
Sera menatap Dokter dengan jantung yang berdetak sangat kencang. Sedangkan nyonya Wijaya nampak biasa biasa saja.
" Operasinya berjalan lancar Nona, namun kita harus menunggu pasien sadar. Jika dalam tiga jam ke depan pasien belum sadar, itu berarti pasien mengalami koma. Luka di kepalanya termasuk luka berat Nona, bahkan jika pasien sadar pun tidak menutup kemungkinan pasien kehilangan ingatan." Terang dokter.
Deg...
Jantung Sera terasa berhenti berdetak. Bagaimana jika sampai hal itu terjadi? Apa yang akan Sera lakukan? Bagaimana dengan Mia? Bagaimana perasaannya Mia jika sampai Arnold tidak mengenalinya? Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Sera hingga kepergian dokter tidak Sera sadari.
" Sera." Nyonya Wijaya menyentuh bahu Sera.
Plak...
Sera menepis tangan ibunya dengan kasar. Ia merasa semua ini terjadi karena ibunya, jika saja ibunya mau merestui hubungannya dengan Arnold, ia tidak akan berusaha kabur.
" Semua ini karena Mama, andai saja Mama merestui hubungan kami. Pasti semua ini tidak terjadi. Seharusnya aku lebih berani sejak lama, pasti saat ini kamu telah bersama." Ucap Sera. Ia mengusap air mata yang menetes di pipinya.
" Sekarang kau sudah berani menentang Mama hanya karena pria itu." Ucap nyonya Wijaya.
Sera menatap mamanya dengan tajam.
" Ma, pria yang Mama benci telah menyelamatkan nyawaku. Dia rela mengorbankan nyawanya demi aku Ma. Apa mata Mama tidak. juga terbuka setelah apa yang telah dia lakukan untukku?" Tanya SeraSera membuat nyonya Wijaya bungkam.
" Memang seharusnya aku saja yang berada di dalam sana." Sera menunjuk ruang operasi.
" Seharusnya mas Arnold tidak perlu menolongku, biar Mama bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan aku."
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi Sera, ia mengusap pipinya yang terasa panas.
" Jangan pernah kau mengucapkan kata kata mengerikan seperti itu lagi Sera. Mama tidak rela kehilangan anak Mama satu satunya. Jangan pernah kau berpikir untuk meninggalkan Mama." Ucap nyonya Wijaya sambil menunjuk wajah Sera.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan keluarga mas Arnold Ma? Mereka pasti merasakan hal sama dengan Mama. Apalagi mas Arnold punya anak yang masih kecil Ma. Dia masih sangat membutuhkan ayahnya. Tapi demi aku." Sera menepuk dadanya sendiri.
" Demi aku mas Arnold tidak memikirkan putrinya Ma. Begitu melihat aku dalam bahaya dia langsung berlari menyelamatkan aku. Apa semua itu tidak membuat mata Mama terbuka? Kalau benar tidak, berarti Mama tidak punya hati. Apa karena Mama seorang mantan gang.... "
" Cukup Sera!!!" Bentak nyonya Wijaya.
" Kau telah melebihi batasanmu. Mama kecewa padamu." Nyonya Wijaya segera berlalu meninggalkan Sera. Ia merasa sakit hati melihat Sera yang berani membangkangnya.
Sedangkan Sera terduduk di kursi tunggu, ia menyesal telah membantah ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini. Namun ia tidak punya pilihan selain itu, ia harus berani memperjuangkan cintanya untuk Arnold. Ia tidak mau kehilangan Arnold, ia merasa tidak bisa hidup tanpa Arnold.
" Hiks... Hiks... " Isak Sera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Raksa yang melihat itu segera mendekati Sera. Ia menepuk bahu Sera dengan lembut, Sera mendongak menatapnya sekilas lalu ia memeluk Raksa. Ia membenamkan wajahnya pada perut Raksa meluapkan kesedihannya.
" Hiks.... Raksa... Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mas Arnold? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri hiks... " Ucap Sera terisak.
