
Di rumah sakit, Sonia duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang. Ia menatap Jean yang terbaring lemah di ranjangnya dengan peralatan medis yang menempel pada tubuhnya. Dokter mengatakan jika ada satu tulang rusuk Jean yang retak. Hal itu membuat Sonia merasa kasihan, namun jika mengingat perbuatan Jean kepada Revia ingin sekali ia membunuh pria yang sedang tidak berdaya itu.
Sonia beranjak dari kursinya, ia mengintip keadaan luar dari lubang pintu, ia menghela nafasnya karena para wartawan masih setia menunggu di depan ruangan untuk sekedar tahu kondisi pewaris nomer satu pemilik perusahaan Jean group itu.
" Sial!!!! Aku benar benar terjebak sekarang. Kenapa juga sih dia harus bilang kalau aku pacarnya. Kan aku jadi susah begini endingnya, mau keluar tapi malas menjawab pertanyaan para wartawan itu." Monolog Sonia mengusap kasar rambutnya.
Sonia kembali duduk di kursinya, ia mengeluarkan ponselnya lalu bermain game favoritnya.
Tok tok...
Suara pintu di ketuk, tak lama seorang pria paruh baya membuka pintunya lalu masuk ke dalam. Sonia segera beranjak dari kursinya.
" Maaf, anda siapa?" Tanya Sonia menatap pria itu.
" Saya Adeno, pamannya Jean." Ucapnya memperkenalkan diri.
Tuan Adeno menatap Sonia, ia menelisik dari atas sampai bawah membuat Sonia risih.
" Selera Jean boleh juga, kamu bekerja dimana?" Tanya tuan Adeno yang tahunya kalau Sonia adalah kekasih keponakannya. Kabar berita tentang kejadian beberapa jam sebelumnya sudah tersebar di internet.
" Saya asisten pribadi nona Revia anggara Om, dari RA Group." Sahut Sonia sopan.
" Perusahaan terbesar kedua setelah perusahaan Jean." Ucap tuan Adeno nampak manggut manggut.
" Bagaimana kondisi Jean? Apa ada luka serius? Apa lukanya sangat parah sampa sampai peralatan medis ini menempel semua di tubuhnya?" Tanya tuan Adeno sambil menatap Jean.
" Dia baik baik saja Om, tinggal menunggu dia sadar dan menanyakan apa yang dia keluhkan, baru kita akan tahu apakah ada luka serius atau tidak." Sahut Sonia.
" Tidak perlu sadar selamanya sekalian, aku lebih suka melihat Jean seperti ini." Gumam tuan Adeno yang masih bisa di dengar oleh Sonia.
" Apa Om?" Tanya Sonia pura pura tidak mendengarnya.
" Tidak apa apa, semoga Jean cepat sadar." Sahut tuan Adeno.
Sonia menganggukkan kepala, namun pikirannya melayang memikirkan maksud ucapan tuan Adeno tadi.
" Aku yakin hubungan keduanya pasti tidak sehat. Mana ada seorang paman yang menginginkan kondisi buruk pada keponakannya? Sepertinya aku harus mengawasi orang ini. Walau bagaimanapun aku harus memastikan keselamatan Jean agar aku tidak di salahkan ke depannya." Batin Sonia.
__ADS_1
" Engh.. "
Mendengar suara lenguhan, Sonia menatap ke arah ranjang. Perlahan Jean membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
" Aku dimana?" Tanya Jean lirih.
" Kamu di rumah sakit." Sahut tuan Adeno.
Jean langsung menatap pamannya dan Sonia bergantian. Jean tersenyum sinis kepada pamannya.
" Untuk apa Om kemari?" Tanya Jean lemah.
" Untuk memastikan keadaanmu." Sahut tuan Adeno.
" Aku masih hidup, aku tidak akan mati hanya karena pukulan di dada maupun di perutku. Aku bahkan pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan ini. Dan itu di sebabkan oleh pamanku sendiri." Ucap Jean membuat Sonia terkejut. Ia semakin yakin jika memang hubungan keduanya tidak baik.
Tuan Adeno melirik tajam ke arah Sonia, Sonia paham dengan kode yang di berikan oleh tuan Adeno.
" Aku permisi dulu." Ucap Sonia membalikkan badannya, sebelum Sonia melangkah Jean sudah mencekal tangannya.
Sonia menatap tuan Adeno lalu menayap Jean yang saat ini menganggukkan kepala.
