
Jeduarrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Revia terasa kaku. Hatinya memanas melihat adegan di depannya. Ia merasa telah di permainkan oleh Zayn. Ia merasa Zayn telah menjadikannya pelampiasan dari wanita itu.
Tak mau berlama lama di sana, Revia melepaskan tangan Zayn dari genggaman Arvi.
" Ayo sayang kita pergi." Revia menarik tangan Arvi.
Mereka berdua berjalan menuju pintu.
" Sayang tunggu!" Ucap Zayn mencekal tangan Revia.
" Lepaskan aku! Urus saja wanitamu itu." Ketus Revia.
Entah mengapa hati Revia merasakan sakit seperti di cubit. Ia merasa tidak rela ada wanita lain yang menguasai Zayn. Ia sama sekali tidak menyadari perasaannya sendiri saat ini.
" Jangan pergi! Kamu belum mendengar yang sebenarnya. Aku tidak mau kamu salah paham akan hal ini. Dengarkan penjelasanku dulu! Dan percayalah hanya padaku bukan orang lain. Aku harap kau bisa bersikap dewasa di sini." Ucap Zayn menatap Revia.
Revia menghela nafasnya pelan, Zayn benar. Ia harus bersikap dewasa di sini. Ia jadi punya pikiran untuk tidak mengalah pada pelakor.
" Baiklah." Sahut Revia.
Zayn tersenyum mendengar ucapan Revia ia menarik tangan Revia menuju sofa.
" Bu tolong ajak Arvi bermain, aku akan menyelesaikan masalah kami dulu." Ujar Zayn.
" Baiklah." Sahut bu Mona.
" Ayo sayang kita bermain di taman belakang!" Ajak bu Mona menggandeng tangan Arvi.
" Baik Oma." Sahut Arvi.
Bu Mona dan Arvi segera berlalu dari sana. Zayn duduk di sebelah Revia berhadapan dengan Difarina.
" Sayang sebelum aku menjelaskan semuanya, kenalkan dia Difa. Teman sekelasku saat masa masa kuliah dulu." Ucap Zayn.
Revia memaksakan senyumannya menatap Difa di balas senyuman sinis oleh Difa.
" Dan Difa, kenalkan ini Revia. Calon istriku sekaligus ibu dari putraku." Ucap Zayn membuat Difa terkejut.
" Apa?"
" Bagaimana bisa kau belum menikah tapi sudah punya anak? Apa Revia hamil di luar nikah?" Tanya Difa dengan senyuman mengejek.
" Bukan begitu, dia...
" Owh dia seorang janda, apa begitu frustasinya kamu saat aku tolak dulu sampai sampai kau ingin menikahi seorang janda beranak satu?" Tanya Difa menghina Revia.
" Jaga ucapanmu Difa! Walaupun Revia seorang janda, tapi dia lebih terhormat daripada kamu. Jangan kau kira aku tidak tahu kebusukanmu di luar sana." Ucap Zayn membuat Difa bungkam.
" Aku minta maaf." Ucap Difa terpaksa.
" Dengarkan aku Difa!" Ucap Zayn menatap Difa.
__ADS_1
" Sepertinya kau salah paham padaku tentang perasaanku padamu. Siapa yang bilang padamu kalau aku mencintaimu?" Tanya Zayn.
Difa menatap Zayn penuh dengan kebingungan.
" Bukankah waktu di kampus dulu kau bilang pada Govan kalau kau mencintaiku? Bukankah kau juga yang mengirim surat cinta untukku? Aku sudah mengirim surat balasannya kan?" Ujar Difa.
" Kau salah Difa. Memang waktu aku mengatakan kalau aku mencintaimu, tapi aku hanya mengajari Govan untuk mengungkapkan perasaannya padamu. Dan yang mengirim surat itu bukan aku, tapi Govan." Jelas Zayn.
" Tidak mungkin, ini pasti karena Revia. Kau berbohong karena ada Revia kan? Jangan berbohong Zayn! Jangan membohongi hatimu sendiri!Aku tidak percaya ini. Aku sudah kembali Zayn, jangan pendam perasaanmu lagi." Ucap Difa.
" Kau salah Difa, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Wanita yang pertama kali aku cintai adalah Revia. Tidak ada wanita yang bisa menggetarkan hati ini selain dia." Ujar Zayn.
Zayn menggenggam tangan Revia.
" Revia cinta pertama dan terakhirku." Ucap Zayn mencium punggung tangan Revia.
Revia tersenyum bahagia mendapat perlakuan yang istimewa dari Zayn. Difa mengepalkan erat tangannya. Ia benar benar tidak terima dengan perlakuan Zayn.
" Aku tetap tidak percaya Zayn, aku yakin kau mengatakan itu karena kau merasa terikat dengan Revia dan anaknya. Jika kau sudah menyadari perasaanmu untukku, temuilah aku! Aku tinggal di apartemen xx nomer sepuluh." Ucap Difa beranjak.
" Dan kau Revia." Ucap Difa menunjuk Revia.
" Aku salut padamu, kau pandai merayu Zayn sehingga dia bisa jatuh ke dalam pesonamu. Tapi aku tidak kaget sih, memang biasanya seorang janda sepertimu butuh sandaran hidup untuk membesarkan anakmu. Kalau membesarkan sendiri, aku rasa tidak mampu lah." Ejek Difa.
