
Zayn masuk ke kamarnya, ia menyunggingkan senyuman saat melihat kedua orang yang ia cintai sedang terlelap bersama. Ia naik ke atas ranjang, lalu berbaring di samping Arvi. Ia mengelus kepala Arvi lalu menciumnya seolah sedang menyalurkan kasih sayang seorang ayah kepada putranya. Zayn menatap Revia, ia membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Revia lalu mencium kening Revia dengan mesra. Ia menyelimuti Revia dan Arvi, membiarkan dua orang yang ia cintai beristirahat. Setelah itu ia turun dari ranjang menuju ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang selama tiga hari ini terbengkalai.
Jam dua belas siang, Zayn kembali ke kamarnya. Ia mendekati Revia dan Arvi yang masih terlelap di sana. Ia mendekati Revia lalu membungkukkan badannya mencium pipi Revia. Inilah cara Zayn membangunkan tidur Revia.
Cup..
Revia mengerjapkan matanya saat bibir lembut milik Zayn menempel di pipinya.
" Bangun sayang, saatnya makan siang." Bisik Zayn di telinga Revia. Hembusan nafas Zayn terasa panas di telinganya membuat tubuhnya meremang seketika.
Revia menatap Arvi yang masih terlelap, ia tersenyum melihat wajah polos sang putra.
" Di bawah ada Arnold." Revia terkejut mendengar ucapan Zayn.
Revia membalikkan badannya menghadap Zayn.
" Kapan dia datang Mas?" Tanya Revia.
" Tadi pagi." Sahut Zayn duduk di tepi ranjang.
" Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Tanya Revia.
" Kenapa Mas harus membangunkanmu? Apa kamu begitu berminat untuk menemui Arnold?" Pertanyaan Zayn membuat Revia terkekeh.
" Kamu tambah ganteng kalau lagi cemburu gini Mas." Ujar Revia.
" Sedikit." Sahut Zayn.
" Kalau kamu membangunkan aku setidaknya aku bisa menyambutnya dengan baik, bukankah begitu katamu." Ujar Revia.
Zayn menganggukkan kepalanya.
" Masih cemburu?" Tanya Revia.
" Tidak sama sekali, karena Mas yakin kamu tidak akan pernah mengkhianati Mas." Sahut Zayn di balas senyuman oleh Revia.
" Tadi Mas dan Arvi sudah menemuinya, dia ke sini bersama putrinya. Namun ada satu masalah sayang." Ucap Zayn.
Revia beranjak dari posisi tidurnya, ia duduk bersandar pada head board.
__ADS_1
" Masalah apa Mas?" Tanya Revia menatap Zayn.
" Arvi menolak kedatangan mereka berdua." Ucap Zayn.
Revia menatap Arvi sekilas lalu kembali menatap Zayn.
" Kenapa bisa seperti itu? Padahal terakhir mereka bertemu Arvi baik baik saja." Ujar Revia heran.
" Teman sekelas Arvi ada yang bernasib sama dengannya. Ayahnya meninggalkannya demi menikah dengan wanita lain selain ibunya. Mungkin dia bercerita kepada Arvi dan itu membuat Arvi menyadari apa yang telah Arnold lakukan pada kalian berdua. Dia membenci Arnold karena telah meninggalkan kalian. Mereka berdua nampak sama sama terluka sayang. Mas jadi bingung harus bersikap bagaimana pada keduanya." Terang Zayn menggenggam tangan Revia.
" Satu hal yang harus kamu ingat Mas, jangan pernah memaksa Arvi untuk menerima mereka berdua. Kau tidak tahu bagaimana penderitaan seorang anak yang besar tanpa ayah. Bagaimana Arvi menerima hinaan teman temannya selama ini karena ia di anggap sebagai anak yang tidak punya ayah, bagaimana Arvi begitu merindukan sosok ayah. Dan bagaimana rasanya Arvi menginginkan kasih sayang seorang ayah Mas. Aku bisa merasakan semua kesedihannya selama ini." Tak terasa air mata Revia menetes begitu saja di pipi mulusnya.
Melihat itu Zayn nampak trenyuh, ia bisa merasakan kesedihan yang di alami oleh Revia selama ini. Ia sama sekali tidak menyangka, seorang Revia yang terlihat kuat ternyata punya sisi lain. Sisi rapuh yang tidak pernah orang lain tahu karena Revia begitu pandai menutupinya selama ini.
Zayn mengusap air mata Revia dengan lembut, ia menatap wajah Revia yang nampak memerah. Zayn merentangkan kedua tangannya, Revia langsung menubruk dada bisang Zayn. Ia menangis dalam pelukan Zayn.
