
Pagi ini Revia harus tetap bekerja, padahal malam nanti adalah acara pernikahannya dengan Zayn. Ia harus bertemu client penting untuk membicarakan kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan Jean Group. Ia duduk di meja nomer lima di sebuah cafe xx bersama Sonia menunggu Jean, sang pemimpin perusahaan.
" Mana sih nih orang, nggak menghargai waktu banget. Sudah terlambat lima belas menit masih belum juga datang. Buang buang waktuku saja." Gerutu Revia menatap sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Tunggu lima menit lagi Re, katanya dia masih terjebak macet di jalan." Ujar Sonia menenangkan Revia.
" Terjebak macet dimana? Ini sudah jam sembilan San, sudah bukan waktunya macet lagi. Aku...
" Selamat pagi Nona." Belum juga Revia menyelesaikan ucapannya, seorang pria yang saat ini berada di belakang Revia menyapanya.
Revia menoleh ke belakang, pria itu berjalan melewati Revia lalu duduk di depan Revia bersama dengan satu pria lainnya. Pria tampan memiliki hidung mancung dan bibir tipis yang begitu menggoda membuat para wanita terpesona padanya, namun tidak untuk Revia.
" Pagi menjelang siang Tuan, apa anda yang bernama Tuan Jean?" Tanya Revia memastikan.
" Anda benar Nona, saya Jean dari perusahaan Jean group." Sahut Jean enteng.
" Apa begini cara kerja anda Tuan Jean? Terlambat datang sampai puluhan menit. Anda membuang waktu saya selama dua puluh menit. Dan anda pasti sangat tahu apa yang bisa saya lakukan dalam waktu sebanyak itu." Ucap Revia tegas.
" Maafkan saya, saya mengalami pecah ban saat di jalan tadi. Belum lagi terjadi kemacetan di jalan xx entah apa sebabnya saya sendiri tidak tahu." Sahut Jean.
" Saya tidak peduli akan hal itu Tuan, sekarang mari kita mulai presentasi dan jangan membuang waktu lagi." Sahut Revia.
" Sebelum kami memulainya, kenalkan saya Revia dan ini asisten saya Sonia." Sambung Revia.
Jean menatap Revia sambil tersenyum smirk.
" Benar benar menggoda, sudah cantik, cerdas galak pula. aku harus bisa menggunakan kesempatan dengan baik untuk mendapatkannya sebelum semuanya terlambat." Batin Jean.
" Nona Sonia silahkan bacakan presentasi anda!" Titah Revia.
" Baik Nyonya." Sahut Sonia.
Seperti itulah mereka berdua, walaupun mereka bersahabat namun di saat moment moment seperti ini mereka saling menghormati sesuai kedudukan masing masing.
Sonia membacakan presentasi yang telah ia buat sebelumnya, begitupun dengan asisten Jean yang bernama Raffi. Mereka menawarkan keuntungan yang menggiurkan jika kerja sama ini terjadi.
Setelah saling sepakat untuk menjalin kerja sama, mereka melanjutkan acara dengan makan siang bersama sebagai bentuk perayaan terjalinnya kerja sama mereka.
" Kenapa anda makannya sedikit sekali Nona Revia? Apa anda sedang diet?" Tanya Jean menatap Revia yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Bukankah saya tidak gemuk Tuan? Lalu untuk apa saya harus diet? Saya rasa anda tidak perlu menanyakan sesuatu hal yang tidak penting seperti ini. Silahkan nikmati saja makanannya." Sahut Revia cuek.
Jean semakin tertarik dengan sikap dingin Revia kepadanya. Ia punya kepercayaan jika wanita jutek lebih cenderung setia daripada wanita yang sok bersikap lemah lembut di depannya. Keinginannya ingin memiliki Revia menjadi semakin besar.
__ADS_1
Drrt.. Drt...
Ponsel Revia berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkat panggilannya setelah tahu jika Zayn yang meneleponnya.
" Halo Mas." Ucap Revia.
" Halo Sayang. Kamu di meja nomer berapa? Aku sudah sampai nih." Ujar Zayn di seberang sana.
Ya.. Revia meminta Zayn untuk menjemputnya saat jam makan siang karena ia memang tidak membawa mobil sendiri.
" Aku ada di meja paling ujung Mas. Kamu ke sini saja." Ucap Revia melihat ke arah pintu masuk.
Zayn mengedarkan pandangannya sampai ia melihat Revia yang melambaikan tangan kepadanya.
" Baiklah aku ke sana." Ucap Zayn mematikan sambungan teleponnya. Ia berjalan menghampiri Revia dan yang lainnya.
" Sayang." Ucap Zayn setelah sampai di samping Revia.
" Duduk Mas! Aku lanjutin makan dulu." Ujar Revia.
" Baiklah." Sahut Zayn duduk di kursi samping Revia.
