
Sore ini Revia baru pulang dari kantornya. Saat melewati depan ruang belajar Arvian, ia berpapasan dengan Zayn yang keluar dari sana hendak mengambil minum di dapur. Keduanya saling menatap dengan jantung yang berdebar kencang.
Deg... Deg... Deg...
" Ya Tuhan indah sekali ciptaanMu, ijinkan aku untuk memilikinya dengan menjadikannya sebagai jodohku." Batin Zayn.
" Sial... Kenapa mesti berpapasan dengannya sih. Bikin badmood aja." Gerutu Revia dalam hati.
" Sore Vi." Sapa Zayn.
Revia membulatkan matanya dengan sempurna mendengar ucapan Zayn.
" Vi?" Revia mengerutkan keningnya.
" Iya, Revia calon istriku." Ucap Zayn mengerlingkan sebelah matanya.
Revia memutar bola matanya malas. Ia segera melanjutkan langkahnya meninggalkan Zayn, Zayn terkekeh melihat sikap Revia.
Saat Revia menaiki anak tangga tiba tiba...
" Mommy!!!!" Teriak Arvi dari ruang belajar.
Mendengar itu, Revia segera berlari menuruni anak tangga. Ia kembali menuju ruang belajar bersamaan dengan Zayn yang baru kembali dari dapur.
Keduanya masuk ke dalam lalu..
" Ya Tuhan Arvi." Pekik Revia menghampiri Arvi yang tergeletak di lantai depan kamar mandi.
" Sayang kamu tidak apa apa?" Revia mengangkat tubuh Arvi ke dalam dekapannya.
" Mommy hiks.. Sakit." Isak Arvi memeluk Revia.
" Mana yang sakit sayang? Kenapa kamu bisa begini hah?" Tanya Revia cemas.
" Arvi dari kamar mandi, terus terpeleset lalu tubuh Arvi menghantam pintu Mom. Sakit hiks." Sahut Arvi.
" Bawa dia ke kamar, barang kali ada yang terluka atau mungkin kakinya terkilir." Ucap Zayn.
Revia mendongak menatap Zayn, lalu menganggukkan kepalanya. Tanpa membuang waktu, Zayn segera membopong Arvi.
" Dimana kamarnya?" Tanya Zayn menatap Revia.
" Di atas." Sahut Revia berjalan mendahului Zayn.
Zayn mengikuti Revia dari belakang menuju kamarnya, sampai di dalam kamar ia menurunkan Arvi di atas ranjang.
" Mana yang sakit sayang?" Tanya Zayn menatap Arvi.
" Kaki sama kepala Arvi yang sakit Pak guru. Perut Arvi juga sakit." Ujar Arvi meringis kesakitan.
" Pak guru tolong lihat kaki Arvi! Barang kali kakinya terkilir." Ucap Revia.
__ADS_1
" Baiklah, jangan panik! Arvi tidak apa apa, dia anak yang kuat kok." Ucap Zayn.
Zayn meneliti kaki Arvi tapi sepertinya tidak terkilir, hanya lebam sedikit saja.
" Ini hanya lebam sedikit, nanti di kompres air hangat juga mendingan." Ucap Zayn.
" Coba kepala sama perutnya." Ujar Revia.
Zayn melihat kepala dan perut Arvi namun tidak ada yang terluka sama sekali, Zayn menatap Arvi di balas kerlingan mata oleh Arvi.
" Oh rupanya Arvi sedang memainkan sandiwaranya. Tapi kenapa kakinya sampai lebam begini? Mungkin dia benar benar terpeleset tadi tapi kepalanya tidak benar benar sakit." Batin Zayn.
" Vi tolong ambilkan air hangat dan washlap! Biar lebamnya tidak terasa sakit dan sedikit berkurang." Ujar Zayn menatap Revia.
" Iya." Sahut Revia keluar dari kamarnya.
Setelah Revia tidak terlihat, Zayn menatap Arvi dengan tatapan menyelidik.
" Katakan apa yang terjadi denganmu sebenarnya sayang!" Titah Zayn.
" Arvi benar benar terpeleset Pak, tapi Arvi tidak sakit kepala atau pun sakit perut. Arvi ingin mommy dekat dengan Pak guru." Ucap Arvi jujur.
" Tapi berbohong itu dosa sayang. Lain kali tidak boleh berbohong ya, kau bisa membantu Pak guru tanpa berbohong pada mommy. Kasihan mommy terlihat cemas seperti itu." Ujar Zayn.
" Baik Pak, Arvi minta maaf." Sahut Arvi menganggukkan kepala.
Tak lama Revia kembali dengan membawa baskom berisi air hangat di tangannya. Zayn duduk di tepi ranjang, ia mengangkat kedua kaki Arvi lalu meletakkannya di atas pahanya.
Dengan telaten Zayn mulai mengompres lebam di kaki Arvi menggunakan washlap yang sudah ia celupkan ke air hangat.
" Shhh.... Sakit Pak." Rintih Arvi.
