
Langit gelap di hiasi bintang bintang yang memancarkan cahayanya di sertai sinar bulan yang memancar sempurna membuat suasana malam ini menjadi cerah. Namun tidak secerah hati pria yang saat ini berdiri mematung di barisan paling depan, ia bergabung dengan para tamu lainnya menyaksikan dua sejoli yang berdiri berhadapan di depan sana dengan cincin yang mereka genggam di tangan masing masing.
Hati Arnold terasa perih, sesak, seperti di himpit bebatuan besar melihat wanita yang telah berhasil mencuri hatinya hendak di pinang oleh orang lain. Sera mengulurkan tangannya kepada pria yang telah di jodohkan dengannya, melihat itu Arnold mengumpulkan keberanian untuk muncul di hadapan Sera. Calon tunangan Sera mulai memasukkan cincin ke jari manis Sera. Namun sebelum cincin itu masuk dengan sempurna, tiba tiba tatapan Sera tertuju pada Arnold. Ia merasa terkejut dengan kehadiran Arnold di pestanya, refleks ia langsung menarik tangannya dengan cepat membuat cincin yang seharusnya melingkar di jari Sera menggelinding ke lantai.
Klunting......
Tatapan semua orang mengikuti arah kemana cincin itu menggelinding, hingga tepat di bawah kaki Arnold cincin itu berhenti. Arnold mengambilnya lalu berjalan mendekati Sera dan calon tunangannya. Jantung Sera berdetak sangat kencang, begitupun sebaliknya. Jantung Arnold tak kalah berdebsr kencang apalagi ketika manik mata mereka bertemu.
" Sera aku datang untukmu." Ucap Arnold membuat orang orang yang mendengarnya terkejut. Banyak tamu yang saling berbisik membicarakan Sera dan Arnold.
" Aku datang untuk melamarmu dan menjadikanmu sebagai istri serta ibu dari anakku. Rasa cinta di dalam hatiku mengantarku ke sini untuk menghentikan pertunanganmu dengan pria lain. Bahkan Tuhan memberikan cincin yang seharusnya pria itu sematkan di jari manismu kepadaku." Ucap Arnold menunjukkan cincinnya di depan Sera.
" Sera.. Maafkan aku! Aku baru bisa datang sekarang. Aku ingin kau tahu tentang perasaanku padamu. Aku mencintaimu Sera, kau telah berhasil mencuri hatiku selama ini. Walaupun terkesan singkat namun kedekatan kita selama ini membuatku merasa nyaman berada di dekatmu. Perasaan ini semakin mendesak di dalam hatiku saat aku kehilanganmu Sera. Aku tidak rela. kau meninggalkan aku begitu saja setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau harus bertanggung jawab atas persaan ini Sera. Aku mencintaimu, menikahlah denganku dan hidup bahagia bersamaku selamanya." Ucap Arnold mengungkapkan perasaannya di depan para tamu.
Pria berparas tampan yang akan menjadi tunangan Sera tidak terima dengan sikap Arnold yang menurutnya akan merebut Sera darinya. Ia segera mendekati keduanya, sampai di depan Arnold ia menatap Arnold dengan penuh kebencian. Ia tidak tahu siapa pria ini? Kenapa tiba tiba ia muncul dan berusaha untuk menggantikan dirinya.
" Apa apaan ini Sera? Siapa pria ini? Kenapa dia mengacaukan acara pertunangan kita? Sebelum waktu yang baik berlalu, suruh dia pergi dari sini dan segera selesaikan acara kita sebelum ada perusuh yang lainnya." Ucap pria yang bernama Raksa. Ia hendak merebut cincin tunangannya dari tangan Arnold, namun Arnold langsung mengepalkan tangannya.
" Kembalikan cincin itu!" Ucap Raksa menatap Arnold dengan tajam.
" Cincin ini Tuhan berikan kepadaku, maka aku yang akan memasangkannya di jari manis Sera." Ucap Arnold.
" Heh... Rupanya kau sedang tertidur bung, bangunlah dari mimpimu!Memangnya siapa dirimu sehingga kau berani memasangkan cincin di jari Sera? Kau bahkan tidak lantas walaupun hanya menyentuh sepatunya. Aku akui nyalimu begitu besar hingga kau berani datang ke sini, tapi sayangnya kau tidak bercermin lebih dulu sebelum sampai sini. Dan untuk mencapai tujuanmu rasanya tidak akan mungkin terjadi karena aku tidak akan membiarkan tujuanmu tercapai begitu saja. Jadi kembalikan cincin itu lalu segera pergi dari sini." Ujar Raksa.
