
" Apa itu Revi? Kenapa kau malah diam saja." Ucap Zayn menatap Revia.
" Syaratnya adalah... " Revisi menjeda ucapannya sambil menatap Zayn yang nampak sedang menunggu kelanjutannya.
" Kau tidak boleh meninggalkan aku." Sambung Revia. Zayn tersenyum mendengar ucapan Revia.
" Apa kau menyamakan aku dengan mantan suamimu itu hmm?" Tanya Zayn. Revia hanya bisa menggelengkan kepala, karena jujur memang itu yang ia takutkan.
" Aku tidak sepertinya Revia, aku bukan pria pecundang yang tidak bisa menghargai wanita. Aku bukan pria mata keranjang yang gampang tertarik dengan wanita lainnya dan aku bukan pria yang tidak setia yang tidak cukup dengan satu wanita saja. Kalau kau tidak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri." Ucap Zayn.
" Jujur aku masih merasa takut untuk memulai hubungan baru, aku nekat melakukan ini demi mendapatkan perlindungan darimu. Aku ingin kau melindungi Arvi dari Arnold. Bagaimanapun caranya kau harus membantuku untuk menyakinkan Arnold, jika Arvi bukan putranya." Ucap Revia menghembuskan kasar nafasnya.
" Aku kenal jelas bagaimana Arnold jika dia menginginkan sesuatu, dia punya sifat yang sangat ambisius. Jika sampai dia tahu yang sebenarnya maka dia pasti akan mengambil Arvi dariku bagaimanapun caranya. Dan aku tidak mau sampai itu terjadi. Aku tidak mau Arvi jatuh ke tangan pria brengsek itu, apalagi kalau aku juga harus kembali padanya, aku benar benar tidak sudi." Ucap Revia sambil memijat pelipisnya. Ia merasa pusing memikirkan hal ini.
" Baiklah kau tenang saja! Aku akan melakukan tugasku sebagai suami dan ayah dari putramu dengan baik. Eh bukan... Tapi sekarang Arvi menjadi putraku. Jadi aku akan menjaga putraku dengan baik. Bagaimana kalau kita bagi tugas saja?" Tawar Zayn.
" Tugas apa?" Tanya Revia menatap Zayn.
" Aku akan mengurus Arnold dan kau mengurus Arvi. Buat Arvi percaya kalau akulah ayah kandung yang sebenarnya. Jadi jika suatu saat Arvi bertemu dengan Arnold, dia tidak akan memberitahu Arnold yang sebenarnya. Bukankah kau pernah bilang kalau ayahnya sudah tiada? Kalau sampai Arvi bilang seperti itu kepada Arnold, maka Arnold pasti akan semakin curiga." Ujar Zayn.
Revia mengangguk anggukkan kepalanya.
" Baiklah aku akan melakukannya." Sahut Revia.
Zayn memberanikan diri untuk menggenggam tangan Revia.
" Terima kasih telah memilih dan menerimaku sebagai suami dan ayah pengganti untuk Arvi. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan jiwa dan nyawaku sendiri, aku akan selalu berusaha membuat kalian bahagia. Aku juga punya satu permintaan untukmu." Ucap Zayn.
" Apa itu?" Tanya Revia.
" Buka hatimu untukku, biarkan aku mengisi kekosongan hatimu dan biarkan namaku terukir di dalamnya. Berikan cintamu untukku dan aku akan memberikan cintaku hanya untukmu." Ucap Zayn.
" Katanya satu permintaan, kenapa jadi banyak sekali." Cebik Revia menarik tangannya dari genggaman Zayn.
Zayn terkekeh sambil tersenyum manis.
" Intinya kau harus membuka hatimu untukku. Itu saja, untuk yang lain biarkan mengalir dengan sendirinya." Ujar Zayn.
" Akan aku usahakan." Sahut Revia.
" Baiklah kalau begitu aku harus kembali ke sekolah, aku akan membicarakan tentang pernikahan kita dengan kedua orang tuaku. Setelah itu aku akan mengabarimu." Ujar Zayn.
" Baiklah hati hati." Ucap Revia.
" Cie.... Sudah mulai khawatir nih." Goda Zayn.
" Apaan sih Mas." Ucap Revia kelepasan.
__ADS_1
" Cie... Panggil Mas nih ye." Ucap Zayn menggoda lagi.
" Eh maaf... Efek sandiwara belum hilang." Ujar Revia.
" Masa' sih." Sahut Zayn.
" Iya bener." Sahut Revia.
" Tapi aku suka kamu panggil Mas. Lagian sebentar lagi aku akan jadi suamimu, jadi mulai sekarang panggil aku Mas. Gimana?" Ujar Zayn menaik turunkan alisnya.
" Nggak mau." Sahut Revia.
