
Hari ini Revia nampak sangat lelah, ia mengerjakan semua pekerjaannya sendiri. Dari mengurus Arvian, mengurus pekerjaan kantor hingga menemani Arvi belajar membuatnya benar benar merasa lelah.
Ya... Revia menghentikan Zayn sebagai guru les Arvian, ia tidak mau berhubungan dengan Zayn lagi. Ia juga meminta Arvian untuk tidak berharap lebih dengan Zayn. Revia yang baru selesai mandi merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit langit kamar.
Arvian yang masih menyelesaikan pekerjaan rumahnya, menoleh ke arahnya.
" Mom, ini bagaimana caranya? Kenapa bisa hasilnya seperti ini?" Tanya Arvian.
" Apa lagi sayang? Perkalian atau pembagian hmm?" Tanya Revia.
" Penambahan keduanya Mom. Sini ajari Arvi lagi!" Ujar Arvian.
Revia menghela nafasnya, ia beranjak menghampiri putranya.
" Yang mana?" Tanya Revia.
" Yang ini Mom." Sahut Arvi menunjuk soal yang ada di bukunya.
Revia menjelaskannya dengan telaten satu persatu namun setelah di tanya Arvi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
" Kamu tidak paham dengan penjelasan Mommy sama sekali?" Tanya Revia lagi.
" Penjelasan Mommy tidak seperti penjelasan pak guru. Kalau pak guru menjelaskannya dengan cara lain, jadi Arvi bisa memahaminya dengan mudah Mom." Ucap Arvi.
" Arvi mau pak guru saja yang membantu Arvi belajar. Arvi tidak mau sama Mommy." Sambung Arvi sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
Lagi lagi Revia hanya bisa menghela nafasnya sambil memijat pelipisnya.
" Bagaimana kalau Mommy masukin kamu ke grup bimbel aja, di sana temannya banyak lhoh. Kamu bisa bermain bersama mereka." Ujar Revia membujuk Arvi.
" Tidak mau, Arvi mau pak guru. Mommy kan seorang CEO, harusnya Mommy bisa bersikap profesional donk Mom. Jangan campurkan urusan pribadi Mommy sama pekerjaan pak guru. Kalau Mommy tidak mau bertemu oak guru, ya Mommy tinggal diam aja di dalam kamar. Jangan keluar! Bukan malah membuat Arvi kesulitan seperti ini." Ucap Arvi cemberut.
Revia melongo mendengar ucapan sang putra tercinta.
" Rupanya kamu sudah bisa menggurui Mommy. Sejak pak guru mengajarimu kini kamu tidak hanya pintar pelajaran saja, tapi kamu juga pintar dalam kehidupan. Mommy tidak menyangka Arvi." Ujar Revia.
Arvi menggenggam tangan Revia.
" Please Mom, undang kembali oak guru supaya pak guru mengajari Arvi. Kalau Mommy tidak mau melihat pak guru lagi, Arvi bisa belajar di tempat lain. Arvi akan mengajak pak guru ke taman atau kemana gitu, yang penting Arvi di ajar sama pak guru. Please Mom." Ucap Arvi merayu.
__ADS_1
" Ayolah mom katakan setuju, dengan begitu mommy sama pak guru bisa dekat lagi. Dan Arvi bisa mempersatukan kalian dengan mudah." Batin Arvi.
" Sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur dulu. Mommy akan memikirkan permintaanmu ini, biar Mommy yang membereskan bukumu." Ucap Revia.
" Baik Mom." Sahut Arvi turun dari kursi belajarnya menuju ranjang.
Revia menata buku Arvi di atas meja belajar, tanpa sengaja ia menemukan sebuah coretan di selembar kertas.
" Kebahagiaanku adalah dimana aku bisa memiliki seorang ayah. Dan aku menginginkan pak Zayn sebagai ayahku. Soalnya dia orangnya baik dan sangat menyayangiku." Gumam Revia membaca tulisan Arvi.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Di sisi lain aku merasa trauma dengan yang namanya pernikahan, tapi di lain sisi Arvi sangat membutuhkan sosok ayah untuk menemani tumbuh kembangnya agar dia bisa menjadi pribadi dewasa yang baik. Dan dia terlalu nyaman dengan pak Zayn. Pria yang aku tolak mentah mentah sebelumnya." Ujar Revia dalam hati.
