
Deg...
Jantung Zayn berdetak sangat kencang, ia menatap wanita yang ada di depannya lalu menatap Revia yang berdiri di depan pintu sambil menggandeng tangan Arvi. Zayn segera beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati istri dan putra tercintanya. Ia yakin jika Revia pasti salah paham kepadanya.
" Daddy." Arvi memeluk kaki Zayn dengan erat.
" Sayang, kamu di sini." Zayn menggendong Arvi lalu menciumi pipi Arvi dengan lembut.
" Kenapa? Apa kau pikir aku tidak akan sampai sini dan memergokimu dengan wanita lain?" Revia tersenyum sinis menatap Zayn.
" Kamu terlihat begitu cemburu sayang, apa itu tandanya kamu sudah sepenuhnya mencintai Mas." Ucap Zayn terkekeh.
" Nggak lucu." Cebik Revia memasang wajah cemberutnya.
Zayn mengelus rambut Revia dengan lembut.
" Jangan cemberut gitu donk sayang, wajahmu itu terlihat lucu kalau lagi cemberut gitu membuat Mas pengin cium bibir kamu, nanti kalau Mas khilaf di sini gimana?" Tanya Zayn mengedipkan sebelah matanya.
" Bodo' amat." Ketus Revia.
" Ayo Mas kenalkan dengan sepupu Mas." Ucapan Zayn membuat Revia melongo.
Sepupu? Hanya sepupu? Padahal pikiran buruk sudah mendominasi pikiran Revia, tapi ternyata mereka hanya sepupu? Sungguh menakjubkan, pikir Revia.
" Ayo sayang! Jangan bilang kamu berpikir kalau Mas menduakanmu." Ucap Zayn.
" Memang itu yang aku pikirkan, memang apa lagi?" Suara Revia masih ketus seperti sebelumnya.
" Duh kasihan istri Mas, saking cintanya sampai membuatnya takut kehilangan Mas. Dengar sayang! Mas tidak akan pernah menduakan kamu. Mas sangat mencintai kamu buka wanita lain. Ayo!" Zayn menggandeng tangan Revia mendekati wanita yang tadi duduk bersama Zayn yang ternyata sepupunya.
__ADS_1
" Bang Zayn, dia istrimu?" Tanya wanita itu menunjukkan Revia.
" Iya." Sahut Zayn.
" Sayang, kenalkan! Ini Lisa, anak dari adiknya papa. Dan Lisa ini istri Abang yang sangat Abang cintai." Ucap Zayn membuat Revia tersipu malu.
" Hai Kak, kenalkan aku Lisa sepupunya bang Zayn. Bukan selingkuhannya." Ucap Lisa menggoda Revia sambil menyodorkan tangannya. Ia tahu apa yang ada di pikiran Revia saat melihat Zayn bersamanya.
" Revia." Ucap Revia membalas uluran tangan Lisa.
" Silahkan duduk sayang!" Zayn menarik kursi untuk Revia.
" Terima kasih Mas." Ucap Revia melempar senyuman manisnya.
Zayn kembali duduk di kursinya sambil memangku Arvi. Ia memesan makanan kesukaan Arvi dan Revia yaitu ayam lada hitam dan steak beff.
" I'm sorry sayang. Tadi rapatnya selesai lebih awal, sebenarnya Daddy mau mengajak kalian makan siang, tapi saat Daddy mau menelepon mommy kamu, tante Lisa memberitahu Daddy kalau dia ada di sini. Yah Daddy langsung ke sini, sampai Daddy lupa menelepon mommy kamu." Jelas Zayn sambil melirik Revia. Ia tahu Revia juga menginginkan penjelasan darinya.
" Ternyata aku baru sadar kalau kami tidak lebih penting dari keluargamu Mas." Ucapan Revia menohok hati Zayn.
" Sayang kenapa kamu berpikir seperti itu? Mas dan Lisa itu sudah sepuluh tahun tidak bertemu karena Lisa tinggal di luar negeri dan tidak pernah pulang, giliran pulang sekarang dia hanya sebentar. Tiga jam lagi penerbangannya kembali ke luar negeri." Terang Zayn.
" Terserah kamu saja Mas." Sahit Revia cuek. Entah mengapa rasanya ia sangat kesal dengan Zayn.