" Tahan ya sayang, biar tidak bengkak nantinya." Ujar Zayn di balas anggukkan kepala oleh Arvi.
Revia yang melihatnya merasa terharu. Ia tidak menyangka jika Zayn begitu menyayangi putranya, dan Revia dapat melihat ketulusan Zayn selama ini.
" Ehem.. Jangan memandangku seperti itu, nanti jatuh cinta lhoh." Ucap Zayn membuat Revia tersadar dari lamunannya.
" Jangan melebihi batas dari hubungan kita pak Zayn, di sini saya membayar anda untuk mengajari anak saya bukan untuk menggoda saya." Ucap Revia tegas.
" Kalau anda tidak tergoda, kenapa harus merasa terganggu? Itu artinya perasaan anda mulai tersentuh dengan godaan saya Nyonya Revia." Sahut Zayn penuh penekanan.
Revia mengepalkan erat tangannya sambil menghentakkan kakinya.
" Awh sakit Mommy." Pekik Arvi membuat Revia terkejut.
" Pelan pelan donk Pak! Kan jadi sakit kaki Arvi." Ucap Revia.
" Bukan kaki Arvi yang sakit Mom, tapi kepala Arvi. Arvi pusing mendengar Mommy berdebat terus dengan Pak guru." Ujar Arvi.
Revia menggelengkan kepalanya, putranya satu ini memang benar benar cerdas.
__ADS_1
" Ya sudah, Mommy mau mandi dulu di kamar tamu. Kamu sama Pak guru dulu ya." Ujar Revia.
" Tapi Arvi mau di temani sama Mommy, Mommy mandinya nanti saja." Rengek Arvi menarik tangan Revia.
" Tapi sayang Mommy merasa gerah seharian belum mandi, setelah mandi Mommy ke sini lagi." Ujar Revia.
" Nggak mau, pokoknya Mommy harus di sini." Kukuh Arvi.
Revia menghela nafasnya pelan.
" Baiklah sayang." Sahut Revia.
Revia naik ke atas ranjang, ia duduk di sebelah Arvi sambil mengelus kepala Arvi.
Tak lama adzan maghrib pun terdengar.
" Alhamdulillah sudah masuk maghrib, ayo kita sholat dulu!" Ucap Zayn menatap Arvi dan Revia bergantian.
" Ayo Pak!" Sahut Arvi.
" Bagaimana denganmu Nyonya Revia? Apa kamu sedang tidak ingin menjalankan kewajibanmu? Sebagai sesama, aku hanya ingin mengingatkan dan mengajakmu menuju kebaikan." Ujar Zayn.
" Saya sudah bilang berulang kali, jangan melebihi batasan anda tuan Zayn. Dan jangan mencampuri urusan pribadiku. Harus berapa kali lagi saya bilang pada anda?" Sahut Revia.
Tiba tiba Zayn menarik tangan Revia keluar dari kamar Arvi.
" Apaan sih Pak, pakai tarik tarik segala." Revia menyentak kasar tangan Zayn.
" Perlu kamu tahu Nyonya Revia, nilai pendidikan agama Arvi sangat rendah. Itu karena kamu tidak mengajarinya dengan baik." Ucap Zayn menatap tajam Revia.
Mata Revia terbelalak karena kaget dengan ucapan Zayn.
" Dia bahkan tidak bisa menghafal surat al-fatihah dengan benar. Sepertinya kamu terlalu sibuk sehingga kamu tidak tahu perkembangan putramu sendiri. Maaf! Bukannya aku ingin menghakimimu tapi aku ingin membuka hatimu agar kau memberi contoh yang lebih baik lagi untuk putramu. Pendidikan agama nomer satu Nyonya Revia, dan sholat adalah pondasi utama agama kita. Aku harap mulai sekarang kau bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan kewajibanmu dengan Tuhan. Maaf jika aku lancang, tapi sesama manusia kita harus saling mengingatkan." Ucap Zayn masuk kembali ke kamar Arvi.
" Benarkah sampai semiris itu pendidikan agama putraku? Aku pikir selama ini aku sudah mrnajdi ibu yang baik untuk Arvi. Tapi ternyata aku salah, aku sama sekali bukan ibu yang baik untuknya. Ya Tuhan... Maafkan aku!" Ujar Revia dalam hati.
Revia masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di tepi ranjang menunggu Arvi dan Zayn yang sedang mengambil air wudhu. Tak lama mereka berdua keluar dari sana.
" Mommy mau sholat jamaah sama kami?" Tanya Arvi menatap Revia.
Revia menganggukkan kepalanya.
" Alhamdulillah." Ucap Zayn dan Arvi bersamaan.
" Tunggu Mommy ambil wudhu dulu." Ucap Revia masuk ke dalam kamar mandi.
Zayn tersenyum bahagia.
" Terima kasih Tuhan Kau telah membuka hati Revia. Setidaknya sebelum menjadi jodohku, dia sudah menjalankan kewajibannya dengan baik." Batin Zayn.
Mengharap banget ya si Pak guru?
__ADS_1
TBC...