
Lamunan Sera terbayang pada beberapa waktu silam. Tepatnya saat Sera pulang dari kota B.
Flashback On.
Ceklek...
Sera membuka pintu rumah dimana ia di besarkan. Rumah mewah berlantai tiga milik tuan Wijaya yang tak lain ayah dari Sera Wijaya. Sambil menyeret kopernya ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Satu persatu ia menaiki anak tangga dengan langkah gontai, hati dan ingatannya terus tertuju pada Arnold nan jauh di sana. Sampai tiba di depan pintu kamarnya, ia berpapasan dengan mamanya yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di pojokan dari kamar Sera.
" Sayang tumben kamu pulang ke rumah, biasanya kamu pulang ke kostan kamu yang sempit itu." Itulah kalimat pertama yang mamanya ucapkan untuk menyambut dirinya yang sekian lama tidak pulang ke rumah ini lagi.
" Iya Ma, aku rindu dengan kamarku. Lagian ada sesuatu yang mau aku omongin sama mama sama papa juga. Tapi nanti saat makan malam saja, aku mau istirahat dulu." Ujar Sera. Nyonya Wijaya hanya manggut manggut saja. Ia tidak mau memaksa putrinya untuk memberitahunya sekarang, nyonya Wijaya turun ke bawah untuk menyiapkan makan siang. Sedangkan Sera masuk ke dalam kamarnya. Kamar seluas lapangan bola basket yang di dominasi dengan warna pink itu menjadi tempat paling nyaman untuknya saat beristirahat.
" Hah... " Sera membanting tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia menatap langit langit kamarnya sambil memikirkan sesuatu.
" Aku yakin jika mas Arnold memiliki perasaan untukku. Aku akan memberitahu papa sama mama, aku akan mengejar mas Arnold jika aku sudah memberitahu mereka." Monolog Sera.
Sera memejamkan matanya mengumpulkan keberanian untuk mengatakan tentang perasaanya pada kedua orang tuanya nanti.
Hingga malam hari tiba, Sera dan kedua orang tuanya menikmati makan malam bersama dengan khidmat. Hidangan ayam kecap, rendang daging sapi menjadi menu favoritenya. Selesai makan Sera mengajak kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga. Ia duduk di sofa seberang sambil menatap kedua orang tuanya.
" Pa Ma, aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian berdua. Aku telah menemukan pria yang aku cintai." Ucap Sera.
Nyonya Wijaya nampak tersenyum dengan lebar, inilah moment yang ia tunggu tunggu selama ini. Ia memang menginginkan Sera segera menikah agar ia bisa segera menimang cucu. Usianya sudah tidak muda lagi, begitupun dengan Sera. Semakin ke sini umur Sera semakin tua, ia takut kalau putrinya akan menjadi perawan tua karena terus sibuk bekerja.
Sera adalah pewaris tunggal keluarga Wijaya, seluruh harta kekayaan milik papanya akan jatuh ke tangannya setelah ia menikah. Namun Sera lebih memilih menjadi pegawai biasa di bank milik ayahnya, ia ingin mencari pasangan hidup yang menerimanya apa adanya tanpa tahu statusnya yang sebenarnya.
" Katakan kepada Mama, siapa dia Sera? Mama akan segera menemui orang tua dari pria itu untuk membicarakan masalah ini." Ujar nyonya Wijaya.
__ADS_1
" Dia sudah tidak punya orang tua Ma, dia hanya punya satu putri yang selama ini mendampingi hidupnya." Nyonya Wijaya nampak terkejut mendengar ucapan Sera, ia menatap suaminya sekilas lalu kembali menatap Sera.
" Apa maksudmu Sera?" Tanya nyonya Wijaya.
" Dia duda anak satu Ma."
" Apa????" Pekik nyonya Wijaya tidak percaya dengan apa yang Sera katakan.
" Kamu mencintai seorang duda punya anak satu?" Tanya nyonya Wijaya memastikan.
" Iya Ma." Sahut Sera.