Revia langsung berdiri dari tempatnya.
" Apa kau bilang? Sandaran hidup?" Tanya Revia mendekati Difa.
" Apa kau pikir aku tidak mampu membiayai hidupku dan putraku? Kau tidak tahu siapa aku. Jadi akan lebih baik kalau kau diam daripada mempermalukan dirimu sendiri di hadapanku." Ujar Revia.
" Aku memang tidak tahu siapa kamu, tapi aku tahu jelas tujuanmu mendekati Zayn." Sahut Difa.
" Kalau begitu akan aku perkenalkan diriku padamu. Aku Revia Anggara pemimpin perusahaan RA Group, perusahaan terbesar kedua di kota ini." Ucap Revia membuat Difa terkejut. Ia melongo membuka mulutnya dan melebarkan matanya.
" A.. Apa? RA Group?" Tanya Difa memastikan. Siapa yang tidak tahu dengan perusahaan besar itu. Bahkan perusaahan itu menjadi penyokong dana terbesar di kampus tempat ia menimba ilmu.
" Kenapa? Kau terkejut?" Tanya Revia.
" Sebenarnya aku tidak mau menyombongkan diriku, tapi karena kau merendahkan aku maka aku harus membungkam mulutmu yang tidak punya sopan santun itu. Kau bisanya hanya menghina tanpa tahu yang sebenarnya. Aku tidak membutuhkan uang di sini karena uang yang aku hasilkan sudah terlalu banyak jika untuk mencukupi kebutuhanku dan putraku. Aku menerima mas Zayn tulus dari dalam hatiku tanpa aku mengharap imbalan apa apa darinya. Bahkan aku sama sekali tidak mengharap cintanya, tapi mau bagaimana lagi kalau mas Zayn sendiri yang memberikan cintanya padaku? Akan sangat rugi jika aku menolak cintanya kan? Jadi jangan pernah merendahkan aku lagi, ataupun para janda lainnya." Ucap Revia penuh penekanan.
Karena merasa malu, Difa segera pergi dari sana. Revia tersenyum sinis menatap kepergiannya.
" Good job sayang, aku senang melihatmu seperti ini." Ucap Zayn menatap Revia.
" Aku juga senang bisa membungkam mulutnya yang begitu sombong itu. Terima kasih sudah membelaku di depan wanita itu dan aku minta maaf jika ucapanku terkesan merendahkanmu." Ucap Revia.
" Hmmm.. Sudah bisa bilang maaf nih." Ucap Zayn menggoda Revia.
" Siapa bilang aku tidak bisa meminta maaf? Gini gini aku juga bisa mengakui kesalahanku sendiri kali Mas." Ujar Revia duduk di sofa.
" Iya aku percaya, kau memang yang terbaik." Ucap Zayn menggenggam tangan Revia.
Revia menatap Zayn begitupun sebaliknya.
__ADS_1
" Kau juga yang terbaik Mas." Sahut Revia.
" Cie... Mulai memuji ku nih." Goda Zayn.
" Apaan sih Mas, godain mulu' dari tadi." Ucap Revia terkekeh.
" Daripada aku menggoda wanita lain, mending...
" Nggak boleh." Sahut Revia cepat.
" Maksud kamu nggak boleh godain wanita lain gitu?" Pertanyaan Zayn membuat Revia menyadari ucapannya sendiri.
" Eh maksudku nggak boleh godain aku." Ujar Revia salah tingkah.
" Beneran nih?" Tanya Zayn.
" Iya bener begitu." Sahut Revia.
" Berarti boleh donk kalau aku godain wanita lain?" Zayn bertanya lagi.
" Ya kalau memang mau godain ya sana, aku tidak apa apa kok." Sahut Revia setengah hati.
" Beneran?" Tanya Zayn.
" Iya bener." Sahut Revia.
" Ikhlas?"
" Apaan sih Mas, udah deh nggak gitu." Ujar Revia.
" Kalau begitu, lain kali kalau lihat aku sedang godain wanita lain nggak boleh marah ya." Ujar Zayn.
" Iya iya nggak boleh." Sahut Revia pada akhirnya.
Zayn tersenyum menatap Revia.
" Nggak usah senyum senyum gitu!" Ucap Revia.
" Kenapa tidak boleh? Aku bahagia mendengar ucapanmu yang tidak memperbolehkan aku menggoda wanita lain. Itu artinya kau mulai ada rasa denganku." Ucap Zayn.
" Bukan begitu aku hanya...
" Tidak perlu kamu ungkapkan aku sudah tahu sayang." Sahut Zayn memotong ucapan Revia.
" Lagian aku juga tidak akan menggoda wanita lain, waktuku habis untuk menggodamu saja. Jangankan menggoda orang lain, menggoda kamu saja susahnya minta ampun. Bahkan sampai sekarang tidak juga tergoda." Ujar Zayn mencubit pelan hidung Revia.
Revia menatap Zayn begitupun sebaliknya.
Deg.. Deg.. Deg...
Jantung keduanya terasa berdetak lebih kencang. Zayn memajukan wajahnya hingga membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa mili saja. Revia memejamkan matanya saat Zayn semakin mendekatkan wajahnya, sampai...
TBC....
__ADS_1