
Pagi yang cerah di sambut dengan kicauan burung yang merdu. Langit berwarna biru di hiasi awan putih di tambah angin sepoi sepoi membuat suasana menjadi menyejukkan. Namun tidak untuk Sera, karena suasana hatinya bertentangan dengan suasana hari ini. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi koper kecil yang ada di depannya. Niat hati ingin meninggalkan tempat yang selama tiga minggu ini memberikan kenangan yang tidak akan terlupakan olehnya, namun hatinya berkata lain. Hatinya enggan meninggalkan tempat itu karena seseorang telah mencurinya. Siapa?Siapa lagi kalau bukan Arnold?
Lena masuk ke dalam menghampiri Sera.
" Kenapa belum pergi? Apa kamu berubah pikiran untuk menetap di sini demi bang Arnold?" Lena tersenyum sinis menatap Sera.
Sera memutar bola matanya malas, ia enggan berbicara dengan saudara yang selalu memusuhinya itu.
" Dia tidak pantas untukmu, kalau sampai orang tuamu tahu siapa pria yang kamu suka, aku yakin mereka pasti akan melarangmu. Mereka tidak akan merestui hubungan kalian berdua. Dan pastinya mereka sudah memiliki pria yang akan di jodohkan denganmu, tentunya yang sepadan denganmu." Ujar Lena. Ia duduk di meja rias sambil melipat tangannya di depan dada.
Benar kata Lena, jika kedua orang tuanya tahu Sera memiliki perasaan pada Arnold, mungkin mereka tidak akan merestuinya dengan alasan status sosial. Sera menghela nafasnya pelan.
" Bang Arnold bukan pria yang mudah tergoda dengan wanita lain. Selama ini aku selalu mencoba untuk mendekatinya dan membuka hatinya, tapi aku selalu gagal. Hari dan cintanya hanya ia berikan untuk istrinya. Entah istri yang mana aku tidak tahu, lagian yang aku dengar bang Arnold sudah menikah dia kali." Ucapan Lena membuat Sera terkejut. Namun bukan itu yang Sera pikirkan, tidak masalah jika Arnold sudah menikah dua ataupun tiga kali kalau mereka saling suka hal itu tidak akan menjadi masalah.
" Kalau dia menyimpan perasaan padamu, dia pasti sudah mengungkapkannya. Apalagi yang aku lihat kamu selalu menunjukkan ketertarikanmu padanya." Hal inilah yang menjadi pertimbangan Sera. Untuk apa ia membuka hatinya untuk menerima Arnold apa adanya jika Arnold sendiri tidak menginginkannya.
" Jangan membuang waktumu! Banyak pria mapan yang mau sama gadis sepertimu. Kau cantik, pintar dan kau berasal dari keluarga berada, jangan khawatir jika kau tidak bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari bang Arnold. Kau masih punya masa depan yang panjang Sera, tidak sepertiku. Tidak akan ada pria yang mau dengan janda sepertiku, bahkan bang Arnold saja menolakku." Ujar Lena membuat Sera terharu.
" Yang sabar Lena! Masalah jodoh tidak ada yang tahu, kalau memang Mas Arnold jodohku kami pasti akan bersatu suatu hari nanti. Tapi jika tidak, mau di perjuangkan seperti apapun kami tidak akan pernah bisa bersatu." Ucap Sera.
Sera beranjak dari ranjangnya.
" Aku pergi dulu! Aku titip nenek padamu, jaga nenek baik baik. Lain kali kalau aku bisa mengajukan cuti lagi aku akan ke sini." Ucap Sera menepuk pundak Lena.
" Hati hati!" Ucap Lena.
Sera menyeret kopernya keluar kamarnya, Lena menatap punggung Sera sambil tersenyum. Bukan karena ia orang yang jahat, tapi semua ucapannya memang benar adanya. Bagaimanapun ia tidak rela jika saudaranya mendapatkan pria seperti Arnold.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan neneknya, Sera segera keluar rumahnya. Ia benar benar meninggalkan desa sang nenek dengan perasaan entah. Di tengah perjalanan menuju jalan raya, ia berharap Arnold menghentikannya namun harapan tinggallah harapan karena Arnold maupun Mia tidak ada yang menemuinya.
Sedangkan di dalam rumah Arnold, saat ini Arnold terbaring lemah di atas ranjang sedangkan Mia sudah berangkat ke sekolah bersama teman temannya. Tubuh Arnold terasa lemas, kepalanya terasa pusing bahkan detak jantungnya terus berdebar, matanya terasa ingin terpejam. Sepertinya ia masuk angin karena semalam ia tidur tidak mengenakan baju. Entah mengapa tadi malam hawanya terasa begitu panas, itu sebabnya Arnold membuka bajunya.