Setelah selesai, Revia menyusul Arvi di ranjangnya. Ia memeluk sang putra tercinta dengan penuh kasih sayang. Sesekali ia mengelus kepala Arvi dengan lembut. Lama kelamaan Revia merasa mengantuk, ia pun memejamkan matanya.
" Pak guru jangan... Jangan tinggalkan Arvi."
Revia langsung terbangun begitu mendengar teriakan Arvi. Ternyata Arvi hanya mengigau saja.
" Sayang bangun Nak." Ucap Revia.
" Pak guru jangan pergi! Arvi tidak mau kehilangan pak guru. Arvi mohon pak guru hiks... " Isak Arvi dalam mimpinya.
" Sayang, bangunlah!" Revia menepuk pipi Arvi sampai Arvi membuka matanya.
Tiba tiba Arvi langsung memeluk Revia.
" Mommy Arvi bermimpi pak guru pergi ke luar negeri. Pak guru meninggalkan Arvi gara gara sikap Mommy. Arvi mohon Mom, panggil pak guru kembali. Arvi mohon Mom hiks... " Rengek Arvi.
" Baiklah sayang, besok Mommy akan meminta pak guru untuk datang kemari. Kamu tenanglah sayang! Pak guru tidak akan pergi meninggalkanmu." Ucap Revia mengelus kepala Arvi.
" Telepon sekarang Mom, Arvi juga pengin mendengar suara pak guru sebelum Arvi tidur lagi. Arvi kangen sama pak guru." Ujar Arvi.
" Baiklah sebentar." Ucap Revia.
Revia menurunkan egonya demi Arvi, ia mengambil ponselnyalalu menelepin Zayn. Arvi yang melihatnya tersenyum senang.
Di lain tempat...
Drt... Drt...
__ADS_1
Zayn yang masih terjaga segera melihat ponselnya. Senyuman mengembang di sudut bibirnya saat melihat foto Revia dan Arvi terpapang jelas di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu, ia segera mengangkatnya.
" Halo." Sapa Zayn.
" Ha... Halo pak Zayn. Selamat malam." Ucap Revia gugup.
" Selamat malam Revia, apa ada yang bisa aku bantu? Atau kamu berubah pikiran dan mau menerimaku sebagai calon suamimu?" Tanya Zayn menggoda Revia.
" Ini sudah malam Pak dan bukan waktunya untuk bercanda. Saya menelepon anda karena saya ingin mengundang anda kembali untuk menjadi guru privat Arvi. Dan...
" Kalau aku tidak mau?" Tanya Zayn memotong ucapan Revia.
" Kalau tidak mau ya sudah tidak apa apa. Saya bisa cari guru yang lainnya." Sahut Revia.
" Arvi nggak mau, Arvi maunya pak guru titik." Ucap Arvi kekeh.
Revia menghela nafasnya pelan.
" Baiklah baiklah!" Ucap Revia membuat Zayn tersenyum.
" Saya minta maaf atas sikap saya waktu itu! Dan saya minta tolong kesediaan pak guru untuk menjadi guru privat anak saya." Ucap Revia merendah.
" Baiklah aku akan membantumu. Demi cintaku padamu dan Arvi aku akan melakukan apapun. Aku akan..
" Selamat malam." Ucap Revia mematikan sambungan teleponnya. Ia terlalu malas untuk membahas hal itu.
Zayn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
" Yes... " Zayn menarik tangannya dari atas ke bawah sambil bersorak.
" Akhirnya kau kembali membuat aku mendekat, setelah ini kau tidak akan bisa menjauhkan aku dari Arvi lagi. Akan aku pastikan kita akan terikat satu sama lain dan tidak akan terpisahkan untuk selamanya. Aku mencintaimu Revia, tunggu aku." Monolog Zayn bahagia.
Di kamar Revia, Revia merasa bimbang dengan hatinya.
" Semoga ini yang terbaik untuk Arvi, aku harus mengesampingkan perasaan dan egoku demi masa depan Arvi. Tidak apa, hanya menjadi guru privat saja bukan menjadi suami." Gumam Revia.
" Ayo Mommy kita bobok lagi. Terima kasih sudah memberikan apa yang Arvi mau." Ujar Arvi.
" Tentu sayang." Sahit Revia.
__ADS_1
"Sekarang hati mommy sudah tidak sekeras dulu lagi. Aku yakin setelah ini Mommy pasti akan menuruti permintaanku selanjutnya." Batin Revia.
TBC....