TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
MASALAH SELESAI


__ADS_3

Ketiga pria berbeda usia itu kini berdiri di samping ranjang sambil menunggu Revia sadar. Zayn duduk di tepi ranjang, Ia mengelus pipi Revia dengan lembut.


" Sayang bangunlah! Ini aku, Zayn. Daddynya Arvi." Ucap Zayn.


" Semua masalah sudah selesai sayang, tidak akan ada lagi yang membebani pikiranmu. Kita akan bersama menjadi keluarga yang bahagia. Aku tahu jika selama beberapa hari ini kamu merasa lelah, kamu terbebani dengan pikiran dan pekerjaan. Aku minta maaf jika aku telah menyulitkan kamu dan membuatmu dalam posisi ini. Aku mohon sadarlah sayang." Ucap Zayn menatap wajah Revia yang nampak pucat.


Revia tidak bergeming, ia masih memejamkan mata dengan setia.


" Baiklah kalau kamu merasa lelah, istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." Ujar Zayn.


Zayn menatap Arvi dan Arnold.


" Arvi, kamu tidurlah sayang! Ini sudah malam, tidak baik untuk kamu terjaga malam malam begini. Apalagi kamu masih sakit, berbaringlah di samping mommymu." Ujar Zayn menarik tangan Arvi dengan pelan.


" Arvi mau tidur sambil di peluk Daddy." Ujar Arvi. Zayn menatap Arnold sekilas lalu kembali menatap Arvi.


" Bagaimana kalau Arvi tidurnya di peluk sama daddy Arnold dulu. Besok daddy Arnold kan mau pulang, jadi kasih kenangan donk sama daddy Arnold yang telah menyelamatkan Arvi dengan mendonorkan darahnya untuk Arvi." Ujar Zayn membujuk Arvi.


Arvi menatap Arnold yang menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Dad." Sahut Arvi menurut.


" Ayo Dad, kita bobok!" Ajak Arvi menarik tangan Arnold.


" Terima kasih telah memberikan kesempatan emas ini padaku." Ucap Arnold menatap Zayn.


" Sudah semestinya aku melakukan ini, semoga Revi tidak marah melihatnya." Ucap Zayn di balas anggukkan kepala oleh Arnold.


Arvi naik ke atas ranjang, ia berbaring di sebelah Revia sedangkan Arnold berbaring miring menghadap Arvi.


" Tidurlah sayang! Daddy akan memelukmu." Ucap Arnold melingkarkan tangannya pada perut Arvi.


Arvi mulai memejamkan matanya. Arnold menatap Arvi yang berbaring sejajar dengan Revia membuat Arnold bisa menatap wajah keduanya sekaligus. Hatinya terasa damai melihat dua orang yang ia cintai dalam keadaan terlelap.


" Aku memberikanmu kesempatan ini, tapi jangan sampai semua ini membuatmu berubah pikiran untuk merebut mereka kembali setelah kau menyerahkan mereka padaku." Ujar Zayn yang sedari tadi mengamati Arnold.


" Aku sudah mencobanya, namun aku gagal Zayn. Aku sudah mencoba merebut mereka darimu tapi aku juga gagal merebut mereka darimu. Ternyata yang mereka butuhkan adalah sosok Zayn bukan Arnold." Ujar Arnold.


" Syukurlah kalau kamu tahu itu, karena sekarang walaupun kau mencoba merebut mereka lagi, aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku sudah memberimu kesempatan untuk merebut hati Revia dan Arvi tapi kau gagal melakukannya. Dan aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu lagi." Ujar Zayn.


" Aku tahu itu Zayn." Sahut Arnold.

__ADS_1


" Engh... " Revia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah senyuman manis dari bibir Zayn.


Revia mengucek matanya memastikan jika yang berada di depannya benar benar Zayn tunangannya.


" Kamu sudah sadar sayang. Apa ada yang sakit?" Tanya Zayn.


" Ini beneran kamu Mas." Ucap Revia menatap Zayn tanpa berkedip.


" Iya ini aku, Zaynmu. Daddynya Arvi." Sahut Zayn. Revia mengembangkan senyuman di wajahnya.


" Aku bahagia Mas, akhirnya kamu kembali. Aku mohon jangan tinggalkan aku dan Arvi lagi! Kami tidak bisa hidup dengan baik tanpamu." Ucap Revia menggenggam tangan Zayn membuat hati Arnold seperti tersayat sembilu.


" Aku tidak akan meninggalkanmu lagi sayang. Aku janji itu." Sahut Zayn.


" Dimana Arvi Mas?" Tanya Revia menoleh ke samping.


Deg...


Jantung Revia berdetak kencang saat melihat Arvi yang tidur dalam pelukan Arnold.


" Kau... " Revia menjeda ucapannya. Ia beranjak duduk bersandar pada head board.


Arnold turun dari ranjang dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Arvi.


Revia menatap Zayn yang di balas anggukkan kepala oleh Zayn.


" Baiklah." Sahut Revia.


Revia turun dari ranjang di bantu oleh Zayn. Ia berjalan keluar kamar dengan di gandeng oleh Zayn.


