
" Bagaimana Sonia? Apa kamu mau menerima tawaranku?" Tanya Jean menatap Sonia yang sedari tadi malah diam saja.
Sonia tersenyum smirk menatap Jean.
" Kamu mau aku jadi istrimu?" Tanya Sonia membungkuk mendekatkan wajahnya ke adalah Jean. Jean menganggukkan kepalanya.
" Sayang sekali tuan Jean, aku tidak mau. Lebih baik aku jadi gadis seumur hidupku daripada harus menikah denganmu." Jean melotot menatap Sonia. Ia tidak menyangka jika Sonia menolaknya, padahal selama ini banyak wanita yang mengejarnya, bahkan mereka rela menjadi teman ranjang Jean.
" Aku tidak tertarik dengan tawaranmu sama sekali. Mending kamu cari wanita lain saja." Sahut Sonia kembali duduk di sofa.
Jean tersenyum melihat tingkah Sonia. Sonia membuka ponselnya, ia memainkan game favoritenya dengan fokus, sesekali ia berteriak kalau jagoannya kalah. Jean menggelengkan kepalanya melihat semua itu.
" Ternyata ada wanita lain yang bisa membuat hatiku senang, sungguh dia unik sekali." Batin Jean tidak henti hentinya menatap Sonia.
Sonia yang sadar di perhatikan sedari tadi pun menoleh ke arah Jean.
" Ngapain menatapku seperti itu? Aku tidak akan berubah pikiran. Dan ya.. Minta para wartawan untuk pergi dari sini, aku mau pulang. Aku mau istirahat." Ucap Sonia.
" Aku tidak mengundang mereka, lalu untuk apa aku mengusir mereka? Aku tidak berhak atas itu. Kalau kamu mau pulang, ya tinggal pulang saja." Sahut Jean.
Sonia beranjak dari kursinya, ia berdiri di tepi ranjang menatap Jean sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Aku terlalu malas untuk menjawab pertanyaan mereka." Ucap Sonia.
" Kalau begitu tetaplah di sini temani kekasihmu yang sekarat ini." Sahut Jean enteng.
" Heh kekasih." Cebik Sonia.
" Jangan bermimpi kalau aku mau jadi kekasihmu, kalau jatuh pasti terasa sakit. Bahkan jauh lebih sakit dari lukamu sekarang. Dasar playboy cap kerbau, lolos satu target langsung cari target lainnya. Benar benar tidak tahu malu." Cibir Sonia meninggalkan Jean.
Sonia mengintip keadaan di luar ruangan Jean, sudah tidak seramai tadi namun masih ada tiga wartawan yang masih stand by di sana.
" Hah, sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk mengusir mereka." Monolog Sonia.
Ceklek...
Sonia keluar dari ruangan Jean, ketiga wartawan yang melihatnya langsung memburunya.
" Nona bagaimana keadaan tuan Jean? Apa beliau baik baik saja?"
" Ya beliau baik baik saja, lukanya tidak serius kalian jangan khawatir." Sahut Sonia.
" Bagaimana anda bisa marah seperti ini bahkan sampai menganiaya pacar sendiri Nona? Apa tuan Jean memiliki wanita lain?"
__ADS_1
" Sialll!" Umpat Sonia. Ia merasa terjebak dengan pertanyaan salah satu wartawan.
" Ya.. Dia punya wanita lain, itu sebabnya saya marah padanya. Dan saya klarifikasi tuduhan anda tadi. Saya tidak menganiaya beliau, melainkan beliau jatuh tersungkur dari ranjang." Ucap Sonia.
" Tapi beliau sudah memberikan bukti hasil visum jika beliau mengalami kekerasan Nona, beliau sudah melapor ke pihak kepolisian dan akan menuntut anda dengan pasal penganiayaan."
Jeduaarrr.....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Sonia terasa kaku. Ia benar benar terjebak dalam situasi ini.
" Tapi tuan Jean akan membebaskan anda dari tuntutannya asalkan anda mau memaafkannya dan melanjutkan rencana pernikahan kalian, Nona."
Sonia melongo mendengar ucapan wartawan bertubuh kurus itu.
" Bagaimana keputusan anda tentang ini Nona? Apakah anda memilih mendekam di penjara atau menikah dengan tuan Jean? Masalah seorang pria khilaf itu sudah biasa Nona, saran saya jangan korbankan kebahagiaan anda karena orang lain."
Sonia mengepalkan erat tangannya, ia tidak menyangka jika Jean sudah bertindak sejauh ini. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia merasa sesak untuk bernafas.
" Bagaimana Nona? Apa keputusan anda? Anda harus memutuskan sekarang juga karena penyidikan akan segera berjalan."
Entah mengapa pikiran Sonia mendadak menjadi ngeblank, ia tidak bisa menggunakan logikanya untuk berpikir.
" Baiklah aku akan memaafkan tuan Jean, aku akan menikah dengannya. Apa kalian puas?" Sonia menatap mereka dengan kesal.