" Kamu sudah makan Mas?" Tanya Revia menatap Zayn.
" Makanlah dulu di sini walaupun sedikit, nanti perutmu sakit kalau telat makan." Ujar Revia mulai perhatian membuat Zayn tersenyum bahagia.
Zayn mengambil sendok dari tangan Revia, ia menyendok makanan lalu menyodorkannya ke mulut Revia, Revia melirik yang lainnya yang saat ini sedang menatapnya. Namun sedetik kemudian ia menerima suapan dari Zayn. Setelah itu Zayn menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Revia melongo melihat perbuatan Zayn yang menurutnya konyol. Apa Zayn tidak jijik makan dengan sendok yang sama dengannya? Pikir Revia.
" Saya dengar kalian mau menikah, apa ini calon suami Anda Nona Revia?" Tanya Jean menatap Revia.
" Iya, kenalkan. Saya Zayn." Ucap Zayn mengulurkan tangannya.
" Jean." Sahut Jean menjabat tangan Zayn.
" Zayn." Ucap Zayn bergantian menjabat tangan Raffi.
" Raffi." Sahut Raffi.
Zayn kembali duduk di kursinya.
" Kapan kalian menikah? Pasti saya dapat undangan donk." Ucap Jean.
" Nanti malam. Silahkan datang jika and berkenan, kami akan sangat berterima kasih." Sahut Zayn.
__ADS_1
" Akan saya usahakan, apalagi ini undangan istimewa dari Anda sendiri." Sahut Jean.
" Sial.. Ternyata sudah terlambat. Sudah tidak ada waktu lagi." Batin Jean.
" Anda kerja dimana Tuan Zayn? Memimpin perusahaan apa?" Tanya Jean membuat Revia terkejut. Ia menatap Zayn di balas senyuman oleh Zayn.
" Aku hanya guru SD, Tuan." Sahut Zayn.
" Apa? Guru SD?" Tanya Jean memastikan.
" Iya, apa ada yang salah dengan pekerjaan saya?" Tanya Zayn menatap Jean.
" Saya hanya tidak menyangka jika selera nona Revia hanya seorang guru, dan itu pun guru SD." Cebik Jean menghina Zayn.
" Tidak masalah dengan pekerjaan, yang penting cinta dan kasih sayang saya tidak kalah besar dengan seorang pemimpin perusahaan." Ujar Zayn.
" Apa gunanya cinta dan kasih sayang kalau tidak ada uang Tuan Zayn, sekarang zaman modern. Apa apa harus menggunakan uang." Ujar Jean.
" Tidak selamanya uang bisa menjamin kebahagiaan Tuan Jean. Apalah artinya banyak uang jika pasangan kita kurang cinta dan kasih sayang. Yang ada bukannya mereka bahagia tapi mereka akan mendua mencari kenyamanan dan perhatian dari pria lain. Dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi pada Revia. Saya memang tidak punya harta seperti anda tapi saya punya cinta tulus yang tidak di miliki oleh anda." Sahut Zayn membuat Jean bungkam.
" Kunci kebahagiaan sebuah rumah tangga adalah, kenyamanan, kepercayaan, saling pengertian dan saling perhatian. Jika datang sebuah masalah, jangan menyudutkan salah satunya karena itu bisa menyakiti pasangan kita. Dan sikap seperti itu tidak bisa di beli dengan uang seberapapun besar uang yang kita punya." Sambung Zayn.
" Bukan begitu sayang?" Tanya Zayn merapikan anak rambut Revia.
" Iya kau benar Mas, kau memang terbaik dari yang paling baik." Ucap Revia.
Zayn tersenyum manis menatap Revia begitupun sebaliknya. Sonia tersenyum sambil melirik Jean yang memasang wajah kesalnya.
" Kena mental nggak tuh bos. Ha ha ha Revia sama Zayn kok di lawan. Nggak mempan." Batin Sonia.
Jean mengepalkan erat tangannya.
" Apa anda yakin jika anda benar benar tulus mencintai Nona Revia, Tuan Zayn? Apa tidak ada unsur lainnya di balik semua itu? aku rasa semua orang akan beranggapan sama denganku jika anda mendekati Nona Revia karena kekayaannya." Ucap Jean menohok hati Zayn.
" Saya tidak perlu tanggapan dari orang lain Tuan Jean, yang saya perlukan hanya tanggapan dari Revia. Karena yang akan hidup bahagia kami berdua, bukan orang lain. Jadi cukup kami yang tahu apa yang kami mau." Sahut Zayn.
Kali ini Jean benar benar bungkam tidak bisa berkata apa apa lagi.
TBC....
Sebenarnya author mau menulis bab pernikahan Zayn dan Revia. Tapi entah mengapa jadi seperti ini, timbul masalah lagi ha ha.. Nikmati saja ya..
Jangan lupa untuk selalu mendukung author. Terima kasih...
__ADS_1
Miss u All...