
Setelah keadaan Arvi membaik, Arvi di pindahkan ke ruang rawat. Revia benar benar merasa bersyukur karena Arvi berhasil melewati masa kritisnya. Dokter bilang tinggal menunggu Arvi sadar saja. Revia, Zayn dan Arnold masuk ke dalam ruang rawat Arvi. Mereka bertiga menatap Arvi yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat medis menempel pada tubuhnya. Tak tahan melihat putranya yang nampak tersiksa seperti itu, Revia menundukkan wajahnya pada pundak Zayn sambil terisak.
" Hiks.. "
" Tenanglah sayang! Jangan menangis lagi, Arvi tidak apa apa. Dia hanya sedang tertidur saja, sebentar lagi dia pasti siuman. Aku mohon jangan tunjukkan sikap lemahmu di depan Arvi! Atau Arvi pasti akan sedih melihat mommynya terpuruk seperti ini. Kau mommy yang kuat selama ini. Kau tidak pernah selemah ini sebelumnya. Tetap kuat dan tegar dalam menghadapi hal ini. Kau boleh menangis mengeluarkan kesedihanmu tapi tidak di depan putra kita sayang. Sekarang berhentilah menangis hmm." Ujar Zayn mengelus kepala Revia dengan lembut.
Lagi lagi hati Arnold memanas, Arnold menarik Revia lalu menyandarkan kepala Revia ke pundaknya. Karena merasa tidak nyaman, Revia segera menjauh dari Arnold.
" Kau mungkin berhasil membuatku kembali padamu, tapi akan aku pastikan kau gagal membuatku menerimamu sebagai suamiku. Walaupun kita bersama, aku tidak akan pernah memberikan hati dan cintaku untukmu. Seperti yang kau lakukan padaku waktu itu." Ucap Revia menohok hati Arnold.
" Tidak masalah. Asalkan kalian bersamaku aku pasti bahagia." Sahut Arnold.
" Tidak... Kami tidak akan pernah bahagia hidup bersama pria sepertimu. Kami akan lebih bahagia hidup bersama mas Zayn. Dia sangat menyayangi putraku seperti putranya sendiri. Apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan putraku. Seandainya dia bisa, dia pasti rela menukar nyawanya demi Arvi. Kasih sayangnya kepada kami sama sekali tidak bersyarat. Tidak sepertimu yang rela menjual darahmu demi keegoisan dan ambisimu untuk memiliki kami. Kami tidak akan pernah bahagia hidup bersama orang yang tidak kami inginkan."
" Dan satu lagi, kami tidak akan menerima kamu dan putrimu sebagai keluarga kami karena bagi kami kalian bukan siapa siapa." Ucap Revia membuat hati Arnold mencelos.
" Aku tahu kau orang baik, kau tidak akan bisa membenci orang lain sedalam ini. Mungkin saat ini kau masih dalam kemarahan, tapi setelah amarahmu reda kasih sayangmu pasti akan kembali seperti dulu lagi." Ucap Arnold.
Revia memutar bola matanya malas, ia tersenyum sinis menatap Arnold.
" Rupanya kau hanya mengenal aku yang dulu bukan yang sekarang. Aku tidak seperti dulu lagi yang hanya diam walaupun kau sakiti. Aku bukan seorang Revia yang lemah karena cinta yang begitu dalam untuk suaminya sehingga dia tidak bisa melihat kebejatan yang suaminya lakukan di luar sana. Sekarang aku seorang ibu yang bisa merubah sikap walau hanya dalam hitungan detik saja." Ucap Revia. Revia menggenggam tangan Zayn.
" Hanya Mas Zayn lah satu satunya orang yang memahamiku luar dalam, tidak ada satu pun orang lain yang bisa memahamiku lebih baik darinya." Ujar Revia tersenyum manis menatap Zayn.
Arnold mengepalkan erat tangannya. Ia menahan emosi yang dia meledak di dalam hatinya.
Tiba tiba...
" Engh.. " Arvi membuka matanya dengan perlahan. Ia menatap Zayn, Revia dan Arnold secara bergantian.
" Daddy." Lirih Arvi.
" Iya sayang." Sahut Zayn dan Arnold bersamaan. Mereka berdua sama sama mendekati Arvi di ranjangnya.
__ADS_1
Arvi menatap mereka berdua dengan perasaan bingung.
" Syukurlah kamu sudah sadar sayang." Ucap Arnold.
" Iya Om." Sahut Arvi.
Arvi berpindah menatap Zayn saat ini, Zayn tersenyum lebar menatap Arvi.
" Daddy, Arvi haus." Ucap Arvi.
Mendengar itu Revia mengambil segelas air putih di atas nakas.
