! Ku harap kamu paham dan aku sudah tidak peduli dengan dirimu, aku memiliki orang yang sangat ku cintai dan kalau kamu mengancam ku akan menyakiti istriku, akan ku pastikan sendiri bahwa aku juga tidak akan tinggal diam!" Revan langsung mematikan panggilan itu. Menatap Ara yang sudah mengalihkan pandangannya.
Revan tahu kalau Ara terlihat tidak suka ketika yang menelepon Revan adalah seorang wanita. Ada sedikit rasa bangga di hatinya karena membuat Ara cemburu dan artinya kekasihnya ini memang sangat mencintai nya.
Sepertinya Revan tidak ingin membuat Ara berlama-lama menahan rasa cemburu.
"Lalu kenapa tadi dia menangis? Apa kamu melakukan sesuatu kepadanya?" tanya Ara sedikit penasaran.
Revan mengambil tangan Ara dan menggenggamnya. "Aku menolak cintanya, jadi dia menangis, aku mengatakan bahwa saat ini tengah bersama dengan calon istriku," jawab Revan mencium punggung tangan Ara.
Membuat hati gadis itu langsung menghangat. Ah, Ara percaya bahwa Revan tidak mungkin mengkhianatinya. Dia juga bisa melihat ekspresi wajah Revan dan nada suara datar nya saat cowok itu menjawab telepon dari wanita bernama Cecilia tadi.
"Jadi dia tidak terima kalau kamu menolak cintanya?" Revan mengangguk. Masih menggenggam tangan Ara yang mulai menghangat itu.
__ADS_1
Revan menatap Ara sangat dalam, sepertinya dia harus menceritakan semua permasalahan nya dengan Cecilia, karena Ara sudah tahu dan mendengar sendiri saat Cecilia menangisi memohon kepada Revan. Dan Revan langsung menolak nya dengan tegas.
Tetapi permasalahannya di sini adalah Cecilia adalah wanita nekat, dia harus menceritakan kepada Ara agar Ara juga bisa hati-hati, meskipun Revan berjanji akan selalu melindunginya.
"Sayang, ada suatu hal yang harus aku ceritakan kepadamu, tapi tolong jangan menyela sebelum aku selesai bercerita, ya?" Ara mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa?" Revan menarik hidung mancung gadis itu gemas.
"Karena ini cerita penting, suatu kejadian di mana aku belum pernah menceritakan nya padamu, kamu tahu sendiri kan kalau selama ini aku selalu menceritakan semua masalahku, tapi untuk satu ini aku memang belum memberitahu mu, jadi sekarang saatnya yang tepat untuk aku bercerita," ucap Revan yang mendapatkan anggukan dari Ara.
Akhirnya Revan menceritakan semua kejadian demi kejadian yang dia alami dan adanya Cecilia yang selalu menolongnya. Tidak ada yang terlewatkan saat Revan menceritakan tentang wanita itu, bagaimana dia mengancam akan menyakiti Ara jika Revan menikahi nya dan percobaan bunuh diri yang dilakukan Cecilia membuat Ara histeris dan sangat shock.
"Itu bukan cinta, Revan!!" seru Ara ketika Revan berhenti bercerita.
"Gila, ya Allah, itu gila namanya!! Kenapa tiba-tiba aku jadi ingin menjadi psikolog saja," Ara mendesah gusar. Merasa bahwa wanita seperti Cecilia memang ciri-ciri wanita yang nekat.
"Maka dari itu, aku ingin kita secepatnya menikah, aku yakin setelah itu kita akan menghadapi semua masalah bersama, membuat cinta kita semakin kuat dan kokoh!" ucap Revan.
Sepertinya Ara memang harus menerima ajakan Revan untuk segera menikah, dia juga tidak ingin mengambil resiko kedepannya, apalagi Tuan Takasi yang masih berharap bahwa Ara akan menerima lamaran nya, padahal jelas-jelas Aldo sudah menolaknya. "Baiklah, aku nurut kamu saja, Van, yang penting semua keluarga sudah setuju, aku juga akan setuju, tapi masalah nya sekarang, Mas Aldo akan berurusan dengan polisi karena dia menolak lamaran Tuan Takasi!" ucap Ara sendu.
"Brengsek!! sepertinya Mas Al sudah di jebak, aku akan menelepon sahabat ku yang seorang pengacara, dia asli orang Jepang dan sepertinya dia sekarang sudah kembali ke sini, aku coba hubungi dia dan semoga saja temanku ini mau membantu kasus Mas Aldo," ucap Revan kemudian mencari nomer sahabatnya itu.
Tiba-tiba Ara menghambur ke pelukannya, membuat Revan tersentak kaget.
"Makasih, Van. Ternyata aku memang tidak salah memilih mu!"
__ADS_1
Bersambung.
Mana bunga dan kopinya??๐นโ