TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
MENERIMA SYARAT


__ADS_3

" Keadaan pasien saat ini kritis Nyonya, dia kehilangan banyak darah. Saat ini putra anda membutuhkan donor darah dengan segera. Dan yang lebih akurat, dia membutuhkan donor darah dari ayah kandungnya."


Jeduaarrr.....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Revia kaku tidak bisa di gerakkan. Lidahnya terasa kelu, ia menatap Zayn begitupun sebaliknya.


" Golongan darah putra anda termasuk golongan darah yang langka Nyonya, rumah sakit kami tidak punya stoknya." Ucap dokter.


" Memangnya apa golongan darah Arvi Dok?" Tanya Arnold.


" O negatif."


Deg...


Jantung Arnold berdetak sangat kencang, ia menatap Revia dan Zayn bergantian.


" Apa ini? Apa ini hanya kebetulan saja? Aku harus memastikannya, ini adalah kesempatan terbaik untukku." Batin Arnold.


" Kenapa kau diam saja Zayn? Cepat donorkan darahmu. Kamu ayah kandungnya, jangan membuang waktu lebih lama lagi." Ujar Arnold.


" Maaf... Golongan darah kami tidak sama." Ucap Zayn menundukkan kepalanya.


Arnold benar benar terkejut mendengar ucapan Zayn. Ia membulatkan matanya dengan sempurna.


" Kenapa bisa golongan darahmu tidak sama dengan Arvi? Apa ini bisa di artikan kalau Arvi bukan putraku? Tapi dia putraku." Selidik Arnold.


Zayn hanya diam saja.


" Seharusnya aku tidak perlu bertanya lagi pada pembohong seperti kalian, Arvi memang putraku. Golongan darah kami sama, O negatif." Sambung Arnold.


Zayn mengepalkan erat tangannya menahan kesal di dalam dadanya karena ia tidak bisa berbuat apa pa di saat calon putranya sekarat seperti ini.


" Kalau begitu silahkan ikut kami ke ruang periksa Tuan sebelum melakukan donor darah. Kami harus memastikan jika golongan darah anda sama dan anda dalam keadaan sehat saat ini." Ujar dokter.


" Saya tidak mau." Ucap Arnold.


Deg...


Jantung Revia terasa berhenti berdetak.

__ADS_1


" Bagaimana bisa kau menolak untuk mendonorkan darahmu Arnold?" Revia berjalan mendekat ke arah Arnold.


" Aku mohon Arnold! Selamatkan putraku!" Ucap Revia mengatupkan kedua tangan di dadanya. Air mata terus mengalir di pipinya.


" Dia putraku?" Tanya Arnold.


Dengan terpaksa Revia menganggukkan kepalanya.


" Aku tidak akan bertanya kenapa kau melakukan semua ini padaku karena aku sadar semua terjadi karena kesalahanku. Aku akan mendonorkan darahku untuk putra kita tapi dengan satu syarat. Kau dan Arvi harus kembali padaku, karena kalian adalah milikku." Ucap Arnold.


Revia dan Zayn nampak terkejut dengan ucapan Arnold. Revia tidak bisa berpikir ataupun sekedar berkata apa apa lagi. Ia benar benar berada dalam kebingungan.


" Cepat ambil keputusan karena kita tidak bisa membuang waktu lagi Revia. Kalau kau tidak mau aku akan pulang karena putriku sudah menunggu." Titah Arnold membuat Revia terpojok.


" Hiks.... " Revia terisak semakin dalam. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


" Segera ambil keputusan Nyonya! Putra anda tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Atau nyawanya tudak akan tertolong." Ujar dokter.


Revia menatap Zayn begitupun sebaliknya. Revia menghela nafasnya pelan.


" Baiklah aku mau." Ucap Revia.


Deg...


" Aku pegang kata katamu, jika setelah aku mendonorkan darahku kau mengingkari janjimu, maka aku akan membawa Arvi bersamaku. Dan akan aku pastikan kau tidak bisa mencegahku apalagi menggagalkan rencanaku." Ancam Arnold. Revia menganggukkan kepalanya.


" Saya siap Dokter." Ucap Arnold.


" Baiklah mari Tuan."