" Maafkan Mas yang telah membuatmu sedih. Mas tidak bermaksud membuatmu menangis seperti ini sayang." Ucap Zayn mengelus punggung Revia. Sesekali ia mencium pucuk kepala Revia dengan lembut.
Arvi yang mendengar isakan Revia pun membuka matanya. Ia menatap mommynya yang sedang menangis di pelukan daddynya.
" Kenapa Mommy menangis Dad?" Tanya Arvi beranjak duduk di ranjangnya.
Revia langsung mengusap air matanya.
" Iya sayang. Ngapain Mommy menangis? Bukankah tidak ada yang membuat Mommy sedih?" Ujar Revia menatap Arvi.
Arvi nampak menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu ayo kita makan siang, bibi pasti sudah menyiapkan makanan untuk kita di bawah." Ucap Zayn.
" Arvi tidak mau kalau masih ada daddy Arnold dan putri kecilnya. Arvi mau makan di sini saja." Ucap Arvi.
Zayn dan Revia saling melempar pandangan. Revia menganggukkan kepalanya.
" Baiklah tidak masalah, Daddy akan ambilkan makanan untukmu." Sahut Zayn.
Bukannya Zayn membenarkan sikap Arvi, namun ia mencoba memberikan waktu kepada Arvi. Ia tidak bisa memaksa Arvi begitu saja karena Arvi masih kecil. Ia masih membutuhkan arahan dan bimbingan darinya dan Revia.
" Sayang Mas turun dulu." Ucap Zayn mencium kening Revia.
__ADS_1
" Aku ikut." Sahut Revia turun dari ranjang.
" Baiklah." Sahut Zayn.
Keduanya keluar dari kamar menuju dapur sambil bergandengan tangan. Sampai di dapur mereka menghampiri bi Asih sedang menata makanan.
" Bi tolong panggil Arnold dan Mia untuk makan siang bersama." Ucap Zayn mengambil piring di rak. Sedangkan Revia duduk di kursinya. Kursi yang biasa ia tempati saat makan.
" Den Arnold dan Mia sudah pergi satu jam yang lalu Den." Ucapan bi Asih membuat Zayn dan Revia terkejut.
" Satu jam yang lalu? Kenapa mereka tidak pamitan sama aku Bi?" Tanya Zayn menatap bi Asih.
" Kata den Arnold, dia tidak mau mengganggu istirahat Den Zayn." Sahut bi Asih.
" Ini pasti karena penolakan Arvi." Gumam Zayn.
" Mas jadi merasa tidak enak dengan Arnold, sayang." Ucap Zayn.
" Aku juga Mas, kasihan juga mereka jauh jauh ke sini untuk mengunjungi Arvi, tapi malah Arvi tidak mau menerima mereka." Ujar Revia mengusap tengkuknya sendiri.
" Ya sudah tidak usah di pikirkan, kita akan mengundang mereka setelah kita berhasil membujuk dan memberi Arvi pengertian." Ujar Zayn.
" Iya Mas." Sahut Revia menganggukkan kepalanya.
" Kamu makanlah duluan! Mas akan mengundang Arvi ke sini." Ucap Zayn di balas anggukkan kepala oleh Revia.
Zayn berlalu dari sana menuju kamarnya kembali. Revia menyangga dagunya dengan tangannya memikirkan kepergian Arnold.
" Maafkan aku karena aku tidak mendidik putraku dengan baik. Tidak seharusnya dia menyimpan dendam padamu, tapi apalah dayaku Arnold. Aku dan Arvi sama sama terluka atas kepergianmu. Mungkin memang sebaiknya kita harus menjaga jarak, jalani seperti sebelum kita bertemu. Anggap angin lalu pertemuan singkat kita Arnold. Sekali lagi maafkan aku." Batin Revia.
...****************...
Di sebuah terminal bus di ibukota, Arnold menggandeng tangan Mia menaiki bus yang akan mengantarnya kembali ke kota kembang. Sampai di dalam Arnold merasa kebingungan mencari tempat duduk, pasalnya tidak ada tempat duduk yang kosong untuk mereka berdua. Hanya tersisa satu bangku di deretan nomer tiga dari sopir yang di sebelahnya sudah di isi oleh seorang wanita cantik berambut panjang. Mau tidak mau akhirnya Arnold duduk di sampingnya sambil memangku Mia.
Tak lama bus melaju meninggalkan terminal menyusuri padatnya jalanan ibu kota. Mia nampak biasa saja, sampai pada di pertengahan jalan tiba tiba....
Apa ya?????
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat nih melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Miss U All...
TBC....