
Revia memoles wajahnya di depan cermin. Ia memakai bedak water proff, blush on tipis dan lipstik berwarna pink membuat wajahnya nampak cantik natural. Gaun selutut berwarna hitam membuat kulit putihnya tereskpos dengan jelas. Serta kalung berlian yang menghiaa leher jenjangnya membuat Revia nampak sangat cantik paripurna.
Arvian berjalan mendekatinya.
" Mommy kapan daddy Zayn akan datang?" Tanya Arvi.
" Daddy Zayn?" Revia mengerutkan keningnya sambil menatap Arvi.
" Kata pak guru, pak guru adalah daddy Arvi. Jadi mulai sekarang Arvi harus memanggil pak guru dengan sebutan daddy. Lagian Mommy mau menikah kan dengan daddy Zayn?" Tanya Arvi menatap Revia.
" Berarti mas Zayn sudah berbicara pada Arvi. Syukurlah kalau begitu." Batin Revia.
" Mom." Arvi menyenggol lengan Revia.
" Iya sayang kamu benar, daddy Zayn memang daddymu. Maafkan Mommy yang selama ini telah membohongimu dengan mengatakan jika ayahmu sudah tiada sayang. Semoga kamu paham dengan masalah orang dewasa." Ucap Revia menangkup wajah Arvi.
Revia tahu jika ini salah, seharusnya ia memberitahu siapa ayah biologis Arvi yang sebenarnya. Namun ia memilih berbohong demi berdamai dengan keadaan. Ia tidak mau kembali dengan pria yang telah mencampakkannya selama ini. Baginya Arnold sudah mati karena telah meninggalkannya tanpa tahu jika Revia sedang mengandung anaknya saat itu.
" Arvi tidak tahu masalah apa yang sedang Mommy hadapi, tapi Arvi bahagia akhirnya Arvi bisa bersatu dengan daddy Zayn. Daddy yang selama ini Arvi inginkan." Ujar Arvi.
" Dengarkan Mommy sayang." Ucap Revia menggenggam tangan Arvi.
" Jika suatu hari nanti ada seseorang yang bertanya padamu tentang daddymu, kamu jawab saja seperti yang Mommy dan daddy Zayn katakan. Bilang kepadanya kalau kamu dan daddy Zayn sudah bersama sejak kamu kecil. Jangan sampai orang itu tahu kalau kamu dan daddy Zayn baru bertemu, atau orang itu akan menculikmu." Ucap Revia meracuni pikiran putranya sendiri.
" Arvi takut di culik Mommy, Arvi mau sama daddy Zayn sama Mommy aja." Ujar Arvi.
" Kalau begitu kamu tahu kan apa yang harus kamu katakan pada orang itu?" Tanya Revia memastikan.
" Baik Mom." Ucap Arvi menganggukkan kepalanya.
" Anak pintar, Mommy sangat menyayangimu dan Mommy tidak mau kehilanganmu sayang." Ucap Revia memeluk Arvi.
" Aku tidak akan membiarkan Arnold tahu tentang Arvi. Dia kehilangan haknya sebagai ayah saat ia meninggalkan kami. Ya Tuhan maafkan aku jika ini salah, tapi aku harus tetap melakukan semua ini." Batin Revia.
" Mommy, kapan daddy Zayn datang?" Tanya Arvi mendongak menatap Revia.
" Tunggulah daddy Zayn di bawah! Sebentar lagi daddy pasti datang bersama oma dan opa." Ujar Revia.
" Daddy sudah ada di sini."
Revia dan Arvian menoleh ke belakang dimana Zayn sedang berdiri bersandar pada pintu sambil bersedekap dada.
" Daddy." Teriak Arvi berlari menubruk Zayn.
Zayn langsung menggendong Arvian lalu menciumi pipinya.
" Kenapa Daddy tidak bilang kalau Daddy sudah sampai, Mommy baru saja merias wajahnya. Lihatlah Dad! Mommy kelihatan sangat cantik." Ucap Arvian menunjuk Revia.
__ADS_1
Zayn menatap Revia begitupun sebaliknya. Revia tersipu malu sambil tersenyum.
Deg... Deg...
Jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
" Kau benar sayang, Mommymu sangat cantik malam ini." Ucap Zayn tanpa mengalihkan pandangannya.
Zayn berjalan mendekat ke arah Revia membuat jantung Revia berdetak semakin kencang.
" Ya Tuhan... Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa mungkin aku jatuh hati pada pak guru putraku ini?" Batin Revia.
" Apa kau sudah siap?" Tanya Zayn menyadarkan Revia dari lamunannya.
" Ah iya Mas." Sahut Revia gugup membuat Zayn terkekeh.
" Tidak perlu gugup seperti itu sayang, kau terlihat jelek sekali kalau begitu." Ujar Zayn menggoda Revia.
" Ya sudah kalau aku jelek, nggak usah tunangan aja." Cebik Revia mengerucutkan bibirnya.
