
Satu minggu setelah pertemuan Revia dan Arnold. Tiba tiba Arnold datang menemui Revia di perusahaannya, hal itu membuat Revia nampak sangat terkejut. Arnold masuk ke dalam ruangan Revia lalu duduk di sofa tanpa di persilahkan lebih dulu.
" Mau apa kau kemari?" Tanya Revia menatap Arnold dengan tajam.
" Aku mau memastikan jika Arvi adalah putraku." Sahut Arnold.
" Apa kau gila Arnold? Atas dasar apa kau berpikir sampai ke sana?" Revia kembali bertanya.
" Kau belum menikah setelah perpisahan kita Revi, lalu bagaimana kau bisa memiliki putra sebesar Arvi kalau dia bukan putraku." Ucap Arnold tegas.
" Bukankah aku sudah bilang kalau aku memiliki hubungan dengan pria lain sebelum perpisahan kita? Tepatnya setelah kau pergi meninggalkan aku." Ucap Revia.
" Aku tidak percaya, bagaimana bisa wanita terhormat sepertimu bisa melakukan hal serendah itu Revia? Di dalam mimpi saja kamu tidak akan pernah melakukannya. Apalagi di dalam dunia nyata. Kau sangat mencintaiku dan suatu hal yang sangat mustahil jika kau sampai mengkhianatiku." Ucap Arnold.
Revia tersenyum sinis menatap Arnold.
" Apapun bisa terjadi Arnold, sebenarnya aku tidak mau memberitahumu tentang masalah ini, tapi berhubung kau memaksa maka aku akan menceritakannya." Ujar Revia.
Revia mengotak atik ponselnya lalu ia beranjak dari kursi kebesarannya, ia berjalan mendekati Arnold.
" Awal pertemuanku dengan daddynya Arvi adalah ketika kau pergi meninggalkan aku. Saat itu perusahaanku di ambang kebangkrutan, aku merasa sangat putus asa. Suami yang sangat aku cintai telah meninggalkan aku saat aku berada di titik terendah dalam hidupku. Aku pergi ke club malam lalu aku minum banyak di sana sampai aku mabuk berat." Terang Revia menghembuskan nafasnya kasar.
" Di sana aku di goda oleh pria hidung belang, dan saat itu mas Zayn datang membantuku. Dia membawaku ke apartemennya karena dia tidak tahu mau mengantar aku kemana. Saat dia membawaku ke kamar, aku menariknya ke ranjang. Yah karena kami sama sama mabuk, kami tidak sadar jika kami melakukan hal yang tidak pantas kami lakukan. Pasti kamu paham lah maksud ucapanku." Ucapan Revia berdusta.
" Ya Tuhan maafkan aku! Secara tidak sadar aku telah mengakui putraku sebagai anak h*r*m. Aku melakukannya supaya Arnold percaya jika Arvi bukan putranya. Aku tidak mau dia kembali ke dalam kehidupanku jika sampai dia tahu kalau Arvi putra kandungnya. Sekali lagi maafkan aku Tuhan." Batin Revia sambil menekan tanda anak panah pada ponsel yang ia genggam.
" Lalu kenapa sampai sekarang kau belum menikah?" Tanya Arnold.
" Kau benar memang sampai sekarang aku belum menikah, itu karena kau." Ucap Revia menatap Arnold begitupun sebaliknya.
" Aku trauma dengan yang namanya pernikahan karena rasa sakit yang kau tancapkan di dalam hatiku. Walaupun daddynya Arvi berulang kali mengajakku menikah, tapi aku selalu menolaknya dengan alasan yang sama. Tapi tidak untuk sekarang." Ucap Revia.
" Arvi menginginkan kami tinggal bersama dan menjadi keluarga yang utuh untuk selamanya. Dan sudah saatnya aku mengabulkan permintaan Arvi dan melupakan rasa sakit itu. Aku akan segera menikah dengan mas Zayn." Ucap Revia.
" Kau memang tidak pernah berbohong kepadaku Revia, tapi entah mengapa kali ini aku tidak percaya dengan ucapanmu. Aku ingin melakukan tes DNA." Ucapan Arnold sukses membuat Revia membulatkan matanya.
" Tes DNA?" Revia mengerutkan keningnya.
" Ha ha ha ha." Revia tertawa dengan keras.
" Untuk apa kau membuang waktu Ar
" Sial.. Kalau sampai Arnold kukuh melakukan tes DNA bisa tamat riwayatku. Aku harus mencari cara agar dia tidak ngotot untuk melakukan tes DNA." Batin Revia.
__ADS_1
"Apa kau meragukan ucapanku?" Tanya Revia menatap Arnold.
" Ya." Sahut Arnold.
" Entah mengapa saat mendengar suara Arvi, aku merasa ada ikatan di antara kami, aku merasa dia adalah darah dagingku. Itu sebabnya aku kemari dan ingin memastikannya sendiri." Sambung Arnold.
" Apa ini yang di namakan ikatan batin antara ayah dan anaknya?" Tanya Revia dalam hatinya.