" Di ruang belajar Arvi saja biar tidak kejauhan. Badanku masih terlalu lemas untuk menuruni tangga." Ujar Revia.


" Baiklah." Sahut Arnold mengikuti Zayn dan Revia menuju ruang belajar Arvi dari belakang.


Sampai di sana mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Yang biasa di gunakan Revia duduk saat menemani Arvi belajar.


" Katakan apa yang ingin kau katakan Arnold! Dan jelaskan kenapa Mas Zayn bisa ada di sini!" Ucap Revia menatap Arnold.


" Arvi yang mengundangnya. Arvi tadi terlihat sangat panik saat kamu pingsan. Dia bahkan tidak meminta pertolongan kepadaku tapi dia menelepon Zayn dan meminta Zayn untuk menolongmu." Sahut Arnold.


" Lalu kenapa kau mengijinkannya? Bukankah kau bersikeras menolaknya tadi?" Tanya Revia.

__ADS_1


" Aku sadar Revi, jika kehadiranku di sini tidak di inginkan olehmu maupun Arvi. Aku yang salah di sini, tidak seharusnya aku menemui kalian berdua. Aku benar benar tidak tahu malu. Aku minta maaf!" Ucap Arnold.


" Apakah aku harus memaafkanmu?" Tanya Revia lagi.


" Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan aku karena itu hakmu sepenuhnya. Aku hanya ingin mengatakan jika aku membebaskanmu dari janjimu padaku. Aku mengikhlaskan kamu menikah dengan Zayn karena aku yakin kau dan Arvi akan hidup bahagia bersamanya." Ucap Arnold membuat Revia terkejut.


" Aku hanya punya satu permintaan yaitu biarkan aku tetap berhubungan dengan Arvi layaknya seorang ayah dan anak walaupun aku tidak bisa bersamanya. Dan tadi Arvi sudah menerimaku untuk hal itu, Zayn melihatnya sendiri." Sambung Arnold.


Revia menatap Zayn seolah menunggu jawaban dari Zayn.


" Iya sayang, Arvi menerima Arnold sebagai daddynya karena Arnold membiarkan kita menikah sesuai keinginan Arvi. Bahkan tadi Arvi memanggil Arnold dengan sebutan daddy. Dan dia mau tidur di peluk oleh Arnold juga." Ucap Zayn.


" Aku harap kau tidak melarang hubungan kami Revia." Ucap Arnold.


Revia nampak sedang berpikir, ia menghela nafasnya dalam dalam sebelum mengambil keputusan terbaik untuk mereka semua.


" Revi, bagaimanapun Arvi adalah putraku. Kau yang menyembunyikan dia dariku. Seandainya aku tahu kamu mengandung anakku, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku pasti tidak akan membiarkan kalian hidup berdua saja Revi. Aku sudah kehilangan waktuku bersama Arvi selama tujuh tahun. Aku ingin menggunakan sisa hidup ini untuk dekat dengannya. Aku berjanji tidak akan sering sering menemui Arvi, aku hanya akan meneleponnya saja atau sekedar mengajaknya jalan saat aku tidak bisa membendung rasa rinduku lagi untuknya." Ujar Arnold panjang lebar.


" Apa kau mengijinkannya Revi?" Tanya Arnold menatap Revia.


Zayn menggenggam tangan Revia, ia menganggukkan kepalanya memberikan dukungan kepada Revia.


" Baiklah aku akan mengijinkannya, tapi aku harap kau tidak terlalu sering mengganggu kami. Jalani saja seperti sebelumnya. Dan aku ucapkan terima kasih atas semua yang kau lakukan kepadaku dan Arvi. Kau sudah mengambil keputusan yang tepat dengan memberikan aku kepada mas Zayn. Kami akan hidup bahagia, begitupun denganmu Arnold." Ucap Revia.


" Terima kasih untuk perhatianmu Revia. Kalau begitu aku permisi pulang dulu ke hotel. Besok pagi aku kembali ke kotaku, aku akan menemui Arvi sebelum aku berangkat." Ujar Arnold.


" Hati hati." Ucap Revia di balas anggukkan kepala oleh Arnold.


" Zayn, aku pergi dulu. Aku titip Revi dan putraku. Jagalah mereka dengan sepenuh jiwa dan ragamu. Aku ucapkan selamat sekali lagi, semoga kalian berbahagia." Ucap Arnold.


" Terima kasih, aku berjanji padamu. Kau akan menjaga mereka dengan nyawaku sendiri." Ucap Zayn.


" Aku permisi." Ucap Arnold kelaur dari ruangan.


Revia menatap kepergian Arnold dengan perasaan iba. Ia merasa kasihan dengan Arnold.


" Apa kau merasa berat melepas kepergiannya? Kalau iya, kejarlah! Aku... "


" Kamu bilang apa Mas, tidak perlu sok berbesar hati seperti itu. Kalau aku beneran mengejarnya baru tahu rasa." Sahut Revia memotong ucapan Zayn.


" He he tahu aja kamu. Jangan pernah pergi dariku! Tetaplah bersamaku sampai maut memisahkan kita." Ucap Zayn mencium punggung tangan Revia.

__ADS_1


Revia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


TBC. ..


__ADS_2