
Pagi ini Arnold kembali menemui Revia dan Arvi untuk berpamitan. Ia duduk di sofa ruang tamu menunggu Arvi dan Revia turun dari kamarnya. Tak lama Revia dan Arvi turun ke bawah menghampirinya, yang membuat hati Arnold kembali terluka adalah Zayn. Zayn berjalan sambil menggendong Arvi.
" Bagaimana bisa Zayn berada di sini sepagi ini? Apa itu artinya Zayn menginap di sini? Atau memang ia sering menginap di sini selama ini? Begitu dekatkah hubungan mereka bertiga? Pantas saja aku tidak bisa masuk ke dalamnya." Batin Arnold.
" Pagi Arnold." Sapa Zayn duduk di depan Arnold.
" Pagi." Sahut Arnold.
" Halo sayang, bagaimana keadaanmu? Apa sudah mendingan?" Tanya Arnold menatap Arvi.
" Sudah Om." Sahut Arvi membuat Arnold kecewa.
Melihat perubahan wajah Arnold, Arvi sadar atas kesalahannya.
" Maksud Arvi, Dad." Ralat Arvi.
Arnold memaksakan senyumannya.
" Tidak apa sayang, mungkin kau belum terbiasa memanggilku dengan sebutan daddy." Ujar Arnold.
Arvi menganggukkan kepalanya.
" Revia, aku ke sini karena aku ingin berpamitan pada kalian semua. Aku pulang hari ini. Sebelum pulang aku ingin mengucapkan terima kasih kepadaku karena kamu sudah mengijinkan aku dan Arvi berhubungan dengan baik. Aku bahagia setelah mengetahui jika aku telah memiliki putra setampan Arvi. Aku sempat berpikir untuk memiliki kalian, tapi nyatanya aku gagal. Aku juga ingin meminta maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan padamu selama ini. Satu hal yang harus kamu tahu Revia, aku masih mencintaimu sampai saat ini." Ucap Arnold membuat Revia nampak terkejut.
" Aku memang pernah mengkhianatimu tapi itu bukan karena cinta melainkan hanya nafsu saja. Sekali lagi maafkan aku!" Sambung Arnold menatap Revia.
" Entah aku sudah memaafkanmu atau belum aku sendiri tidak tahu, tapi yang jelas aku berterima kasih padamu karena kamu telah menyelamatkan putraku walaupun kau sendiri alasan di balik semua itu. Aku juga berterima kasih padamu karena kau telah membebaskan aku dari janjiku padamu sehingga aku bisa terbebas dari laki laki sepertimu. Laki laki yang selama ini aku benci dan sudah aku lupakan, tapi sialnya sekarang kau datang lagi padaku." Sahut Revia penuh kebencian.
Arnold memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menusuk hatinya.
" Tidak masalah untuk hal itu. Revia, ada satu hal yang mengganjal di dalam hatiku. Aku ingin bertanya pada Arvi dan aku ingin tahu alasan Arvi mengejarku saat itu." Ujar Arnold.
" Kau tanyakan saja pada Arvi jika kau penasaran, aku juga sama penasarannya sama kamu." Ujar Revia.
Ketiga orang dewasa itu menatap Arvi.
" Arvi, kenapa waktu itu kamu mengejar Daddy Arnold? Sampai sampai kamu tidak melihat jalan saat menyeberang?" Tanya Arnold menatap Arvi.
" Arvi tidak tahu kenapa Dad, yang Arvi rasakan saat itu ingin memeluk Daddy Arnold. Arvi merasa mengenal Daddy Arnold sebelumnya. Makanya Arvi ingin mencegah daddy pergi dan mengajak daddy bermain sebentar. Tapi malah Arvi masuk rumah sakit." Jelas Arvi.
__ADS_1
" Itu berarti Arvi merasa ada kontak batin denganmu Arnold. Tapi maaf, walaupun Arvi merasakan itu tapi Arvi tidak mau menerimamu sebagai daddy yang mendampinginya dan mommynya." Ujar Zayn mengelus kepala Arvi.
" Tidak masalah, aku merasa senang jika Arvi bisa merasa dekat denganku. Itu artinya aku punya tempat di hati Arvi walaupun tidak sebesar tempatmu Zayn." Ucap Arnold.
" Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, taksi ku sudah lama menunggu." Ujar Arnold.
