
Setelah pulang dari pernikahan Sonia, Revia dan Zayn segera masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Arvi, Arvi masuk ke kamarnya lalu tidur di atas ranjang empuknya.
" Mas aku mandi dulu!" Ucap Revia.
Tiba tiba Zayn mencekal tangannya.
" Mandinya nanti saja, sekalian setelah mandi keringat." Ucap Zayn penuh arti.
" Tapi aku berkeringat Mas." Ujar Revia.
" Tidak apa apa sayang." Ucap Zayn menggendong Revia menuju ranjangnya.
Zayn merebahkan tubuh Revia di atas ranjang, ia menatap wajah Revia dengan intens. Ia mengelus pipi Revia membuat Revia memejamkan matanya. Zayn mencium lembut bibir Revia, Revia membalas ciuman Zayn tanpa ragu. Suara decapan memekakkan telinga mereka namun mereka tidak peduli orang lain akan mendengarnya. Keduanya asyik menikmati indahnya bertukar saliva. Sampai di rasa kehabisan nafas, Zayn melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Revia dengan jempolnya.
" Mas mulai ya sayang." Ujar Zayn menatap Revia dengan penuh gairah.
Revia hanya menganggukkan kepalanya. Zayn memulai permainan ranjangnya. Malam ini Zayn kembali menyentuh Revia dengan penuh kelembutan. Revia benar benar merasa terlena dengan sentuhan memabukkan yang Zayn berikan kepadanya. Tanpa ia sadari jika hatinya sudah tertulis jelas nama Zayn di dalam sana.
Satu jam lamanya Zayn memberikan permainan terbaiknya kepada Revia, setelah sama sama mencapai puncak nirwana, Zayn merebahkan tubuhnya di samping Revia sambil mengatur nafasnya.
" Terima kasih sayang." Zayn mencium pipi Revia di balas anggukkan kepala oleh Revia.
" Aku mandi dulu Mas." Ujar Revia turun dari ranjang.
" Kita mandi bersama saja." Zayn turun dari ranjang, lalu ia menggendong Revia menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Zayn menurunkan Revia pada bath up lalu mengisi airnya dengan air hangat. Tubuh Revia terasa relax saat air hangat mulai merendam tubuhnya. Zayn ikut masuk ke dalam bath up, ia duduk di belakang Revia menyandarkan punggung Revia pada dadanya. Revia mendongak ke belakang menatap Zayn, Zayn menundukkan kepalanya lalu mencium lembut bibir Revia.
" Kenapa hmm? Apa masih kurang?" Tanya Zayn. Revia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Entah kenapa aku merasa semakin dekat denganmu Mas. Apa mungkin hati ini mulai mencintaimu?" Tanya Revia membuat Zayn terkekeh.
" Memang itu yang seharusnya kamu lakukan sayang. Mas sangat bahagia jika sampai itu terjadi. Tapi tidak perlu di pikirkan tentang hal itu, biarkan semuanya mengalir apa adanya seperti air yang mengalir mengisi bath up ini meskipun sedikit tapi lama kelamaan akan menjadi penuh. Itulah cintamu pada Mas." Ujar Zayn.
" Iya Mas, semoga kita bisa hidup bahagia bersama selamanya." Ucap Revia di balas anggukkan kepala oleh Zayn.
Mereka melanjutkan acara mandi malamnya sampai benar benar bersih. Setelah itu mereka naik ke atas ranjang menuju alam mimpi.
...****************...
Di dalam kamar pengantin Jean dan Sonia, saat ini Sonia sedang kebingungan. Ia bingung mau tidur dimana, pasalnya tidak ada sofa yang tersedia di dalam kamarnya. Ia berdiri sambil mengapit bantal dan selimut sambil celingak celinguk mencari tempat yang nyaman untuknya tidur selain tempat tidur karena ia belum siap tidur satu ranjang dengan Jean, Jean terkekeh melihatnya.
" Kamu mau kemana Sonia? Ranjang udah segede ini masih bingung soal tidur. Sini tidur sama aku, aku janji tidak akan ngapa ngapain kamu." Ucap Jean menepuk ranjang di sisinya.
