TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
BERTEMU MANTAN SUAMI


__ADS_3

Jam sembilan pagi, Revia dan Sonia pergi ke suatu tempat untuk meninjau proyek yang sudah sebulan berlangsung. Mereka nampak menikmati perjalanan dengan santai. Sonia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Re bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan pak Zayn?" Tanya Sonia tetap fokus ke depan.


" Yah dekat lagi, aku mengundangnya sebagai guru les Arvi lagi." Sahut Revia santai.


" Apa dia tidak membahas tentang lamarannya waktu itu?" Sonia bertanya lagi.


" Tidak, tapi sikap formalnya tiba tiba hilang. Sekarang dia berani memanggilku dengan nama saja." Ujar Revia.


" Mungkin dia lebih nyaman dengan sebutan itu, agar dia merasa lebih dekat denganmu Re." Ujar Sonia.


" Sudahlah nggak perlu membahas soal dia, kepalaku lagi pusing nih." Ucap Revia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


" Gimana kalau kita mampir ngopi dulu, biar hilang tuh pusingnya." Ujar Sonia.


" Boleh juga San, cari cafe terdekat gih!" Sahut Revia.


" Oke." Sahut Sonia.


Sampai mereka melewati sebuah cafe di pinggir jalan, Sonia membelokkan mobilnya masuk ke area parkir cafe tersebut. Mereka berdua turun dari mobil lalu masuk ke dalam.


Setelah memesan dua coffe latte, mereka duduk berhadapan di meja delapan.


" Nyaman juga cafenya, tempatnya bersih dan tidak terlalu padat pengunjung." Ujar Revia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.


" Iya kau benar." Sahut Sonia.


Tak lama seorang waiter membawakan pesanan mereka.


" Silahkan Mbak pesanannya." Ucap pelayan pria itu meletakkan segelas coffe latte di depan Sonia dan Revia.


Deg.. Deg...


Jantung Revia berdetak sangat kencang mendengar suara pria itu. Suara yang tidak asing baginya. Revia mendongak menatap pelayan tersebut, begitu pun sebaliknya. Keduanya nampak sama sama terkejut.


" Arnold."


" Revi." Ucap mereka bersamaan.


Sonia pun terkejut mendengar Revia menyebut nama Arnold yang tak lain mantan suami Revia.


" Kau bekerja di sini?" Tanya Revia menatap Arnold sambil tersenyum sinis.


" Iya." Sahut Arnold.


" Apa kekasihmu jatuh miskin sehingga kau harus bekerja di tempat seperti ini? Bukankah kau memimpikan sebagai seorang pemimpin perusahaan besar seperti perusahaanku?" Tanya Revia.


" Iya kau benar." Sahut Arnold.


" Ternyata Amrita membohongiku, dia bilang kalau dia pemilik perusahaan xx tapi ternyata dia hanya seorang pegawai biasa. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur menikahinya." Sahut Arnold.


Revia nampak mengangguk anggukkan kepalanya .


" Aku minta maaf padamu Revi, aku menyesal telah meninggalkanmu demi wanita seperti Amrita. Ternyata Amrita bukan wanita baik baik, dia hanya wanita malam yang mengandalkan tubuhnya untuk menghasut para pria kaya." Ucap Arnold menatap Revia.

__ADS_1


" Ckk.. Menyedihkan sekali." Cebik Revia.


" Kau meninggalkan aku demi wanita buruk sepertinya, lalu dimana dia sekarang?" Tanya Revia basa basi.


" Dia pergi meninggalkan kami." Ucap Arnold.


" Kami?" Revia mengerutkan keningnya menatap Arnold.


" Ya, tak lama setelah kami menikah Amrita melahirkan seorang putri. Namun dia bukan milikku, saat putri kami berumur dua bulan dia pergi bersama pria lain dan sampai sekarang tidak kembali. Aku harus bekerja keras untuk membesarkan putrinya yang sudah aku anggap sebagai putriku sendiri." Ucap Arnold.


" Maafkan aku! Aku yakin kehidupanku yang sekarang akibat perbuatanku padamu. Aku telah menanggung karma dari perbuatan burukku." Sambung Arnold.


" Sorry, sampai kapan pun aku tidak bisa memaafkanmu. Aku terlalu sakit dengan perbuatanmu itu." Ucap Revia menyesap minumannya.


Tiba tiba seorang anak kecil berlari menghampiri Arnold.


" Ayah... " Teriak anak itu menubruk kaki Arnold.


" Sayang kamu sudah pulang?" Tanya Arnold mengelus pipi putri kecilnya yang saat ini duduk di bangku kelas dua SD.


" Sudah Yah." Sahut anak itu.


" Apa kamu sudah makan?" Tanya Arnold menggendong anak itu.


" Sudah." Sahutnya.


" Anak ayah memang pintar." Ucap Arnold mencium pipi putrinya.


Revia tersenyum kecut melihat perhatian Arnold kepada anak itu.


" Oh ya kenalkan sayang, ini aunti Revia dan ini aunti Sonia." Ucap Arnold.