" Daddy ambilkan dulu." Ucap Zayn.
" Ini Mas." Ucap Revia memberikan segelas air putih itu kepada Zayn.
" Terima kasih." Ucap Zayn tersenyum manis.
Zayn membuka sedotan yang masih tersimpan di dalam plastik, setelah itu ia membantu Arvi minum.
" Baiklah." Sahut Zayn mengembalikan gelasnya kepada Revia.
" Apa kau membutuhkan sesuatu sayang?" Tanya Arnold di balas gelengan kepala oleh Arvi.
" Atau kamu merasa kesakitan pada bagian tubuhmu sayang?" Tanya Arnold menatap Arvi. Arvi menggelengkan kepalanya.
" Syukurlah kalau begitu." Ucap Arnold.
Arvi menatap Zayn.
" Daddy, kaki Arvi sakit." Ucap Arvi mengeluh.
" Daddy akan mengelusnya." Ucap Zayn.
__ADS_1
Zayn mengelus kedua kaki Arvi dengan kedua tangannya. Melihat itu Arnold nampak kecewa, ia merasa tidak di butuhkan di sana.
" Arvi juga ingin bobok di peluk sama Daddy." Ujar Arvi lagi.
" Baiklah Daddy akan memelukmu, tapi kali ini peluknya cuma tangan doank karena alat alat ini belum di lepas. Kalau sudah di lepas semua, Daddy akan tidur di sampingmu sambil memelukmu." Ujar Zayn. Arvi menganggukkan kepalanya.
" Revi aku ingin bicara berdua denganmu." Ucap Arnold menatap Revia.
" Baiklah." Sahut Revia.
" Sayang Mommy keluar dulu ya, kamu sama daddy Zayn dulu." Ujar Revia.
" Iya Mom." Sahut Arvi.
Arnold dan Revia keluar ruangan menuju kursi tunggu yang ada di depan.
" Mau apa?" Tanya Revia duduk di kursi itu di ikuti oleh Arnold yang duduk di sebelahnya.
" Kau sudah menerima syaratku, aku sudah mendonorkan darahku untuk Arvi. Sekarang Arvi juga sudah sadar, aku ingin menagih janjimu yang bersedia kembali padaku. Aku ingin kamu segera memberitahu Arvi yang sebenarnya tentang siapa aku. Dan setelah Arvi keluar dari rumah sakit, aku akan langsung menikahimu. Dan aku tidak menerima penolakan, kau harus memastikan jika Arvi akan menerimaku sebagai ayah kandungnya. Apa kau mengerti?" Tanya Arnold menatap Revia.
" Aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak akan mungkin mengingkari janjiku apalagi taruhannya nyawa anakku sendiri. Aku akan memberitahu Arvi tapi aku tidak bisa memaksa Arvi untuk menerimamu karena yang dia tahu Mas Zayn lah ayah kandungnya. Dan aku tidak mau mempermainkan psikis anakku sendiri. Biarkan dia yang memilih siapa yang akan ia anggap sebagai ayahnya. Kau atau mas Zayn." Sahut Revia.
Arnold menghela nafasnya pelan.
" Lakukan sebisamu! Sisanya biar aku yang melakukan. Mulai besok, aku melarang Zayn untuk bertemu kalian lagi. Karena aku yakin, jika Zayn masih berada di dalam putaran kehidupan kalian, kalian tidak akan bisa menerimaku dengan sepenuh hati. Aku harap kau mengerti apa maksudku, dan aku tidak menerima bantahan sama sekali. Jika Zayn tidak menjauh, maka aku yang akan menjauhkan Arvi dari Zayn maupun darimu." Ucap Arnold memberikan ancaman.
" Baiklah aku mengerti." Sahut Revia yang sedang tidak ingin berdebat.
" Baguslah kalau begitu. Kau terlihat sangat cantik walaupun terlihat lebih garang sekarang. Tapi tidak apa apa, aku tetap mencintaimu dari dulu sampai sekarang." Ucap Arnold menggenggam tangan Revia.
Tanpa mereka sadari Zayn mendengar semuanya dari balik pintu. Ia sengaja menguping pembicaraan mereka berdua di sana.
" Jika memang ini yang terbaik, aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, meskipun berat bagiku tapi aku tidak bisa melihat Revia dalam kesulitan. Jika aku terus bersamanya maka dia akan sulit menerima keputusannya sendiri. Aku akan pergi Revia, aku melakukan ini demi kamu dan Arvi. Semoga kalian selalu hidup bahagia, terima kasih telah memberikan kenangan seindah ini." Batin Zayn mengusap air mata yang menetes di pipinya.
__ADS_1
TBC.....