
Happy Reading 😊
"Apaan sih, Lang! gue gak apa-apa! udah, gak usah maksa gue!"
"Tapi, Nit, gue udah salah sama elo, gue harus bagaimana biar lo maafin gue?"
Gilang menarik Nita saat gadis itu menghindar darinya. Gara-gara kejadian tadi pagi yang membuat keadaan Gilang dan Nita menjadi secanggung ini. Saat ini mereka ada di samping garasi rumah Mbah Na. Tempat yang menurut Gilang sedikit jauh dan tidak akan ada orang yang mendengar suara mereka.
"Nita, Please! jangan menghindar lagi, gue minta maaf atas perbuatan yang gue lakuin ke elo tadi pagi, sumpah gue gak bermaksud!" ucap Gilang memohon.
Nita merasa kesal setengah mati dengan pria satu ini, dengan seenaknya Gilang menyentuh dada Nita karena katanya melihat ada ulat yang menempel. Gilang refleks menyentuh dada Nita untuk mengusir ulat itu dan tentu saja hal itu membuat Nita terkejut. Karena apa yang di rasakan Nita sangat berbeda.
Nita merasakan sebuah sentuhan di area terlarang dan tentu saja itu seperti pelecehan.
"Elo emang modus! udah, gue gak mau deket-deket sama cowok kaya elo lagi!! elo udah melecehkan gue dua kali!!" seru Nita akan pergi dari tempat itu.
Gilang menarik tangan Nita dan mengurungnya di sisi dinding dengan kedua tangan Gilang berada di sisi kiri dan kanan tubuh Nita.
"Yang kedua itu karena kesalahan lo, seharusnya lo gak perlu lebay berteriak, di sangka gue mau merkosa lo tau gak!" bisik Gilang karena tidak mau suaranya jadi semakin tinggi.
"Ya gak gitu juga caranya, lo udah mengambil ciuman pertama gue!"
"Yaelah, itu cuma nempel doang! yang namanya ciuman itu bukan kek gitu, mau tau rasanya ciuman beneran!" ucap Gilang menyeringai.
"Brengsek lo, Lang!! gue kira lo cowok baik-baik, ternyata lo sama aja!!" Nita mendorong dada Gilang dan langsung berjalan dengan sedikit berlari.
Nita sedikit terkejut ketika saat tiba di halaman dia melihat Ara dan Revan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nit, ada apa?" tanya Ara yang melihat Nita mengusap sudut matanya.
Sepertinya Nita tidak sadar kalau dia sudah mengeluarkan air matanya. "Ra, gue mau sama elo, malam ini temani gue, ya?" Ara mengangguk.
__ADS_1
Kemudian Ara melihat Revan dan mata mereka beradu pandang saling menatap, tatapan itu seakan mengatakan bahwa mereka harus tahu ada masalah apa di antara Gilang dan Nita.
"Ke kamar, yuk!" Ara merangkul bahu Nita dan segera mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Di sisi lain.
Revan mendatangi Gilang yang duduk termenung di teras depan rumah sebelah, rumah untuk para kaum pria istirahat.
"Lo apain si Nita?" Gilang langsung menoleh ketika mendengar ucapan Revan.
Senyuman sinis tercetak di bibirnya. "Dia nuduh gue ngelakuin pelecehan, padahal gue gak bermaksud gitu, dasar cewek! gak bisa bedain mana yang pelecehan, mana yang bukan! gue jadi kesel sendiri sama dia, mana dari tadi marah dan diemin gue, kan gue juga udah minta maaf!" jelas Gilang tanpa di tutup-tutupi.
Revan mengangguk kan kepalanya, dia paham dengan kondisi cewek yang seperti itu. Mereka dengan seenaknya sendiri menyimpulkan bahwa kejadian seperti itu adalah sebagai pelecehan.
"Tadi sebelum itu, Nita bilang sama gue, kalau dia suka, dan nyuruh gue buat ngasih kesempatan loh ke Ara," Gilang menghela napas.
"Gue tahu kalau lo masih berusaha buat mengejar cinta Ara, tapi gue juga masih memiliki peluang untuk dapetin dia, tapi perasaan gue jadi kacau saat Nita ngungkapin perasaannya ke gue, dan nyuruh gue buat ngelepas Ara, gue merasa jadi makin canggung!" ucap Gilang.
Gilang menatap pepohonan yang tinggi menjulang di depannya dengan tatapan yang tak terbaca. "Gue gak tau kenapa jadi ngerasa bersalah sama Nita," ucap Gilang.
"Sabar sob, coba lo deketin dia baik-baik, buat dia mau memaafkan lo dan gak marah lagi," ucap Revan menepuk bahu Gilang.
###
Nita masih terbayang-bayang bagaimana tadi Gilang yang tiba-tiba menciumnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat, tidak mau mengingat kejadian itu kembali. Baginya kejadian itu benar-benar membuat Nita seperti cewek murahan.
"Lo kenapa geleng-geleng kepala?" tanya Ara heran.
"Gue gak kenapa-napa, cuma lagi kesel sama Gilang sepatu Gilang itu!!" Ara terkekeh mendengar Nita menyebutkan nama Gilang di kasih tambahan seperti nyanyian sewaktu TK yang sebenarnya adalah Gelang Sipaku Gelang.
"Jangan kesel atau benci, ntar jadi cinta loh!" sindir Ara.
__ADS_1
"Udah telat!"
"Hah? maksudku?" tanya Ara.
"Gue udah suka sama Gilang sejak lama, gue juga udah bicara sama dia kalau gue suka, tapi ya gitu, dia malah memperalat gue, pake megang-megang tet3k gue, kan gue jadi kesal plus sebel sama dia, Ra!"
"APA!! Gilang pegang, lo!" seru Ara yang langsung di tutup mulut nya oleh Nita.
"Ssstt! bukan gitu, aduh Ara, jangan keras-keras napa!"
"Oops, sori Nit, ya habisnya gue kan kaget, setahu gue Gilang bukan cowok seperti itu!" ucap Ara sedikit membela Gilang karena selama dekat dengan cowok itu, Ara merasa bahwa Gilang tidak seperti itu, selama ini sikapnya terhadap Ara sangat sopan dan tidak pernah melakukan hal-hal yang menjurus ke pelecehan.
Nita menghela nafas. "Tadi dia juga nggak mau ngaku kalau dia udah melakukan pelecehan sama gue, ngakunya dia lagi ngusir ulat yang ada di baju gue, tepatnya di depan dada sini," tunjuk Nita ke bagian yang tadi di sentuh oleh Gilang.
Ara tertawa setelah mendengar penjelasan dari Nita, entah kenapa sahabatnya ini benar-benar bodoh atau memang hanya pura-pura. Tentu saja Ara paham kalau memang niat Gilang adalah mengusir ulat, bukan karena modus ataupun melecehkan.
"Kok elo malah ketawa, sih?" tanya Nita sewot.
"Ya, habisnya lo tuh polos atau lugu sih, Nit! Gilang nggak mungkin modusin lo, sekarang gue tanya kejadian itu ada di mana?" tanya Ara.
"Ehhmm,, di kali dekat situ, pas gue suruh anterin nyuci baju tadi pagi!" jawab Nita.
"Ya berarti dia emang bener ngusir ulat yang ada di baju elo, jadi sebenarnya di sini yang menurut gue polos itu elo deh, Nit!" jawab Ara membuat Nita semakin bingung.
"La terus gue harus gimana?"
"Minta maaf sana sama Gilang!"
Bersambung.
Minta dukungannya donk kak 🥺🥺
__ADS_1