Revia hanya membalasnya dengan senyuman saja. Arnold duduk di kursi depan Revia sambil memangku Mia.


" Inilah putriku yang aku ceritakan tadi. Sebenarnya saat itu aku ingin kembali padamu, tapi aku terlalu malu untuk berhadapan denganmu. Aku sudah menyakitimu begitu dalam, dan tidak mungkin bagimu menerimaku kembali dengan anak ini." Ucap Arnold.


" Syukurlah kalau kamu punya rasa malu. Jika saat itu kau lakukan, aku juga tidak akan mau menerimamu lagi. Aku tidak sudi di ambil oleh seseorang setelah aku di buang olehnya. Apalagi seseorang itu bagaikan sampah di mataku." Ucap Revia menohok hati Arnold.


" Maafkan aku!" Ucap Arnold.


Drt... Drt...


Ponsel Revia berdering tanda panggilan masuk, ia menatap id pemanggil yang tak lain adalah Zayn.


" Kenapa pak melakukan Zayn video call? Apa terjadi sesuatu dengan Arvi?" Batin Revia karena ini masih di jam sekolah.


Tanpa membuang waktu, Revia segera mengangkatnya.


" Halo Pa...


" Halo Mommy." Belum juga Revia selesai dengan ucapannya, wajah Arvi sudah menongol di depan kamera.


" Sayang kamu membuat Mommy kaget saja." Ucap Revia.


" Mommy? Kamu punya anak?" Tanya Arnold menatap Revia.

__ADS_1


Revia merutuki kebodohannya, bagaimana ia bisa lupa jika di depannya masih ada Arnold.


" Mommy siapa itu yang bicara?" Tanya Arvi di seberang sana.


" Ini hanya teman Mommy sayang." Sahut Revia.


" Revia katakan, anak siapa itu? Apa dia anak kita?" Tanya Arnold menyelidik.


" Sama sepertimu, aku juga sudah memiliki keluarga sendiri." Sahut Revia.


" Bisakah aku melihatnya? Kalau di dengar dari suaranya dia seumuran dengan Mia, tidak mungkin kan kau menikah sebelum kita bercerai?" Selidik Arnold.


" Kau diamlah! Aku sedang berbicara dengan putraku." Ucap Revia.


Di seberang sana Zayn yang mendengar percakapan antara Arnold dan Revia bisa menyimpulkan jika Revia bertemu dengan mantan suaminya.


" Aku pikir kamu beneran bekerja, tapi ternyata kau menemui mantan suamimu." Batin Zayn.


Revia menatap Arvi melalui kamera ponselnya.


" Sayang dimana daddy Zayn?"


Zayn membulatkan matanya mendengar ucapan Revia.


" Daddy?" Tanya Arvi.


" Iya daddymu, daddy Zayn. Dimana dia? Mommy ingin berbicara." Ujar Revia.


Zayn langsung merebut ponselnya dari tangan Arvi. Ia memberi kode pada Arvi untuk diam, Arvi hanya menganggukkan kepala saja.


" Iya sayang, aku di sini." Ucap Zayn tersenyum manis ke arah kameranya.


" Sial dia sangat pandai menggunakan kesempatan." Batin Revia.


" Ah iya Dad, aku cuma mau bilang kalau aku nanti pulangnya sore. Tolong jagain Arvi dengan baik, dan langsung pulang setelah dari sekolah." Ucap Revia sekenanya. Ia bingung mau membahas apa dengan Zayn.


" Oke sayang kamu jangan khawatir! Mas pasti akan menjaga anak kita dengan baik. Kamu hati hati kerjanya ya, sampai jumpa nanti. Mas harus mengajar lagi." Ucap Zayn.


" Baiklah, sampai bertemu nanti." Ucap Revia.


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsallam." Sahut Revia mematikan sambungan teleponnya.


Revia menatap Arnold.


" Kau sudah tahu kan jawabannya. Aku sudah memiliki keluarga baru, dan aku sudah memiliki hubungan dengan pria lain sebelum kita bercerai. Bukankah kita melakukan hal yang sama? Jadi adil kan." Ucap Revia.


" Ayo San kita lanjutkan perjalanan kita." Revia beranjak dari kursinya.


" Aunti tunggu dulu." Ucap Mia menghentikan Revia.


" Kalau di lihat lihat, aunti seperti ibu Mia. Ayah menyimpan foto aunti di dalam dompetnya. Bukan begitu Yah?"


" Maaf sayang kau salah orang, aunti hanya teman ayahmu saja, bukan ibumu. Karena aunti hanya punya satu putra yaitu Arvi." Ucap Revia meninggalkan Arnold dan Mia di ikuti oleh Sonia.

__ADS_1


" Aku tidak yakin dengan semua ucapannya, aku yakin jika anak itu adalah putraku. Aku akan mencari tahu kebenarannya, jika benar dia putraku, maka aku akan memperjuangkan kalian berdua apapun resiko dan bagaimana caranya." Batin Arnold menatap kepergian Revia.


TBC....


__ADS_2