TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
WANITA BAIK HATI


__ADS_3

Tiba tiba...


Huek..


Mia muntah tepat di pangkuan wanita di sebelah ayahnya.


" Astaga!" Wanita tersebut dan Arnold nampak terkejut.


" Maaf, maaf! Maafkan putri saya." Ucap Arnold menatap wanita itu.


Beruntung wanita itu menggunakan jaket yang ia gunakan untuk menutupi pahanya karena ia menggunakan rok selutut saat ini. Sepertinya ia seorang pekerja kantoran karena ia juga menggunakan blazer berwarna coklat.


" Tidak apa apa." Sahutnya.


Ia membuka jaketnya lalu meletakkannya di bawah.


" Maaf Aunti." Ucap Mia.


Wanita itu menatap Mia sambil tersenyum. Mia nampak pucat saat ini.


" Kamu sakit?" Wanita itu menempelkan punggung tangannya pada dahi Mia.


" Panas." Ujarnya membuat Arnold terkejut. Ia meraba leher Mia yang memang terasa panas.


" Sepertinya putri anda masuk angin Pak, apa anda membawa minyak kayu putih?" Tanya wanita itu menatap Arnold.


" Saya tidak membawanya." Sahut Arnold.


" Saya punya obat anti masuk angin Pak, putri anda bisa meminum setengahnya. Saya akan cari minyak kayu putih untuk putri anda dulu." Ujarnya membuka tasnya mencari obat tersebut.


" Ini Pak." Wanita itu memberikan obat anti masuk angin berwujud cair pada Arnold.


" Terima kasih." Ucap Arnold di balas anggukkan olehnya.


Wanita itu menghentikan bus tepat tadi depan mini market yang mereka lewati. Ia meminta sangat sopir untuk menunggunya sebentar. Ia turun dari mobil lalu tak lama ia kembali dengan membawa minyak kayu putih dan beberapa makanan ringan di tangannya. Mobil kembali melaju, wanita itu kembali duduk di saling Arnold.


" Lhoh kenapa belum di kasihkan Pak?" Tanyanya saat melihat Arnold masih memegang obat yang ia berikan tadi.


" Ah iya." Sahut Arnold.


" Ini minum sayang, perjalanan kita lumayan jauh jadi jangan sampai kamu kenapa napa di sini." Ujar Arnold memberikan obat itu kepada Mia.


Mia pun menurut, ia meminum obat herbal itu setengah.


" Sisanya simpan saja buat nanti Pak." Ujar wanita di sebelah Arnold.


" Terima kasih." Ucap Arnold.


" Aunti, Aunti baik sekali. Siapa nama Aunti?" Tanya Mia menatapnya.


" Mau tahu apa tahu banget nih?" Tanyanya menggoda Mia.


" Mau tahu banget donk Aunti." Sahut Mia.

__ADS_1


" Kalau nama kamu siapa?" Dia bertanya lagi.


" Namaku Mia Aunti, dan ayah Mia. Namanya Arnold." Sahut Mia menepuk pundak Arnold.


" Salam kenal Nona." Sapa Arnold.


" Salam kenal juga Pak, nama saya Sera." Sahut wanita bernama Sera.


" Nama Aunti bagus, orangnya juga cantik." Ucap Mia membuat Sera tersenyum.


" Sini Aunti kasih minyak kayu putih dulu badanmu, setelah itu kamu bisa makan snack ini sambil menikmati perjalanan." Ujar Sera.


" Oke Aunti." Jawab Mia.


Sera membaluri tubuh Mia dengan minyak kayu putih. Lalu ia memberikan makanan ringan yang ia beli tadi agar Mia tidak bosan jika harus dima saja di dalam perjalanan.


Perhatian Sera membuat Arnold terharu. Ia tidak menyangka ada orang baik sebaik Sera saat ini.


" Mau kemana Pak?" Tanya Sera.


" Mau pulang ke kota B." Sahut Arnold.


" Kebetulan saya juga mau ke sana, mau menengok nenek yang sedang sakit." Ujar Sera.


Akhirnya mereka saling mengobrol seperti orang yang sudah kenal lama. Sampai di terminal di kota B, mereka bertiga turun bersama. Usut punya usut ternyata mereka satu tujuan karena Arnold dan neneknya Sera tinggal di satu desa, satu RT pula. Hal itu membuat mereka kembali bersama sampai ke desa setempat.


Sera Liliana, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun yang masih betah melajang bekerja di sebuah bank swasta di kota J di kawasan xx sebagai customer servis. Ia sama dengan Arnold, sama sama dari keluarga biasa. Begitu pengakuan Sera, namun kenyataannya hanya dia yang tahu.


Setelah turun dari taksi yang mereka tumpangi, keduanya berjalan menuju tempat tujuan masing masing. Rumah Arnold hanya berjarak lima rumah saja dari rumah neneknya Sera. Itu berarti mereka bisa di katakan sebagai tetangga dekat.


" Aunti Sera." Panggil Mia saat Sera hendak membuka pintu pagar rumah neneknya.


" Ya." Sahut Sera.


" Bolehkah Mia main ke rumah nenek Sumi?" Tanya Mia.


" Tentu sayang, tapi sekarang kamu harus istirahat dulu biar kamu kembali fit. Aunti di sini sekitar satu bulan." Ujar Sera. Ya Sera mengajukan cuti selama satu bukan, jika dalam satu bulan neneknya belum sembuh, ia akan mengajukan surat pengunduran diri.


" Yeiii.. Terima kasih Aunti, sampai jumpa lagi." Ucap Mia merasa senang.


" Sampai jumpa Mia sayang." Ucap Sera.