" Aku tidak menginjinkannya dan kau tidak berhak untuk memaksaku." Ucap Arnold.
" Kenapa? Apa kau takut aku tahu yang sebenarnya?" Tanya Arnold.
" Kenapa aku harus takut? Walaupun kau melakukan tes DNA, hasilnya tetap akan sama. Arvi bukan darah dagingmu tapi dia darah daging Zayn." Ucap Revia.
" Pokoknya aku akan melakukan tes DNA, bagaimanapun caranya." Ucap Arnold kukuh.
" Kalau begitu lakukan saja." Sahut Revia.
" Berapa uang yang kau punya? Apa kau pikir biaya tes DNA tidak mahal? Mending uang itu kamu pakai untuk membelikan sesuatu untuk putri tercintamu itu, daripada sia sia untuk hal yang tidak penting. Tidak hanya uangmu saja yang akan terbuang sia sia, tapi kau juga akan kecewa dengan hasilnya." Ujar Revia.
" Sial aku terhalang dana di sini." Umpat Arnold dalam hati.
" Ayolah Arnold... Jangan menyulitkanku di sini." Batin Revia.
" Sial... Kenapa dia keras kepala sekali sih." Umpat Revia dalam hati.
" Putraku tidak terbiasa bertemu dengan orang asing, dia pasti akan menghindarimu." Ucap Revia.
" Setidaknya aku sudah mencobanya, siapa tahu denganku dia tidak seperti itu." Ucap Arnold.
"Tidak boleh.. Jangan sampai Arnold bertemu Arvi atau Arvi akan menceritakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu harus berbohong apalagi jika sampai itu terjadi." Batin Revia cemas.
" Mas Zayn pasti tidak akan mengizinkanku untuk menemui putranya, apalagi kalau sampai dia tahu niatanmu ini, pasti dia akan terluka. Dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Aku tidak mau melukai pria sebaik dirinya." Ucap Revia.
" Aku merasa ada yang kau sembunyikan di sini. Entah itu apa aku sendiri tidak tahu, tapi yang jelas kau tidak akan bisa lama lama menutupi kebohongan ini dariku. Walaupun kita sudah berpisah beberapa tahun lamanya tapi kau masih selalu ada di hatiku. Jadi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Aku akan kembali jika saatnya tiba, dan saat itu akan aku pastikan jika aku sudah mengetahui kalau Arvi putraku." Ucap Arnold berlalu dari sana.
" Kenapa bisa jadi begini sih?" Kesal Revia.
" Aku harus melakukan sesuatu sebelum Arnold bertindak lebih jauh. Aku tidak mau sampai Arvi jatuh ke tangannya, apalagi jika aku harus kembali bersamanya. Aku tidak sudi." Monolog Revia.
" Mas Zayn... Ya Mas Zayn.." Gumam Revia.
Tiba tiba...
__ADS_1
Tok tok...
Revia menoleh ke arah pintu, nampak sosok Zayn masuk ke dalam menghampirinya.
" Apa mantan suamimu sudah pergi?" Tanya Zayn mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
" Iya baru saja." Sahut Revia duduk di sofa.
Hubungan Revia dan Zayn semakin dekat sejak saat itu, bahkan mereka sudah menanggalkan sikap formalnya. Revia meminta bantuan Zayn untuk bersandiwara menjadi ayah kandung dari Arvi.
" Apa kau berhasil menyakinkan dia tentang hubungan kita dan Arvi?" Tanya Zayn lagi.
" Belum, aku yakin Arnold pasti akan terus mengangguku. Aku takut jika dia nekat menemui Arvi tanpa sepengetahuanku, Arvi pasti akan mengatakan yang sebenarnya." Sahut Revia.
" Kalau seandainya waktu itu kamu menerima lamaranku, pasti semua ini tidak akan terjadi. Arnold tidak akan tahu kalau kamu belum menikah lagi." Ujar Zayn.
Revia langsung menatap Zayn.
" Apa lamaran itu masih berlaku?" Tanya Revia tiba tiba.
" Apa kau berminat menerimanya?" Zayn balik bertanya.
" Bisa jadi." Sahut Revia.
" Bisa jadi juga." Sahut Zayn.
" Apa maksudnya bisa jadi?" Tanya Revia.
" Bisa jadi lamaran itu masih berlaku kalau yang di lamar berminat menerimanya. Tapi kalau tidak ya berarti lamaran itu sudah tidak berlaku, karena aku tidak mau kecewa untuk yang kedua kalinya." Ucap Zayn.
Tanpa sadar Revia tersenyum membuat hati Zayn terasa di siram air es.
" Kau mau pilih yang mana?" Tanya Zayn.
" Emmm... " Revia nampak sedang berpikir.
" Baiklah aku memilih untuk menerimamu, tapi dengan satu syarat." Ucap Revia.
" Apa itu?" Tanya Zayn menatap Revia.
Kira kira apa syarat yang Revia inginkan nih? Jangan lupa tekan like koment vote dan mawarnya yang banyak biar author makin semangat.
TBC....
__ADS_1