
Happy Reading 😊
Setelah memakamkan jenazah ibunya di tempat pemakaman umum di kota yang di tinggali Ara, dan yang pasti menghabiskan biaya sangat fantastis, akhirnya Ara dan Aldo hanya berdiam diri di rumah.
Para pelayat yang jumlahnya tidak banyak juga sudah pada pulang. Ara hanya termenung di kamarnya sambil memeluk foto sang ibu. Aldo juga hanya bisa membuat dirinya agar tidak terlalu shock karena merasa belum siap di tinggalkan oleh ibunya.
Rasanya sudah tidak ada semangat lagi di hidup mereka, apalagi setelah sang ibu meninggal di saat usianya masih terbilang muda.
Meskipun berat, tetapi Ara sudah ikhlas dan merelakan kepergian wanita yang sangat dicintainya itu. "Dek, ibu berpesan sebelum pergi, beliau ingin kamu tetap belajar tanpa harus bekerja, sebenarnya ibu tidak suka kalau kamu kerja paruh waktu seperti itu, ibu memberikanku kartu kredit ini dan katanya uang di dalam kartu itu untuk biaya kuliah mu, kamu harus tetap berjuang agar bisa menjadi dokter, bukankah itu cita-cita yang kamu inginkan?" tanya Aldo menatap Ara yang sejak tadi hanya menunjukkan wajahnya.
"Ara udah males, Mas, sekarang udah gak semangat lagi buat ngapa-ngapain, ibu udah gak ada, Ara udah males hidup, Mas!" Aldo memegang dagu adiknya untuk mengarahkan kepadanya.
"Di mana Ara yang selama ini menggebu-gebu buat jadi pinter? kenapa sekarang mlempem kaya gini, to? jangan bikin ibu kecewa, dek! pokoknya kalau kamu masih ingin bisa berbakti sama ibu, semangat belajar dan gapailah keinginan mu, aku akan selalu dukung kamu, dek!" ucap Aldo menyemangati.
Ara menatap wajah kakaknya yang berselisih 5 tahun darinya itu. Masih dengan mata merah dan sembab yang terpancar dari wajah Ara, akhirnya gadis itu mengangguk lemah.
Aldo merasa bahagia melihat Ara yang mau melanjutkan kuliahnya lagi, dia berharap apa yang di inginkan Ara dan almarhum ibunya bisa terwujud.
###
__ADS_1
4 Tahun kemudian
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun di jalani oleh Ara dengan semangat. Tahun demi tahun di lalui dengan berbagai drama kehidupan.
Ara sangat beruntung dia bisa mengambil pendidikan kedokteran di Jepang, di negara ini dia benar-benar menjadi gadis yang disiplin dan bekerja keras. Tidak tanggung-tanggung, hanya dalam Lima tahun Ara bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran yang biasanya relatif di tempuh selama Enam tahun.
Ara akan mengambil gelar master untuk dua tahun ke depan, tetapi sepertinya dia harus istirahat terlebih dahulu dari buku-buku dan materi-materi yang selama Lima tahun ini membuatnya stres.
Ponsel Ara berdering, gadis itu baru saja selesai mandi dan hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Wajahnya terlihat bahagia saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, iya, Van?"
"Wa'alaikumsalan, kapan sih kamu mau panggil aku yank atau say gitu, kan kita udah jadian, masa kamu gak ada mesra-mesranya kalau manggil aku sih, Yank!"
Revan mengancam akan menjerat Ara sampai kapanpun dan tidak akan pernah melepaskannya, dia tidak peduli dengan hubungan jarak jauh antar Benua, meskipun mereka jauh yang pasti hati mereka tetap dekat.
"Iya, sayang,, ada apa?" ulang Ara tidak mau membuat cowok yang sudah berstatus sebagai pacarnya itu mengomel sepanjang telepon.
"Nah, gitu, donk,, sayang, aku mau kasih kabar kalau lusa aku akan kembali ke Indonesia, aku harap kita bisa segera bertemu, aku sangat merindukanmu, jadi sebelum aku ke Indonesia aku akan ke Jepang terlebih dahulu, sudah Enam tahun, sayang, aku benar-benar merindukanmu," ucap Revan di sebrang telepon.
__ADS_1
Ara tersenyum bahagia, setelah sekian lama mereka berdua sama-sama menempuh pendidikan di luar Negeri dan hanya bisa saling menguat kan lewat telepon dan saling melepas rindu dengan video call, akhirnya keinginannya untuk bertemu Revan akan bisa terwujud sebentar lagi.
"Baiklah, aku tunggu, jangan bohong loh!"
"Ini kesempatan untuk ku bisa bertemu dengan mu, sayang. Tentu aku tidak akan berbohong, kamu tahu sendiri kesibukanku seperti apa, yang pasti aku akan datang, ya sudah, aku harus istirahat, di sini masih malam, kamu jaga kesehatan, aku mencintaimu, Araku!"
"Aku juga mencintaimu, Revanku!"
Ara menutup panggilan mereka karena akan segera pergi dengan sahabatnya yang sama-sama berprestasi sebagai dokter. Hatinya sungguh bahagia. Penantian panjangnya selama ini tidak sia-sia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan sang kekasih.
"Ra, Ryu menunggu mu sejak tadi, kenapa kamu lama sekali!" Aldo membuka pintu kamar Ara dan langsung melotot sempurna.
"Kenapa, Mas? kok gitu lihatnya?" Aldo langsung menutup pintu Ara sedikit keras.
"Cepat pakai bajumu, untung saja tadi aku yang membuka pintu kamarmu, kalau yang membuka pintunya Ryu, bagaimana? bisa-bisa dia tidak sanggup mengendalikan dirinya!" seru Aldo di luar kamar.
Ara baru sadar kalau dirinya hanya memakai handuk sebatas paha.
"Aaaakkkkk!! mas Aldo!!"
__ADS_1
Bersambung.
Apakah Revan dapat memenuhi janjinya untuk ke Jepang menemui Ara?" 🤔🤔