
Malam ini Arvi di perbolehkan pulang oleh dokter karena Arvi terus merengek meminta pulang namun ia harus menjalani rawat jalan setiap harinya. Revia membawanya ke rumah bersama dengan Arnold. Saat hendak tidur, Arvi kembali merengek ingin bertemu dengan Zayn namun Arnold bersikeras melarang Revia untuk memanggilnya. Ia mengancam akan membawa Arvi dengan paksa.
Saat ini Revia benar benar di bawah tekanan batin yang begitu menyiksa hatinya. Ingin sekali ia meminta Zayn untuk datang, namun ia tidak bisa mengingkari janjinya pada Arnold. Kalaupun ia lapor polisi, Revia takut ia akan kalah karena memang ia salah telah menyembunyikan kehamilannya dari Arnold sebelum perceraian.
" Hiks.. Hiks.. Mommy... Minta daddy Zayn ke sini! Arvi mau bobok sama daddy hiks." Ucap Arvi terisak.
Revisi menatap Arnold yang berdiri di sampingnya.
" Arnold aku mohon! Biarkan aku memanggil mas Zayn kemari. Aku tidak tega melihat Arvi terus menangis seperti ini." Ucap Revia mendongak.
Arnold tidak bergeming, ia malah diam saja.
" Om Arnold, ambil darah Arvi lagi! Tapi biarkan Arvi bertemu dengan daddy Zayn. Arvi tidak butuh darah Om tapi Arvi butuh daddy Zayn." Ucap Arvi membuat hati Arnold mencelos.
" Sayang dengarkan daddy! Da...
" Om Arnold sayang sama Arvi?" Tanya Arvi memotong ucapan Arnold.
" Tentu sayang." Sahut Arnold.
" Kalau Om sayang sama Arvi, biarkan mommy menikah dengan daddy Zayn. Arvi hanya mau daddy Zayn yang menjadi ayah Arvi. Arvi tidak mau yang lain." Ucap Arvi.
Revia menatap Arnold yang mengepalkan erat tangannya menahan sesak sekaligus emosi di dalam hatinya.
Lagi lagi Arnold hanya diam saja. Ia bingung harus bagaimana. Di lain sisi ia masih mencintai Revia dan ingin kembali padanya namun di sisi lain Arvi dan Revia menolaknya mentah mentah.
" Sayang sekarang kamu tidurlah! Mommy akan memelukmu." Ujar Revia.
" Tidak mau, Arvi maunya sama daddy Mom hiks... " Sahut Arvi kukuh.
" Mengertilah Arvi, daddy Zayn bukan siapa siapa kita sayang. Ini daddy kamu, daddy kandung kamu." Ujar Revia.
" Nggak mau.. Arvi maunya sama daddy Zayn." Teriak Arvi.
" Arvian!!!" Bentak Revia tanpa sadar membuat Arvi berjingkrak kaget.
" Mommy jahat.. Mommy tidak sayang lagi sama Arvi.. Arvi membenci Mommy!!!" Arvi berteriak lebih keras lagi sambil menangis.
Tubuh Revia luruh ke lantai.
" Hiks... " Revia memukuli dadanya sendiri sambil terus terisak mengeluarkan sesak di dalam hatinya.
" Ya Tuhan kenapa ujianmu begitu berat. Aku tidak sanggup jika harus hidup seperti ini hiks.... Ambil saja nyawaku ya Tuhan.." Isak Revia.
" Revi kau tidak boleh berbicara seperti itu." Ucap Arnold menyentuh bahu Revia.
" Lalu aku harus bagaimana hah?" Teriak Revia beranjak, ia berdiri di depan Arnold sambil menatapnya dengan tajam.
" Semua ini terjadi gara gara kamu, seandainya kamu tidak datang di hadapan kami, semua tidak akan terjadi Arnold. Aku dan Arvi pasti sudah hidup bahagia bersama mas Zayn, bukan malah berada dalam posisi sulit seperti ini." Teriak Revia.
" Apa kau tidak melihat bagaimana putraku menangisi daddynya? Bagaimana jika semua ini terjadi pada putrimu itu? Apa kau hanya akan diam saja seperti ini? Apa kau akan membiarkan dia menangis darah seperti ini? Katakan Arnold! Katakan padaku!!" Revia menarik kerah Arnold. Sampai...
Brugh...
__ADS_1
Revia tidak sadarkan diri, Arnold segera menopang tubuhnya.
" Mommy, Mommy kenapa?" Arvi turun dari ranjang mendekati Revia.
" Mommymu pingsan sayang." Sahut Arnold membopong tubuh Revia ke ranjang.
Arnold merebahkan tubuh Revia, ia mengusap usap telapak tangan Revia berharap Revia segera siuman.
" Mommy hiks... " Arvi menangis sambil memeluk Revia.
" Mommy jangan tinggalin Arvi! Mommy jangan sakit! Kalau Mommy sakit siapa yang akan mengurus Arvi Mom. Hiks... Hiks.. Mommy bangun!" Ujar Arvi.
Tiba tiba Arvi turun dari ranjang, ia berlari menuju nakas. Ia membuka tas Revia lalu mengambil ponsel Revia. Tanpa membuang waktu, Arvi segera menelepon Zayn.
Telepon tersambung tinggal menunggu Zayn mengangkatnya. Arnold yang melihatnya hanya diam saja, ia tidak berani mencegah Arvi.