Arnold mengikuti Dokter dan seorang suster ke ruang pemeriksaan. Revia terduduk lesu di bangku tunggu. Ia tidak bisa berpikir apa apa kecuali keselamatan Arvi.


Zayn duduk di sebelahnya, ia menarik tubuh Revia ke dalam pelukannya.


" Hiks.... " Isak Revia.


" Kenapa semua ini terjadi padaku Mas? Kenapa aku harus kembali kepada pria brengsek sepertinya hiks.. Kalau bukan demi Arvi aku tidak akan pernah mau kembali padanya hiks... Aku harus bagaimana Mas? Aku harus berbuat apa untuk mengingkari keputusanku sendiri. Hiks... " Ucap Revia di sela sela tangisannya.


" Tenanglah Revi! Jangan pikirkan masalah ini. Pikirkan tentang keselamatan Arvi. Kau menerimaku sebagai suamimu demi Arvi, kali ini kau juga melakukan hal yang sama. Kau menerima Arnold demi keselamatan Arvi." Ujar Zayn.

__ADS_1


" Tapi aku tidak mau kembali padanya, aku membencinya. Aku membenci pria brengsek itu seumur hidupku. Hiks... " Ucap Revia.


" Percayalah jika jodoh sudah di tentukan oleh Tuhan sayang. Kalau memang kita di takdirkan untuk bersama, pasti kita akan bersatu bagaimanapun caranya." Ujar Zayn.


" Bagaimana dengan Arvi? Dia menginginkan kamu menjadi daddynya Mas. Bagaimana perasaan Arvi jika dia tahu tentang kebenaran ini? Aku merasa kita telah mempermainkan emosi Arvi yang masih kecil." Ucap Revia.


" Kita pikirkan itu nanti sayang, sekarang tenanglah! Yang harus kita pikirkan saat ini adalah kesembuhan Arvi. Kau tidak boleh memikirkan yang lainnya atau kau akan tumbang." Ucap Zayn melepas pelukannya.


" Yakinlah jika semuanya akan baik baik saja. Kita berdoa semoga Arvi cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan kita lagi." Ucap Zayn mengusap air mata di pipi Revia.


Revia menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih telah membuat hatiku tenang, aku tidak akan sekuat ini jika tidak ada kamu di sampingmu Mas." Ucap Revia.


" Apapun akan aku lakukan untukmu dan Arvi. Jika seandainya kita tidak bisa bersama setidaknya Aku pernah bahagia bersama kalian berdua. Aku akan menjadikan semua ini sebagai kenangan terindah dalam hidupku." Ucap Zayn.


" Aku akan mengabari ayah dan ibu." Sambung Zayn. Revia menganggukkan kepalanya.


Zayn segera menelepon kedua orang tuanya. Setelah itu ia kembali duduk di sebelah Revia. Sudah dua jam menunggu, Revia nampak cemas. Pasalnya dokter belum juga keluar dari ruangan. Begitupun dengan Arnold.


" Mas kenapa dokter belum juga keluar? Apa terjadi sesuatu dengan Arvi di dalam?" Tanya Revia.


" Tenanglah sayang! Biarkan dokter bekerja dengan baik dan tugas kita di sini adalah berdoa yang terbaik untuk putra kita." Ucap Zayn menggenggam tangan Revia.


" Iya Mas." Sahut Revia menyandarkan kepalanya di pundak Zayn.


Tak lama Arnold keluar dari ruangan. Ia berjalan mendekati Revia, lalu duduk di sebelahnya. Kini Revia berada di tengah tengah Arnold dan Zayn.


" Bagaimana keadaanmu Arnold? Apa kau baik baik saja?" Tanya Zayn menatap Arnold.


" Aku baik baik saja, terima kasih telah mengkhawatirkan aku." Sahut Arnold menahan sesak di dadanya melihat Revia yang nampak begitu manja.


Zayn menggeser tubuhnya ke kursi sebelahnya.


" Berbaringlah di sini." Zayn menepuk pahanya.


Revia menjadikan paha Zayn sebagai bantalan. Zayn mengelus kepala Revia dengan lembut.


Hal itu membuat hati Arnold semakin memanas. Namun ia tetap berusaha menguasai dirinya. Saat ini saat yang tidak tepat untuk mengutamakan emosi. Ia lebih mementingkan Revia daripada perasaannya.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2