" Hati hati." Sahut Revia dan Zayn bersamaan di balas anggukkan kepala oleh Arnold.
Arnold menggendong Arvi lalu menciumi pipinya.
" Sayang Daddy pulang dulu ya, lain kali daddy akan ke sini dengan membawa adik kamu. Angkat telepon Daddy kalau Daddy meneleponmu ya. Daddy pasti akan sangat merindukanmu." Ucap Arnold.
" Iya Daddy, hati hati. Salam untuk adik Arvi." Ucap Arvi yang tidak tahu siapa adik yang Arnold maksud.
" Baiklah sayang, Daddy pergi dulu." Ucap Arnold menurunkan Arvi.
" Assalamu'alaikum." Ucap Arnold.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Revia dan Zayn.
Mereka mengantar Arnold sampai taksi. Arnold masuk ke dalam taksi dengan perasaan sedih. Bagaimana tidak? Ia melihat Zayn yang menggendong Arvi di dampingi dengan Revia yang berdiri di sampingnya. Mereka nampak seperti keluarga bahagia yang sesungguhnya.
Setelah kepergian Arnold, Zayn mengantar Arvi dan Revia ke rumah sakit untuk chek up rutin. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Arvi pernah di rawat.
" Sayang bagaimana kalau setelah pulang dari rumah sakit kita mampir ke rumah ayah. Ibu merindukan Arvi sayang." Ucap Zayn menatap Revia sekilas.
" Iya Dad Arvi mau. Arvi juga merindukan oma sama opa." Sahut Arvi.
" Bagaimana sayang?" Tanya Zayn melirik Revia.
" Mau gimana lagi? Arvi nya sudah memberikan jawabannya sendiri." Sahut Revia menatap ke luar jendela.
Zayn tersenyum mendengar jawaban Revia.
" Mommy, apakah Arvi boleh menginap di rumah opa? Arvi ingin menginap di sana Mom." Ujar Arvi.
Revia menatap Zayn begitupun sebaliknya. Tak lama Zayn kembali fokus ke depan.
" Mommy, boleh ya." Ucap Arvi.
__ADS_1
" Lihat nanti ya sayang, kalau kondisimu membaik kita akan menginap di sana. Tapi kalau kamu masih butuh banyak istirahat, kita di rumah saja. Kita bisa menginap di sana lain kalin saja." Sahut Revia.
" Yah.. " Hela Arvi tanda kecewa.
Sampai di rumah sakit, Arvi segera di periksa oleh dokter. Dokter mengatakan jika kondisi Arvi semakin membaik. Arvi bersirak gembira karena akhirnya ia bisa menginap di rumah Zayn.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Zayn. Di dalam perjalanan Arvi nampak gembira.
" Mommy, nanti Arvi mau tidur sama oma sama opa ya. Mommy bisa tidur sama daddy." Ucap Arvi.
Revia dan Zayn nampak saling bertatapan. Zayn tersenyum manis membuat Revia salah tingkah.
Sepuluh menit mereka sampai di rumah Zayn, mereka turun dari mobil. Arvi mnrggadeng Revia dan Zayn masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
" Assalamu'alaikum." Ucap mereka bertiga.
Bu Mona yang sedang duduk di ruang tamu pun menjawab salam mereka. Seorang wanita yang sedang duduk bersama dengan bu Mona menoleh ke belakang.
Deg...
" Difarina." Gumam Zayn.
Wanita yang bernama Difarina berlari menghampiri Zayn lalu..
Grep...
Difarina memeluk Zayn dengan erat. Revia tercengang melihat itu begitupun dengan Arvi. Ia nampak tidak suka ada wanita lain yang memeluk daddynya.
" Zayn hiks... " Isak Difarina.
" Maafkan aku yang telah meninggalkanmu selama ini hiks.. Aku menyesal Zayn, aku menyesal telah memilih egoku daripada kamu. Ternyata dia brengsek Zayn, dia pria brengsek yang pernah aku kenal. Hiks.. Sekarang aku kembali untukmu Zayn, untuk cinta kita." Ucap Difarina melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Zayn dengan kedua tangannya.
" Sekarang aku menerima cintamu Zayn. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Mari kita menikah dan hidup bahagia selamanya."
Jeduaarrrr....
Nah loh masalah lagi... Nggak apa apa ya masalah datang sebagai
pemanis...
__ADS_1
TBC...