" Sudah ah sana pergi, aku mau lanjut kerja lagi. Kau menggangguku saja." Ujar Revia mendorong punggung Zayn.
" Baiklah sayang." Sahut Zayn.
" Assalamu'alaikum." Ucap Zayn keluar dari ruangan Revia.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Revia menutup pintunya.
Revia menyandarkan punggungnya pada pintu.
" Hah... Rasanya jantungku hampir copot berhadapan dengan mas Zayn." Gumam Revia mengelus dadanya.
" Semoga keputusanku ini menjadi keputusan yang terbaik untuk kami semua." Sambung Revia kembali duduk di kursi kebesarannya.
Dua hari berlalu, Arnold kembali menemui Revia di ruangannya. Ia duduk di sofa membuat Revia memutar bola matanya malas.
" Mau apa lagi kamu ke sini? Apa penjelasanku waktu itu belum jelas?" Tanya Revia menatap Arnold.
" Lakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Zayn. Aku sudah punya uangnya." Ucap Arnold membuat Revia melongo membuka mulutnya menganga lebar.
" Dan aku tidak mau menerima penolakan lagi." Sambung Arnold.
" Sial... Bagaimana ini? Apa mas Zayn sudah melakukan tugasnya dengan baik? Tapi bagaimana aku memberitahunya kalau Arnold ada di sini? Ya Tuhan berikan pertolonganMu." Batin Revia sangat berharap.
Tiba tiba....
Tok tok...
Sonia membuka pintunya.
" Revia, tuan Zayn ada di sini." Ucap Sonia membuat Revia terkejut. Sonia mengerlingkan matanya seolah memberitahu jika ia yang mengabari Zayn. Revia mengacungkan jempolnya.
" Silahkan Pak, masuk!" Ucap Sonia keluar dari ruangan Revia.
Zayn masuk ke dalam menghampiri Revia. Tubuh Revia terasa kaku berhadapan dengan Zayn kali ini.
__ADS_1
" Rupanya sedang ada tamu, maaf aku tidak tahu sayang." Ucap Zayn mencium kening Revia. Revia melongo membulatkan matanya dengan mulut menganga.
" Mainkan peranmu dengan baik." Bisik Zayn.
Sedetik kemudian Revia bisa menguasai dirinya.
" Kenapa kamu datang kemari Mas? Apa ada sesuatu hal yang penting?" Tanya Revia menatap Zayn.
" Aku membawakan ini." Ucap Zayn menyodorkan sebuah amplop kepada Revia.
Revia segera membacanya.
" Hasil tes DNA?" Revia mengerutkan keningnya.
" Ya.. Itu hasil tes DNA antara Mas dan Arvi. Karena kita mau meresmikan pernikahan kita, jadi Mas melakukan tes itu supaya mereka semua tahu kalau Arvi benar benar putra kandung Mas. Agar tidak ada orang yang berpikir kalau Arvi anak orang lain." Ucap Zayn melirik Arnold.
" Ah iya kebetulan sekali Mas, Arnold datang untuk ini. Sekarang kau bisa baca sendiri hasilnya tanpa kau mengeluarkan uang sepersen pun." Ujar Revia memberikan amplop tersebut kepada Arnold.
Arnold segera membuka amplop itu lalu membacanya. Di dalamnya tertulis dengan jelas jika Arvian Anggara adalah putra kandung dari Zayn.
" Baiklah kali ini aku percaya padamu, tapi aku akan terus mengawasi kalian berdua. Jika sampai kalian membohongiku, aku akan membuat perhitungan pada kalian berdua." Ancam Arnold segera berlalu dari sana.
Revia bernafas lega setelah kepergian Arnold.
" Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan kita. Malam ini kedua orang tua Mas akan datang melamarmu. Apa ada keluarga yang bisa menghadirinya?" Tanya Zayn.
" Tidak ada, hanya aku dan Arvi saja." Sahut Revia.
" Baiklah tidak masalah, kita akan menikah satu minggu setelah hari ini." Ucap Zayn.
" Baiklah aku menurut saja, aku sangat pusing menghadapi masalah yang terjadi di kantor, apalagi di tambah masalah ini." Ucap Revia.
" Mas lebih menyukai kau yang penurut seperti ini." Ucap Zayn.
" Terserah kau saja." Sahut Revia duduk di sofa.
Zayn duduk di depan Revia sambil terus menatapnya.
" Jaga pandanganmu pak Zayn!" Ucap Revia.
" Kenapa? Mas sedang menatap calon istri Mas sendiri masa' nggak boleh." Sahut Zayn.
" Tau ah." Cebik Revia.
Zayn tersenyum menatap Revia.
" Semoga proses pernikahan kita sukses dan lancar." Batin Zayn.
__ADS_1
TBC......