" Ya Tuhan... Kenapa aku harus sakit di saat keadaan darurat seperti sekarang? Aku harus mengejar Sera dan mengutarakan perasaanku padanya." Gerutu Arnold.
Ya.. Semalam ia memikirkan ucapan Mia yang mengatakan jika ia menginginkan Sera sebagai ibunya. Mia juga menyadarkan perasaan Arnold kepada Sera. Mia benar, apa yang di rasakan Arnold saat di kolam renang itu karena Arnold cemburu pada pria yang menatap Sera saat itu. Perhatian dan kasih sayang yang Sera berikan Mia, mampu membuat Arnold mengaguminya. Kedekatan mereka dalam waktu singkat ini mampu menggetarkan hari Arnold. Bahkan tanpa Arnold sadari nama Sera telah masuk jauh ke dalam lubuk hatinya.
" Baiklah tidak apa apa jika Sera sudah pergi, setelah aku sembuh aku akan menemuinya di Jakarta. Aku punya alamat tempatnya bekerja, jadi aku bisa mencarinya di sana." Monolog Arnold.
" Sera, semoga kau bersabar menunggu kedatanganku." Arnold memejamkan matanya karena rasa kantuk yang mendera matanya.
...****************...
Di rumah Revia...
Revia sedang bersiap menjemput Arvi di sekolahnya. Ia memakai dress hitam selutut di padukan dengan riasan naturalnya membuat wajahnya nampak sangat cantik. Ia mengambil kunci mobil lalu segera turun menuju garasi rumahnya. Sampai di sana ia segera melajukan mobilnya menuju sekolahan Arvi, sekolahan yang sudah tidak ada guru setampan Zayn lagi.
Setelah berpamitan pada gurunya, Revia kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju sebuah restoran ternama di kota itu. Ia ingin mengajak Arvi makan siang setelah sekian lama.
" Mom apa nanti daddy akan menyusul kita?" Tanya Arvi menatap Revia yang sedang fokus pada kemudinya.
" Daddy tidak bisa sayang, tadi Mommy sudah menelepon daddy tapi kata daddy, daddy sedang ada rapat penting." Sahut Revia.
" Yah nggak asyik kalau tidak ada daddy." Keluh Arvi tidak semangat.
" Gimana kalau nanti kita bawakan makanan buat daddy? Kita langsung ke kantor daddy kalau sudah selesai makan? Atau kamu mau makan bersama daddy di kantor? Kita pesan makanan lalu membawanya ke kantor daddy jadi kita bisa makan bersama sama deh." Ujar Revia memberikan usulannya.
__ADS_1
" Boleh Mom." Sahut Arvi menganggukkan kepalanya.
Sampai di restoranr xx tempat biasa Revia dan Arvi makan, mereka berdua masuk ke dalam sambil bergandengan tangan. Revia menuju meja kasir untuk memesan makanan, tiba tiba Arvi menarik narik tangannya menunjukkan sesuatu.
" Apa sayang?" Tanya Revia menatap Revia menunduk.
" Itu daddy, Mom." Revia memandang ke arah yang di tunjuk Arvi.
Deg...
Jantung Revia terasa mencelos saat melihat Zayn sedang makan berdua bersama seorang wanita. Klientnya? Tidak mungkin. Karena mereka terlihat sangat akrab, bahkan wanita tersebut mengusap sudut bibir Zayn dengan mesra. Revia mengepalkan erat tangannya, ia merasa kesal karena telah di bohongi oleh Zayn. Lebih tepatnya cemburu, namun Revia tidak menyadari itu.
" Maaf Mbak saya tidak jadi pesan." Ucap Revia.
Revia menarik tangan Arvi menuju pintu keluar.
" Mommy tunggu! Ayo kita samperin daddy!" Ucap Arvi.
" Tidak perlu, biarkan daddy bersama teman wanitanya itu makan dengan tenang." Sahut Revia ketus.
" Tidak Mom, Arvi mau sama daddy." Sahut Arvi.
" Daddy!!!!!"
Zayn yang merasa mendengar suara Arvi mengedarkan pandangannya, sampai tatapannya tertuju pada Revia dan Arvi yang berdiri di depan pintu masuk.
Deg....
__ADS_1
Nah loh... ketahuan kan?
TBC...