Di sebuah bandara di kota itu, Zayn sedang berjalan masuk ke dalam bandara sambil menyeret kopernya. Ia memutuskan untuk pergi ke kota B untuk memulai karier barunya di sana. Ia akan melupakan Arvi dan Revia karena ia merasa tidak berhak atas mereka berdua.
" Maafkan aku Revia, aku harus pergi jauh meninggalkan kalian. Selama dua hari ini aku berusaha untuk tidak ingin tahu tentang kalian berdua, tapi aku tidak bisa. Semakin aku melupakan kalian, semakin aku mengingatnya." Monolog Zayn.
Drt... Drt...
Ponsel Zayn bergetar, ia segera mengambilnya di saku celana.
" Revia." Gumam Zayn menatap id pemanggil.
" Kenapa Revia memanggilku? Apa terjadi sesuatu dengan Arvi? Aku harus mengangkatnya." Ujar Zayn.
Ia segera mengangkat panggilan teleponnya.
" Daddy, ini Arvi. Mommy pingsan Dad hiks... Daddy harus ke sini sekarang, tolong bantu Mommy Dad hiks.." Ucap Arvi.
" Tenanglah sayang! Di sana ada daddy Arnold kan? Ka..
" Arvi maunya daddy Zayn, cepat ke sini Dad! Tolong Mommy hiks.. " Sahut Arvi sambil menangis.
" Ta..
Arnold merebut ponsel di tangan Arvi.
" Kemarilah! Mereka membutuhkanmu bukan aku." Ucap Arnold.
" Baiklah aku akan ke sana." Sahut Zayn menutup panggilan teleponnya.
Zayn segera berlari keluar bandara, ia masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kamar, Arvi menatap Arnold.
" Apa itu artinya Arvi boleh bertemu dengan daddy Zayn?" Tanya Arvi.
" Arvi sayang daddy Zayn?" Tanya Arnold di balas anggukkan kepala oleh Arvi.
" Kalau sama daddy Arnold gimana?" Tanya Arnold lagi. Arvi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Apa jika daddy Arnold membiarkan mommymu menikah dengan daddy Zayn, kau akan menyayangi daddy Arnold?" Arnold bertanya lagi.
Arvi nampak sedang berpikir.
" Kalau Arvi mau menjadikan daddy Arnold sebagai temanmu, daddy Arnold akan membiarkan mommymu menikah dengan daddy Zayn. Apalagi kalau Arvi mau menyayangi daddy Arnold dan menganggap daddy Arnold sebagai daddynya Arvi. Daddy Arnold tidak akan menganggu kehidupan kalian lagi." Ujar Arnold.
" Benarkah? Apa kalau Arvi menganggap Om sebagai daddy Arvi, Om tidak akan mengganggu mommy dan daddy Zayn?" Tanya Arvi.
" Hmm." Gumam Arnold menganggukkan kepalanya.
" Baiklah kalau begitu, Arvi akan menganggap om Arnold sebagai daddy Arvi." Ucap Arvi.
" Kalau begitu panggil aku dengan sebutan daddy juga." Ucap Arnold.
" Daddy." Ucap Arvi membuat hati Arnold terasa di siram air es. Benar benar menyejukkan.
" Terima kasih sayang." Ucap Arnold memeluk Arvi.
" Panggil daddy sekali lagi!" Ucap Arnold.
" Daddy." Ucap Arvi.
Zayn yang baru saja membuka pintu begitu pilu melihat kedekatan keduanya. Ia mengira jika Arvi sudah menerima Arnold sebagai daddynya. Ia hendak menutup pintunya kembali namun Arvi melihatnya.
" Daddy." Panggil Arvi menjauh dari pelukan Arnold.
Zayn tersenyum menatap Arvi yang berjalan mendekatinya.
" Kenapa Daddy tidak masuk?" Tanya Arvi yang mulai ceria.
" Daddy tidak mau mengganggu kalian berdua." Sahut Zayn.
Arvi menggandeng tangan Zayn masuk ke dalam.
" Apa Daddy tahu? Daddy Arnold mengijinkan Daddy Zayn menikah dengan mommy." Ucap Arvi mrmbuat Zayn sangat terkejut.
" Benar begitu Arnold?" Tanya Zayn menatap Arnold dengan tatapan menyelidik.
" Iya, aku sadar jika Revia dan Arvi hanya menginginkanmu. Maafkan aku jika kehadiranku membuat semuanya menjadi kacau. Aku mengikhlaskan Revia dan Arvi menjadi milikmu. Tapi aku menginginkan sesuatu darimu Zayn." Ucap Arnold.
" Katakan apa itu!" Ucap Zayn.
" Ijinkan aku tetap berkomunikasi dengan Arvi. Karena bagaimanapun dia adalah putraku. Apa kau tidak keberatan untuk itu?" Tanya Arnold.
" Aku tidak keberatan, tapi keputusan final ada di tangan Revi. Aku tidak bisa memutuskan ini sendiri." Ujar Zayn.
" Terima kasih telah menghargai Revia sebesar ini. Aku salut padamu, dan aku ucapkan selamat untukmu." Ucap Arnold.
" Semua ini berkat kebesaran hatimu." Sahut Zayn.
Keduanya saling berpelukan.
" Semoga ini yang terbaik untuk kami semua." Batin Arnold.
__ADS_1
TBC....