__ADS_1
" Aku tidak akan pergi sebelum Sera memberikan jawaban kepadaku, atau malah aku akan pergi dengan membawa Sera bersamaku karena Sera juga mencintaiku." Sahut Arnold.
Sedangkan yang di bicarakan hanya bisa menatap Arnold saja. Ia tidak bisa berbuat apa apa, hatinya bahagia mendengar Arnold mencintainya namun sedetik kemudian hatinya hancur karena memikirkan hubungan mereka yang tidak mungkin bisa bersama. Sera sudah terikat janji dengan ibunya kalau ia akan menikahi Raksa sebagai bentuk pengabdiannya kepada kedua orang tuanya.
Arnold menatap Sera, ia menggenggam tangan Sera dengan erat.
" Katakan Sera kalau kau juga mencintaiku! Aku akan menikahimu dan kita akan hidup bersama Sera. Katakan sesuatu! Jangan diam saja." Ujar Arnold.
Sera hanya bisa membungkam mulutnya tanpa bisa memberikan jawaban seperti yang Arnold inginkan. Revia yang melihatnya hanya bisa mengelus lengan Arnold seolah menyalurkan kekuatannya untuk Arnold.
Seorang pria paruh baya menghampiri Arnold. Dia adalah ayah dari Sera yang bernama tuan Wijaya.
" Apa yang kamu lakukan anak muda? Apa hubunganmu dengan putriku sehingga kau mengacaukan acara ini? Kau mempermalukan aku di depan para kolegaku." Ucap tuan Wijaya menatap Arnold.
Belum berhenti keterkejutannya, seorang wanita paruh baya yang terlihat modis dan cantik mendekati mereka semua. Ia menelisik penampilan Arnold dari atas sampai bawah lalu tersenyum kecut seolah meremehkan.
" Aku dengar tadi kau mau melamar anakku? Memangnya apa yang kau bawah selain cincin yang kau curi dari calon menantuku?" Tanya nyonya Wijaya yang tak lain ibunda dari Sera.
" Aku memang tidak membawa barang apa apa, tapi aku membawa cinta yang tulus untuk putri anda." Sahut Arnold percaya diri.
" Cinta?" "Ha.. ha.. " Nyonya Wijaya tertawa lepas di depan semua orang seolah sedang menertawakan hal yang lucu.
" Kau bermimpi untuk melamar anakku dengan membawa cinta anak muda. Zaman sekarang tidak ada kata kata cinta untuk membina sebuah rumah tangga, tapi dengan harta."
__ADS_1
Sera memejamkan matanya mendengar ucapan ibunya yang menohok hatinya. Ia tidak tega melihat Arnold di hina seperti ini di depan orang banyak.
" Sudahlah Mas! Sekarang pergilah dari sini, perasaanmu tidak di butuhkan di sini." Ucap Sera.
" Kenapa Sera? Apa karena aku orang miskin? Apa karena...
" Ya... " Sahut nyonya Wijaya.
" Tentu saja karena kau orang miskin, keluarga mana yang mau bersanding dengan orang miskin sepertimu? Bahkan jika kau punya istri, kau pasti akan meninggalkannya di saat dia dalam
kemiskinan." Ujar nyonya Wijaya membuat hati Arnold mencelos. Tanpa sengaja nyonya Wijaya mengingatkan perbuatan Arnold pada Revia dulu.
" Harta tidak bisa di banggakan Nyonya, tapi cinta bisa menguatkan semuanya sehingga cinta itu sendiri patut untuk di banggakan semua orang." Ujar Arnold.
" Cinta yang mana? Cinta seorang pria miskin sepertimu begitu?" Nyonya Wijaya menatap nyalang ke arah Arnold.
" Kita tidak selevel anak muda, bagaimana bisa seorang pengusaha ternama dan memiliki banyak cabang bank swasta di seluruh pelosok negeri ini memiliki menantu seperti dirimu?"
Jeduarrr....
Nah loh apa yang meledak? Lanjut besok ya...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...