TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
PERUBAHAN SIKAP ARVI


__ADS_3

Pagi ini Revia sedang duduk di depan cermin. Ia sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Sebelum ia pulang, ia mengoleskan make up tipis pada wajahnya agar terlindung dari sinar matahari. Zayn yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan menghampirinya. Zayn membungkukkan badannya lalu melingkarkan tangannya ke leher Revia dari belakang. Ia menyandarkan dagunya pada kepala Revia, lalu menatap Revia melalui pantulan cermin.


" Kamu sangat cantik sayang, kamu membuat Mas merasa tergila gila denganmu setiap harinya. Mas semakin menyayangimu. Semoga kebersamaan ini akan selalu melekat dalam kehidupan kita." Ujar Zayn sambil mencium pipi Revia.


" Iya Mas, aku juga berharap seperti itu karena aku tidak bisa hidup tanpamu Mas. Kau bagaikan pelita dalam hidupku yang berhasil menerangi hidupku yang gelap. Kau juga penyemangat hidupku hingga aku mampu menjalani hidup ini dengan lebih baik. Sekarang kau segalanya bagiku, karena kalau tidak ada kamu aku tidak bisa sebahagia ini. Terima kasih telah hadir dalam hidupku dan membawa perubahan dalam hidup kami." Ucap Revia.


" Sama sama sayang, Mas lebih bahagia dari kamu. Apalagi setelah Mas mendengar semua ungkapan hati kamu. Mas merasa kamu telah membalas perasaan Mas selama ini. Mas mencintaimu." Ucap Zayn mencium kening Revia


" Aku tahu." Sahut Revia sambil tersenyum.


" Ya sudah sekarang segera bersiap, Arvi sudah menunggu kita di rumah. Mas pakai baju dulu." Ucap Zayn.


" Iya Mas." Sahut Revia.


Mereka segera bersiap, setelah selesai Zayn menggandeng tangan Revia meninggalkan kamar hotel yang menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Senyuman mengembang di bibir Revia, ia merasa bahagia karena telah di perlakukan bagaikan ratu oleh Zayn. Ia berharap Zayn akan selalu seperti ini selamanya, dan bukan hanya manis saat di depan saja.


Setelah masuk mobil, Zayn segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota menuju rumahnya. Di dalam perjalanan Zayn terus menggenggam tangan Revia. Sesekali ia menciuminya.


" Mas apa benar berita yang di gosipkan di televisi kemarin tentang Sonia dan Jean? Aku jadi merasa bersalah dengan Sonia Mas, gara gara kita dia jadi mengalami kesulitan seperti sekarang." Ujar Revia.


" Mas akan membantu Sonia terlepas dari masalah ini. Tapi sebelum itu, Mas ingin bertemu dengan putra kita dulu. Mas sangat merindukannya." Sahut Zayn.


" Iya Mas, aku juga merindukan Arvi." Sahut Revia.


Lima belas menit mereka telah sampai di rumah yang biasa di tinggali Revia dan Arvi. Mereka turun dari mobil di sambut oleh teriakan Arvi.


" Daddy.." Arvi berlari menubruk Zayn. Revia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arvi. Ia merasa Arvi telah melupakannya sejak kehadiran Zayn.


Zayn membopong Arvi lalu menciumi wajah Arvi dengan lembut.


" Daddy sangat merindukanmu sayang." Ucap Zayn.


" Arvi juga Dad." Sahut Arvi.


" Apa kamu bisa bobok dengan baik?" Tanya Zayn menatap Arvi.


" Iya Dad, tapi tidak sebaik saat Arvi tidur sama Daddy karena kakek suka mengingau pas lagi tidur. Dan itu membuat berisik Dad." Ucap Arvi lirih di akhir kalimatnya sambil melirik pak Jaka. Zayn melempar senyumannya.


" Ehm ehm.. Sepertinya tidak ada yang merindukan Mommy nih." Ucap Revia menatap langit yang nampak cerah di pagi ini.


" Arvi juga merindukan Mommy." Ucap Arvi.


Zayn mencondongkan tubuhnya ke arah Revia, lalu Arvi mencium pipi Revia dengan lama.


" Miss you Mom." Ucap Arvi.

__ADS_1


" Miss you very much sayang." Sahut Revia membalas ciuman Arvi di pipinya.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Zayn, Revia dan Arvi langsung ke kamar mereka. Mereka menaiki anak tangga satu persatu sambil mendengarkan ocehan Arvi.


" Dad kapan Daddy sama Mommy memberikan Arvi dedek bayi? Arvi sudah ingin menggendong dedek bayi Dad. Kata nenek, dedek bayi Arvi pasti lucu." Ujar Arvi.


" Tunggu ya sayang, semua ada prosesnya tidak main jadi seperti kamu membuat mobil mobilan dari kardus sayang." Ujar Zayn.


" Oh begitu ya Dad." Arvi nampak mengangguk anggukkan kepalanya.


Ceklek...