" Tentu Nona, terima kasih." Ucap ketiga wartawan itu. Mereka segera berlalu meninggalkan Sonia.
" Halo Tuan, saya sudah melaksanakan tugas dengan baik." Ucapnya.
" Good job, segera urus pernikahan kami. Setelah aku sembuh, aku akan langsung menikahi Sonia." Ucap Jean.
" Beres Tuan."
Ceklek...
Jean langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum ketahuan Sonia. Ia menatap Sonia yang berjalan lemah menuju sofa.
" Ada apa Sonia? Apa yang terjadi denganmu? Apa wartawan itu menyudutkanmu?" Tanya Jean pura pura tidak tahu.
" Sangat." Sahut Sonia menganggukkan kepalanya.
" Tidak apa apa, jangan masukkan ke hati ucapan mereka." Ucap Jean.
" Tolong nyalakan televisinya! Biasanya jam segini ada tayangan berita. Aku ingin tahu berita hari ini." Sambung Jean.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Sonia mengambil remot yang ada dibatas meja, ia menyalakan televisi lalu memberikan remotnya kepada Jean. Jean mencari channel yang menurutnya menyajikan berita berita bagus. Sampai pada channel yang ia inginkan, Jean meletakkan remot di samping ranjang.
Berita terbaru hari ini bersama dari pengusaha ternama dari perusahaan Jean Group dimana kekasihnya, Nona Sonia mengumumkan pernikahan mereka yang akan tetap di laksanakan setelah tuan Jean sembuh.
Sonia yang mendengarnya langsung melihat ke arah televisi yang tergantung di tembok depan ranjang Jean. Ia melongo membulatkan matanya sambil membuka mulutnya saat video percakapannya dengan tiga wartawan tadi di putar dalam acara itu.
Baiklah aku akan memaafkan tuan Jean, aku akan menikah dengannya
" Benar benar wartawan sinting." Gerutu Sonia.
Jean tersenyum mendengar itu.
" Apa itu benar Sonia? Kau mau menikah denganku?" Tanya Jean menatap Sonia.
" Kalau kau berani menolak, itu artinya kamu mempermalukan dirimu sendiri. Kau sendiri yang mengumumkan soal pernikahan di depan media, jadi aku harap kamu bisa berpikir dengan baik." Sambung Jean memojokkan Sonia.
" Apa boleh buat? Kau sendiri yang membuat aku terpaksa menerima pernikahan ini. Kenapa kau membuat laporan hasil visum palsu? Seharusnya di hasil visum itu kan jejak tangan bang Raka, lalu kenapa malah a.... "
Sonia menjeda ucapannya, ia menyadari kebodohannya sendiri. Ia menatap Jean, Jean menaik turunkan alisnya menatap Sonia.
" Apa ini rencanamu untuk menjebakku?" Tanya Sonia.
" Kau memang cerdas Sonia, tapi sayang sekali... Kau tidak menggunakan kecerdasanmu sebelum kau mengumumkan tentang pernikahan kita di muka umum. Sekarang semua sudah terlanjur, kau tidak bisa mundur lagi. Atau reportasimu jadi taruhannya. Aku yakin, perusahaan RA group tidak akan menggunakan dirimu lagi sebagai asisten CEO. Dan akan aku pastikan tidak akan ada perusahaan yang mau menerimamu." Ucap Jean
penuh penekanan.
Sonia mengepalkan erat tangannya, ia menatap Jean dengan tajam.
" Aku pasti akan membalas perbuatanmu suatu hari nanti." Ancam Sonia. Ia berjalan menuju pintu.
" Berani kau keluar dari sini, aku akan memberitahu wartawan kalau kau telah membohongi mereka. Biar kamu tahu rasanya jadi bulan bulanan para wartawan." Ancam Jean.
" Aku juga akan memberitahu mereka kalau sebenarnya kamu bertindak kriminal karena telah melecehkan Revia." Sonia balas mengancam.
" Itu artinya kamu mencoreng nama baik sahabatmu sendiri. Ingat Sonia! Revia seorang CEO, sedikit pun berita terdengar oleh media, maka seluruh dunia akan tahu. Aku akan bertanggung jawab dengan caraku sendiri, dan kau juga harus bertanggung jawab atas apa yang kau ucapkan pada media." Ucap Jean.
Soni berpikir ucapan Jean memang benar. Melaporkan tindakan Jean bukanlah kapasitasnya. Akhirnya dengan kesal, Sonia kembali ke sofa. Ia tengkurap dinatas sofa lalu menutup kepalanya menggunakan bantal. Jean menggelengkan kepala melihat sikap Sonia yang unik menurutnya.
" Kelihatannya aja garang, tapi ternyata cute." Batin Jean.
TBC....
Buat yang belum mampir ke cerita baru author mampir ya... Author tunggu kedatangan kalian di sana..
__ADS_1
Miss u all...