Sera menatap Arnold begitupun sebaliknya.


" Sampai jumpa Ma.. Mas."Ucap Sera gugup. Tadi di dalam bus, Arnold memintanya untuk tidak memanggil Pak karena mereka terlihat seumuran. Itu sebabnya Sera memanggilnya dengan sebutan Mas.


" Sampai jumpa." Sahut Arnold melanjutkan langkahnya menuju rumahnya.


Sera segera masuk ke dalam rumah neneknya.


" Assalamu'alaikum Nenek." Ucap Sera.


" Wa'alaikumsallam cucu Nenek sudah datang." Ucap nenek Sumi.

__ADS_1


Sera menghampiri neneknya yang sedang duduk di sofa rumahnya.


" Nenek aku kangen banget." Sera memeluk neneknya lalu menciumi pipi neneknya yang sudah nampak keriput.


" Kalau kangen kenapa tidak pernah mengunjungi Nenek? Kalau Nenek tidak sakit kamu tidak mau ke sini. Apa harus menunggu Nenek tiada dulu baru kamu mau kemari?"


Pertanyaan nenek Sumi membuat hati Sera mencelos. Saking sibuknya ia tidak punya waktu untuk menjenguk neneknya. Nenek yang selama ini telah mengurusnya dari Sera kecil sampai Sera lulus SMP, karena saat masuk sekolah Sera di ambil oleh kedua orang tuanya dan di bawa ke kota Jakarta.


Nenek Sumi tinggal bersama cucu dari anak kedua yang bernama Lena. Usia Lena dan Sera hampir sama. Hanya saja Lena sudah pernah menikah dan sekarang statusnya menjadi janda muda karena di tinggal pergi oleh suaminya. Lena selalu melirik duda beranak satu yang ada di rumah ujung, siapa lagi kalau bukan Arnold. Namun Arnold tidak pernah menanggapinya.


" Maafkan aku Nek, aku terlalu sibuk mengejar karier sampai sampai aku melupakan nenekku yang sangat cantik ini." Ujar Sera.


" Rayuanmu tidak mempan Sera, Nenek tidak akan tergoda denganmu." Ujar nenek Sumi membuat Sera terkekeh.


Sera duduk di sofa di samping sang nenek tercinta, mereka melanjutkan mengobrol melepas rindu yang mereka tahan selama ini.


...****************...


Di dalam rumah Revia, malam ini setelah makan malam Revia dan Zayn duduk di atas ranjang menemani Arvi yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya. Arvi merasa sangat bahagia karena belajarnya kali ini di temani oleh kedua orang tuanya. Inilah yang ia impikan selama ini.


" Sudah selesai, Daddy coba koreksi tugas Arvi!" Arvi memberikan buku kepada Zayn.


" Sayang, ini pekerjaan rumah dari Daddy. Jadi Daddy tidak boleh mengoreksi di rumah. Daddy akan mengoreksinya di sekolahan bersama dengan tugas teman temanmu nanti. Kalau Daddy koreksi di rumah, yang ada nanti di kira kamu curang. Nanti teman teman kamu mengira kalau Daddy memberikan nilai bagus untuk kamu karena kamu anak Daddy. Apa kamu mengerti maksud Daddy?" Ujar Zayn.


" Iya Dad." Sahut Arvi menganggukkan kepalanya.


" Sekarang bereskan dulu buku buku kamu." Ucap Zayn mengajari Arvi untuk mandiri. Dengan patuh Arvi melakukan apa yang Zayn perintahkan.


" Arvi ada yang ingin Mommy bicarakan padamu." Ucap Revia setelah Arvi membereskan semua bukunya.


" Apa itu Mom?" Tanya Arvi.


" Mommy dengar kamu menolak daddy Arnold dan Mia, kenapa?" Tanya Revia.


" Arvi tidak suka aja Ma." Sahut Arvi tanpa mau menjelaskan apa alasannya.


" Sayang, kalau kamu melakukan itu karena sikap daddy Arnold kepada kita selama ini, itu namanya kamu dendam sayang. Dan memiliki sikap pendendam itu tidak baik sayang." Ujar Revia.


" Terlepas apapun yang daddy Arnold lakukan, seharusnya kamu malah bersyukur sekarang. Setidaknya kamu bisa memiliki daddy pengganti seperti daddy Zayn. Bayangkan saja kalau daddy Arnold tidak meninggalkan kita, pasti daddy Zayn tidak akan ada di sini. Bukankah kamu lebih bahagia hidup bersama daddy Zayn yang baik?" Bukan untuk membanding bandingkan, namun Revia mencoba membuat Arvi mengerti.


Arvi nampak diam saja, mungkin ia sedang berpikir.


" Daddy Arnold hanya meninggalkan Mommy bukan meninggalkanmu sayang, karena selama ini daddy Arnold tidak tahu kalau Mommy punya kamu. Sekarang Mommy tanya sama kamu, kamu mau sama daddy Arnold apa sama daddy Zayn?" Tanya Revia lagi.


" Sama daddy Zayn." Sahut Arvi cepat.


" Itu berarti kamu harus berterima kasih kepada daddy Arnold, karena secara tidak langsung daddy Arnold yang membuat daddy Zayn berada di sini." Ujar Revia.


" Iya Mom." Sahut Arvi.


" Berarti sekarang kamu tidak boleh marah lagi sama daddy Arnold ya." Ujar Revia.


" Iya Mom, maafkan Arvi." Ucap Arvi.

__ADS_1


" Anak pintar." Revia mengelus kepala Arvi sambil tersenyum.


TBC.....


__ADS_2