" Tenanglah Sera! Dia pasti baik baik saja." Sahut Raksa mengelus kepala Sera dengan lembut.
" Aku mulai menyukaimu Sera, tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini. Mungkin kita belum berjodoh, semoga kau bisa bersama pria yang kau cintai begitupun denganku. Semoga suatu saat nanti aku bisa menemukan wanita yang bisa mencintaiku setulus hatinya." Ucap Raksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari Sera membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dapat ia sadari jika saat ini ia sedang berada di ruang rawatnya. Tiba tiba ia teringat dengan Arnold, ia segera turun dari ranjang lalu berjalan keluar sambil mendorong tiang infusnya. Saat Sera hendak membuka pintu, tiba tiba pintu terbuka dari luar. Raksa baru saja membeli makanan untuk mereka berdua.
" Kenapa kau turun? Kau mau kemana?" Tanya Raksa menatap Sera.
" Aku mau menemui mas Arnold, aku ingin memastikan kondisinya." Sahut Sera.
" Dokter baru saja menelepon ku dan memberitahu jika Arnold baru saja sadar, aku akan mengantarmu ke sana. Tunggu dulu!" Raksa masuk ke dalam meletakkan bungkusan makanan yang ia bawa. Ia mengambil kursi roda yang ada di pojokan ruangan.
" Duduklah di sini! Aku akan membawamu ke ruangan Arnold. Ia sudah di pindahkan di ruang perawatan vip." Ujar Raksa.
__ADS_1
Tanpa melakukan perlawanan, Sera duduk di atas kursi roda karena memang ia merasa badannya masih lemas. Raksa segera mendorong Sera menuju ruang rawat vip nomer dua. Sampai di depan ruangan, Sera segera membuka pintunya.
Ceklek....
Pintu pun terbuka, Sera menatap sosok Arnold yang terbaring lemah di atas ranjang sambil menatapnya. Raksa mendorong kursi rodanya menuju ranjang menghampiri Arnold.
" Mas Arnold kamu baik baik saja?" Tanya Sera menatap Arnold.
Beberapa detik menunggu jawaban dari Arnold namun Sera tidak mendapatkannya.
" Mas kamu kenapa hmm?" Sera menyentuh lengan Arnold. Arnold menatap tangan Sera lalu ia menatap wajah Sera dengan seksama.
" Arnold? Siapa Arnold? Dan siapa kamu?"
Jeduarrr.....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Sera mendadak jadi kaku. Ia mendongak menatap Raksa di balas anggukkan kepala olehnya. Sera kembali menatap Arnold.
" Mas Arnold benar benar tidak ingat aku? Apa mas Arnold hanya bercanda saja?" Tanya Sera memastikan.
" Jangankan mengingatmu, aku saja tidak ingat siapa aku. Terus kenapa bisa aku berada di sini? Apa aku mengalami kecelakaan? Atau aku di masa?" Sera masih merasa ragu dengan sikap Arnold. Ia belum bisa menerima jika Arnold benar benar melupakannya.
Sera menggenggam tangan Arnold, keduanya saling melempar tatapan.
" Jangan bercanda Mas! Itu tidak lucu. Aku tahu aku salah karena telah membohongimu dan perasaanku sendiri. Aku menyesal Mas, aku sangat menyesal. Aku menyesal karena telah menyakitimu dengan menuruti keinginan mamaku. Tapi semua yang aku lakukan karena ada alasannya Mas. Aku terpaksa melakukan semua itu demi keselamatanmu dan Mia. Tapi mulai sekarang aku ingin memperjuangkan cinta kita Mas. Mari kita sama sama mewujudkan keinginan kita untuk bersama. Mas masih mencintaiku kan?" Tanya Sera menatap Arnold.
" Aku mencintaimu? Anak kita? Aku tidak ingat semuanya. Memangnya siapa kamu?" Tanya Arnold.
" Aku.... "
TBC....
__ADS_1