Revia membuka pintu kamarnya, mereka bertiga masuk ke dalam. Revia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, begitupun dengan Zayn. Ia menurunkan Arvi di ranjangnya. Zayn bermain tebak tebakan dengan Arvi sedangkan Revia memilih memejamkan matanya. Semalam ia tidak bisa tidur karena Zayn menggempurnya sampai pagi. Revia benar benar kewalahan mengimbangi permainan Zayn.


Tok tok..


Bi Ningsih mengetuk pintu kamar putranya, ia masuk ke dalam setelah di persilahkan masuk oleh Zayn dari dalam.


" Zayn, di bawah ada Arnold dan putrinya. Dia mau bertemu dengan kalian semua." Ucap bi Ningsih.


Zayn menatap Revia yang sedang tidur sekilas lalu ia kembali menatap ibunya.


" Baik bu, minta Arnold untuk menunggu kami sebentar." Ucap Zayn.


" Baiklah." Sahut bi Ningsih berlalu dari sana.


" Iya sayang." Sahut Zayn. Tiba tiba wajah Arvi nampak cemberut tidak seperti tadi namun ia tidak mengatakan apa apa.


" Ayo kita temui mereka." Ajak Zayn beranjak dari kursinya.


Zayn menggendong Arvi keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Sampai di sana Zayn menurunkan Arvi.


" Pagi Zayn." Sapa Arnold.


" Pagi." Keduanya saling berjabat tangan.


" Ini putrimu?" Tanya Zayn menunjuk Mia yang duduk di sofa.


" Iya." Sahut Arnold.


" Mia, salim sama om Zayn. Dan dia bang Arvi, kakakmu." Ucap Arnold.


Mia menyalami Zayn dengan takzim, lalu bergantian menyalami Arvi. Namun yang membuat mereka semua terkejut adalah penolakan Arvi. Arvi menolak untuk bersalaman dengan Mia.


" Kenapa Abang tidak mau salaman denganku? Apa Abang tidak menyukaiku?" Tanya Mia menatap Arvi.

__ADS_1


" Aku tidak suka sama kamu. Sama daddy Arnold juga." Ucapan Arvi membuat mereka semua terkejut.


" Sayang kenapa kamu bilang begitu hmm?" Tanya Zayn mengelus kepala Arvi.


" Pasti karena anak ini dulu daddy Arnold meninggalkan Arvi dan mommy."


Deg...


Ucapan Arvi membuat hati Arnold mencelos. Bagaimana Arvi bisa memiliki pemikiran seperti itu?


" Darimana kamu punya pemikiran seperti itu sayang? Daddy..


" Ayah teman Arvi juga begitu Dad. Dia meninggalkan teman Arvi dan ibunya demi wanita lain dan anaknya. Dia membiarkan teman Arvi dan ibunya hidup berdua. Arvi jadi sadar jika Arvi juga berada di posisi yang sama dengannya." Ucap Arvi menatap Mia penuh kebencian. Entah mengapa ucapan Arvi sudah seperti ucapan orang dewasa saja.


" Temanmu yang mana sayang?" Tanya Zayn.


" Robby." Sahut Arvi.


Ya memang benar, nasib teman Arvi yang bernama Robby sama dengan nasib Arvi. Ayahnya meninggalkan Robby karena seorang pelakor. Bedanya ibunya Robbi hanya seorang buruh cuci sedangkan Revia seorang CEO.


" Maafkan Daddy sayang." Ucap Arnold.


" Arvi mau ke kamar." Ucap Arvi meninggalkan mereka semua. Anak sekecil itu bisa mengungkapkan rasa sakit di dalam hatinya pada orang dewasa. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu naik ke atas ranjang memeluk Revia dengan erat.


Di ruang tamu, Zayn menatap Arnold yang menampakkan wajah sedihnya.


" Maafkan Arvi." Ucap Zayn.


" Dia tidak salah, akulah yang salah Zayn. Seharusnya aku sadar diri dan harus berpikir dua kali sebelum datang kemari. Ternyata Arvi sangat kecewa padaku, pantas saja kemarin aku telepon dia tidak mau mengangkatnya." Ujar Arnold.


" Ayah, kenapa Abang marah sama Mia? Apa karena selama ini kita meninggalkannya?" Tanya Mia polos.


" Iya sayang, lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Arnold.


" Jangan pulang dulu! Tinggallah beberapa hari di sini. Aku akan membujuk Arvi untuk menerimamu kembali. Lagian kamu baru datang dan belum bertemu Revia. Aku tidak berani mengganggu Revia saat ini karena dia sedang istirahat. Kau dan Mia bisa beristirahat di kamar tamu. Aku akan menunjukkan kamarnya padamu." Ujar Zayn.


Arnold menatap Mia, sang putri kecil tercinta. Meskipun bukan putri kandungnya namun kasih sayang Arnold tidak terbatas untuk Mia.


" Iya Yah, kita istirahat dulu ya. Mia capek duduk di dalam bus sejak tadi." Ujar Mia.


" Baiklah, sebelumnya terima kasih kau telah bersikap baik pada kami Zayn." Ucap Arnold.


" Sama sama." Sahut Zayn.


Zayn mengajak Arnold dan Mia ke kamar tamu. Setelah itu ia kembali ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2