" Baiklah sayang maafkan Mas, Mas salah." Ucap Zayn mengalah, ia tidak mau membuat Revia marah apalagi di depan Lisa dan Arvi. Lisa merasa bersalah atas semua ini, ia merasa Revia tidak menyukainya.
" Maafkan Aunti ya sayang. Gara gara Aunti daddy kamu jadi lupa mengajak kamu makan siang. Sebagai gantinya gimana kalau setelah ini kita jalan jalan ke time zone? Aunti masih punya waktu tiga jam, setidaknya Aunti bisa bermain bersama kamu." Tawar Lisa menatap Arvi. Arvi menggelengkan kepalanya.
Lisa tidak memaksa, mereka melanjutkan makan sambil di selingi obrolan. Lebih tepatnya Zayn dan Lisa yang mengobrol sedangkan Revia diam saja, ia hanya menyahut jika di ajak berbicara. Zayn menyuapi Arvi dengan telaten. Untuk meluluhkan hati Revia, sesekali ia juga menyuapi Revia. Awalnya Revia menolak karena malu, tapi Zayn tetap memaksa. Akhirnya ia menerima suapan demi suapan dari Zayn.
__ADS_1
Selesai makan Zayn mengajak Revia untuk mengantar Lisa ke rumah kedua orang tuanya sebelum ke Bandara, namun Revia menolaknya. Ia pamit pulang lebih dulu meninggalkan Arvi bersama Zayn karena Arvi memaksa ingin ikut Zayn.
Di dalam perjalanan pulang hati Revia terasa tidak menentu, ia merasa khawatir akan kedekatan Zayn dengan wanita lain walaupun itu saudaranya.
" Ya Tuhan... Kenapa dengan hatiku? Kenapa aku merasa kesal melihat Mas Zayn bersama Lisa? Lisa itu saudaranya, jadi tidak mungkin kan dia punya hubungan dengan Mas Zayn? Apa benar kata Mas Zayn kalau aku mencintainya? Benarkah hatiku sudah terlukis namanya? Kenapa secepat ini? Aku pikir aku tidak akan bisa mencintai seorang pria lagi." Monolog Revia mencoba mencari tahu isi hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari Zayn dan Arvi baru sampai rumah, Zayn langsung masuk ke kamarnya begitupun dengan Arvi. Zayn meminta pelayan untuk membantu Arvi mandi, sedangkan ia berjalan menghampiri Revia yang sedang duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambutnya. Sepertinya ia baru saja mandi.
" Sayang." Ucap Zayn.
Revia beranjak dari kursinya, ia berlalu melewati Zayn sampai Zayn memeluknya dari belakang.
" Maafkan Mas!" Ucap Zayn menempelkan dagunya pada pundak Revia.
" Mas tidak bermaksud mengabaikanmu demi Lisa sayang, Mas juga tidak bermaksud membohongimu. Apa yang terjadi sesuai dengan apa yang Mas katakan padamu, jadi Mas mohon! Jangan berpikir buruk tentang Mas, Mas tidak seburuk yang kau bayangkan." Ujar Zayn.
Revia menghela nafasnya pelan, sejak siang tadi ia berusaha memahami perasaannya sendiri. Revia membalikkan badannya menatap Zayn. Sosok pria yang selalu sabar dalam menghadapinya.
" Aku minta maaf jika sikapku begitu kekanakkan." Ucap Revia.
" Kau benar Mas, aku cemburu melihatmu bersamamu wanita lain. Aku tidak rela kau dekat dengan mereka meskipun itu saudaramu sendiri. Tanpa aku sadari namamu telah terlukis jelas di dalam hatiku sepenuhnya. Aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan Arnold dulu. Aku mencintaimu Mas, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku! Tetaplah bersamaku selamanya. Jika ada yang tidak kau sukai dari sikapku, tolong beri tahu aku! Aku akan memperbaikinya." Revia memeluk Zayn dengan erat.
Bagaikan di siram secawan madu, hidup Zayn terasa begitu manis. Bagaikan di tanam benih bunga, kini bunga tumbuh bermekaran di hati Zayn. Zayn mengembangkan senyumannya menggambarkan kebahagiaan yang sedang melanda hatinya.
" Mas berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu sayang, Mas juga berharap kita bisa bersama selamanya. Mas sangat mencintaimu selamanya." Ucap Zayn menciumi kening Revia.
TBC.....
__ADS_1