" Beneran? Awas aja kalau sampai kamu bohong. Akan aku tendang tubuh kamu sampai keluar kamar." Ucap Sonia menatap tajam ke arah Jean.
" Ini terlalu cepat buat aku Mas, aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri lebih dulu. Nggak bisa lah tiba tiba main melayani suami gitu aja, apalagi tanpa perasaan apa apa." Sahut Sonia.
" Butuh waktu berapa lama untuk kamu melakukan semua itu? Aku harus punya keturunan secepatnya, jadi seandainya nanti aku mati setidaknya aku sudah punya pewaris untuk menjadi penerusku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa hidup seperti sekarang Sonia, bahaya selalu mengancamku setiap saat." Ucap Jean.
Entah mengapa Sonia tidak suka dengan apa yang Jean ucapkan, mendadak ia tidak mau kehilangan Jean dalam waktu dekat ini.
" Kita baru saja menikah Mas, masa' tiba tiba kamu udah ngomongin soal kematian. Apa iya kamu tega meninggalkan aku jadi seorang janda." Ucap Sonia duduk di samping Jean dengan perasaan melow.
" Aku tidak menyangka ternyata kamu bisa sedih juga." Ucap Jean menggoda Sonia.
" Gini gini aku juga masih punya perasaan kali Mas, kalau tiba tiba kamu mati kan aku yang rugi, aku akan menanggung malu seumur hidupku karena mereka pasti akan menganggapku pembawa sial, dan tidak akan ada laki laki yang mau menikahiku karena mereka takut mati sepertimu." Ujar Sonia mengerucutkan bibirnya.
" Ada ada saja kamu ini, aku kira kamu beneran sedih karena kepergianku ternyata kamu sedih memikirkan omongan orang lain." Ujar Jean.
__ADS_1
" He he nggak gitu juga sih, ya udah ah mending tidur aja daripada ngomongin hal yang tidak berguna." Ujar Sonia.
" Iya benar kata kamu." Sahut Jean.
Mereka berdua naik ke atas ranjang. Sonia berbaring di samping Jean, mereka menatap langit langit kamar.
" Apa rencanamu ke depannya?" Tanya Jean.
" Membuka hatiku untukmu." Ucapan Sonia benar benar membuat Jean terkejut. Jean menoleh ke arah Sonia lalu tersenyum sambil menatapnya.
" Pintar sekali kamu menjawabnya." Ujar Jean.
" Memang itu rencanaku ke depannya, setelah aku berhasil mencintaimu aku akan melahirkan anak anak yang banyak untukmu supaya kau bingung dalam membagi harta warisan kepada anak anakmu." Ujar Sonia.
" Tenang saja, seluruh hartaku tidak akan habis tujuh turunan. Yang akan bingung disini itu kamu sendiri, kamu pasti akan bingung bagaimana cara mengurus mereka semua." Ujar Jean.
" Benar juga, anak satu saja belum tentu aku bisa mengurusnya apalagi banyak." Sonia menertawakan kekonyolannya.
Jean merasa bahagia memiliki pendamping seriang Sonia. Ia tidak merasa sepi lagi seperti hari hari dimana ia menjalani kehidupan sendirian. Hari ini semangatnya kembali, ia ingin hidup lebih lama untuk membahagiakan istrinya. Jean menggenggam tangan Sonia membuat Sonia menoleh ke arahnya.
" Aku sangat bersyukur bisa mendapatkanmu Sonia, kau memberi warna dalam hidupku, kau membuat hidupku tidak sesepi sebelumnya. Terima kasih telah mendampingi hidupku, aku berharap kita bisa bersatu selamanya tanpa bisa terpisahkan oleh siapapun." Ujar Jean mencium tangan Sonia.
" Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu Mas, mari kita memulai hubungan ini dengan pertemanan. Semoga dengan kedekatan kita aku bisa memberikan hati dan hidup ini sepenuhnya untukmu." Ujar Sonia.
" Aku akan selalu menunggu waktu itu tiba Sonia." Ucap Jean.
Mereka melanjutkan mengobrol dan saling bercerita layaknya seorang teman pada umumnya, hingga tengah malam keduanya sama sama tidak kuat menahan rasa kantuk yang menyerang. Akhirnya keduanya tidur berpelukan tanpa sadar.
TBC....
__ADS_1