" Eh jangan ngambek begitu donk! Ayo kita turun! Ayah sama ibu sudah menunggu kalian di bawah." Ucap Zayn menggandeng tangan Revia.
" Apa harus bergandengan seperti ini segala?" Tanya Revia menatap Zayn.
" Biar kelihatan mesra." Sahut Zayn.
" Kenapa?" Tanya Zayn sambil mengerutkan keningnya.
" Aku malu karena aku menerimamu setelah aku menolakmu. Aku merasa tidak punya muka untuk. bertemu dengan kedua orang tuamu Mas." Ujar Revia mengeluarkan isi hatinya.
" Ayah dan ibu memaklumi sikapmu sayang, mereka juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan sebelumnya. Jadi kamu tidak perlu malu seperti ini, mereka malah senang karena pada akhirnya kamu mau menjadi menantu mereka." Ucap Zayn.
" Benarkah?" Tanya Revia memastikan.
" Hmm." Gumam Zayn menganggukkan kepalanya.
" Baiklah." Sahut Revia.
Keduanya turun ke bawah sambil bergandengan tangan, tangan kanan Zayn menggenggam tangan Revia sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menahan tubuh Arvi yang ada di gendongannya.
Pak Ramlan dan bu Mona tersenyum melihat mereka bertiga yang nampak seperti keluarga harmonis yang sesungguhnya. Begitupun dengan Sonia, ia tersenyum bahagia melihat sahabatnya bahagia.
Ya... Revia mengundang Sonia sebagai keluarga yang mendampinginya. Tentu saja Sonia tidak menolaknya karena memang mereka sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan sering kali Sonia menginap di rumah Revia.
" Malam Om, Tante." Ucap Revia menyalami kedua orang tua Zayn dengan takzim di ikuti oleh Arvian.
" Malam Revi." Sahut bu Mona.
__ADS_1
Revia dan Zayn duduk di sofa seberang sedangkan Arvian duduk di tengah tengah orang tua Zayn.
" Nak Revia." Ucap pak Ramlan.
" Ya Om." Sahut Revia.
" Kedatangan kami kemari, yang pertama untuk menyambung silahturahmi kita yang sempat terhenti. Dan yang kedua kami ingin meminangmu menjadi istri dari anak kami satu satunya yaitu Zayn." Ucap pak Ramlan menatap Revia dan Zayn bergantian.
" Apakah kamu menerima pinangan dari saya untuk anak saya?" Tanya pak Ramlan formal. Ia merasa bingung bagaimana harus bersikap, karena ia tahu jika ternyata Revia adalah orang yang di segani di yayasan tempatnya bekerja.
" Yang pertama saya ingin meminta maaf karena bersikap kasar dan memutuskan silahturahmi waktu itu. Yang kedua saya menerima pinangan dari Om, saya bersedia menjadi istri dari mas Zayn. Dan saya meminta doa restu dari kalian selaku orang tua kami agar kami bisa membangun keluarga yang bahagia." Ucap Revia.
" Alhamdulillah." Ucap mereka serempak.
" Doa terbaik untuk keluarga kalian Nak." Ucap bu Mona.
" Terima kasih Tante." Sahut Revia.
Setelah itu Zayn menyematkan cincin emas di jari manis Revia sebagai tanda pengikat jika Revia adalah miliknya begitupun dengan Revia, ia menyematkan cincin di jari Zayn. Setelah itu ia mencium tangan Zayn dengan takzim.
" Selamat ya Re, semoga lancar sampai pelaminan." Ucap Sonia memeluk Revia
" Amin... Terima kasih." Ucap Revia.
" Mommy, selamat ya. Semoga Mommy dan daddy hidup bahagia selamanya." Ucap Arvian.
" Terima kasih sayang." Ucap Revia dan Zayn bersamaan.
" Om, Tante, bolehkan aku menganggap kalian sebagai orang tuaku sendiri?" Tanya Revia menatap kedua calon mertuanya.
" Tentu saja, kenapa tidak? Sebentar lagi kamu menikah dengan Zayn, itu berarti kau akan menjadi putri kami. Bukan begitu Yah?" Bu Mona menatap pak Ramlan.
" Iya." Sahut pak Ramlan.
" Kalau begitu mulai sekarang jangan bersikap formal padaku. Panggil saja aku dengan namaku saja, tidak perlu sungkan seperti sekarang Om, Tante." Ujar Revia.
" Baiklah.. Kalau begitu mulai sekarang kamu juga harus memanggil kami dengan sebutan ayah dan ibu seperti Zayn memanggil kami." Ujar pak Ramlan.
Revia menatap Zayn dan di balas anggukkan kepala oleh Zayn.
" Baiklah Ayah, Ibu." Ucap Revia membuat Zayn tersenyum
Mereka melanjutkan acara dengan makan malam bersama. Mereka nampak makan dengan khdmat menikmati hidangan yang ada. Zayn terus menatap Revia tanpa berkedip.
" Terima kasih ya Tuhan.. Semoga kami benar benar berjodoh." Batin Zayn.
TBC.....
__ADS_1