" Apa kau sudah gila Sera, apa segitu tidak lakunya kamu sampai sampai kamu tidak bisa mendapatkan yang single sepertimu?" Nyonya Wijaya tidak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.
" Hanya dia yang menggetarkan hati ini Ma, hanya dia yang bisa membuat aku jatuh cinta." Sahut Sera.
" Dia hanya pelayan biasa di cafe xx."
Brak....
Nyonya Wijaya menggebrak meja membuat Sera dan papanya berjingkrak kaget. Nyonya Wijaya menatap Sera dengan nyalang.
" Apa kau sedang melakukan lelucon di depan Mama sekarang ini Sera?" Tekan nyonya Wijaya.
" Sudah duda punya anak, dari keluarga miskin lagi. Apa kau sedang bercanda hah? Katakan Sera!!!" Bentak nyonya Wijaya.
" Tidak Ma, aku tidak bercanda. Memang begitu kenyataannya." Sahut Sera ketakutan melihat amarah mamanya.
__ADS_1
" Apa ini yang kamu pelajari selama kamu menjalankan hidup dengan penuh kemiskinan selama ini? Apa ini yang kau dapatkan dari hasil kemandirian yang kau tunjukkan kepada kami? Apa ini tujuanmu pura pura menjadi karyawan biasa? Atau inikah hasilnya dari semua perbuatanmu selama ini Sera?"
Sera tidak bisa berkata apa apa, ia tahu jika kali ini ia membuat mamanya begitu marah dan kecewa padanya. Selama ini nyonya Wijaya mengharapkan menantu yang sepadan dengannya.
" Kau tahu apa yang bisa mama lakukan pada pria itu dan anaknya. Hanya dalam waktu hitungan detik, Mama pasti akan mendapatkan informasi tentang lelaki itu." Ucap nyonya Wijaya.
" Aku mohon jangan sakiti mereka Ma, mereka tidak bersalah. Akulah yang menyukai mereka duluan, aku juga tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak." Ujar Sera berusaha melindungi Arnold dari ancaman mamanya. Sera kenal betul siapa wanita yang menjadi ibunya, ibunya dulunya adalah ketua geng mafia yang terkenal ganas dan suka menindas orang lain. Tidak peduli itu orang yang kuat atau lemah sekalipun. Ia akan membantai orang orang yang menghalangi jalannya. Itu sebabnya tuan Wijaya hanya bisa berada di bawah kendalinya.
" Akan lebih baik jika kamu tidak mengetahui tentang perasaannya padamu. Mama tidak akan menyakiti mereka asalkan kau mau menuruti keinginan Mama, tapi kalau sampai kau menolak, Mama akan membuat perhitungan pada mereka berdua." Ujar nyonya Wijaya.
" Apapun keinginan Mama pasti akan aku turuti." Ujar Sera terpaksa mengalah karena memang ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin menyeret Arnold dan Mia ke dalam bahaya.
" Menikahlah dengan Raksa, maka Mama berjanji tidak akan mengusik pria yang kau cintai." Ucap nyonya Wijaya.
Sera nampak sedikit berpikir untuk menimbang nimbang keputusan terbaik yang akan ia ambil.
" Raksa pria yang baik, dia sepadan dengan kita. Jika kau menikah dengannya setidaknya kau tidak akan membuat malu keluarga ini. Kalau masalah cinta, kau bisa mulai belajar mencintainya mulai sekarang. Kau mau menerimanya atau tidak? Tentukan pilihanmu sekarang agar Mama bisa segera menghubungi keluarga Raksa." Ucap nyonya Wijaya sedikit menekan Sera membuat Sera tidak bisa berkutik.
" Baiklah Ma, aku mau menikah dengan Raksa tapi Mama harus berjanji tidak akan mengusik hidup pria yang aku cintai." Ucap Sera.
" Mama janji."
Flashback Off.
Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipi Sera. Raksa yang melihatnya mengusap pipi Sera dengan lembut.
" Jangan menangis! Ini hari bahagia kita. Lupakan semua yang membuatmu merasa bersedih, dan jangan khawatir! Ada aku di sini."
__ADS_1
TBC......