" Kau membuatnya salah paham Jean, jangan sampai kekasihmu itu berpikiran kalau Om ini seorang penjahat. Sudah berulang kali Om katakan padamu kalau kecelakaan yang kamu alami saat itu tidak ada hubungannya dengan Om. Tapi kamu tetap tidak percaya." Ujar tuan Adeno.
" Aku tidak akan memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak bisa di percaya. Aku mau istirahat, silahkan Om keluar dari sini!" Ucap Jean.
Tuan Adeno merapikan jaketnya.
" Baiklah jika kedatangan ku tidak di harapkan di sini, aku akan pergi. Kau sudah punya kekasih yang akan menjagamu." Ucap tuan Adeno.
" Tolong kamu jaga keponakan tersayangku." Ucap tuan Adeno menepul pundak Sonia. Sonia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Tuan Adeno berjalan keluar dari ruangan Jean. Sonia menatap tangan Jean yang masih menempel di tangannya.
" Lepaskan tanganku!" Ucap Sonia tegas.
Jean langsung melepaskan tangannya. Ia menatap Sonia begitupun sebaliknya.
__ADS_1
" Kau tidak mau mati di tangan pamanmu, bagaimana kalau kau mati di tanganku?" Ucap Sonia.
" Itu akan lebih baik, dan sebelum aku mati maka ijinkan aku untuk menikahimu. Dengan begitu semua hartaku akan jatuh kepadamu. Bukan ke tangan pria jahat sepertinya." Sahut Jean.
Sonia melongo membulatkan matanya mendengar ucapan Jean.
" Apa kau pikir aku mau menikah denganmu begitu?" Tanya Sonia menatap tajam mata Jean.
" Tidak Tuan Jean. Kalau pria itu jahat, lalu bagaimana denganmu? Kau telah berbuat kejahatan terhadap sahabatku. Aku rasa kau lebih jahat darinya dan kaulah penjahat yang sesungguhnya." Ucap Sonia.
" Maafkan aku! Aku khilaf, aku merasa putus asa karena tidak bisa mendapatkan wanita yang aku suka. Aku juga ingin segera menikah agar ada seseorang yang mau merawatku jika aku dalam serangan." Ucap Jean.
" Apa maksudmu?" Selidik Sonia.
" Pria tadi adalah adik dari ayahku. Sejak dulu dia mengincar perusahaan milik ayahku. Demi mendapatkan semua itu, dia menyabotase kecelakaan yang di alami oleh kedua orang tuaku sepuluh tahun silam. Namun walaupun demikian, harta papaku tidak jatuh ke tangannya melainkan jatuh ke tanganku. Sebelum aku dewasa, harta dan perusahaan papaku di kelola oleh asisten pribadinya. Hal itu membuat pamanku murka. Sejak saat itu dia selalu merencanakan penyerangan kepadaku. Aku bahkan pernah mengalami kecelakaan yang sama seperti kedua orang tuaku. Tapi Tuhan masih membiarkan aku hidup." Terang Jean membuat Sonia tercengang. Ia tidak menyangka ada orang seburuk tuan Adeno di dunia ini.
" Saat aku bertemu Revia, aku merasa tertarik padanya. Dia memiliki sikap tegas, judes dan terkesan galak. Aku membutuhkan wanita sepertinya untuk menghadapi pamanku setiap saat. Tapi aku kecewa saat tahu Revia hendak menikah. Pikiranku buntu saat itu, sampai sampai aku bisa melakukan hal serendah itu. Aku minta maaf. Aku terlalu terobsesi untuk mendapatkan Revia." Ucap Jean menunjukkan ketulusan dari dalam hatinya.
" Aku tidak tahu apakah semua yang kau ucapkan sebuah kebenaran atau kebohongan, yang jelas aku turut prihatin dengan keadaanmu saat ini. Dan aku tidak akan meminta maaf atas apa yang aku lakukan padamu tadi karena kau memang pantas mendapatkannya." Ucap Sonia.
Jean menatap Sonia dengan intens.
" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Sonia.
" Aku tidak menyangka ternyata kau lebih garang dari Revia, bagaimana kalau kau saja yang menjadi istriku? Aku akan cinta dan hidupku kepadamu."
Sonia melongo mendengar ucapan Jean. Bagaimana bisa seorang pria bisa secepat itu berpindah ke lain hati?
" Bagaimana? Mau ya. Aku berjanji akan memberikan hati ini untukmu. Yang jelas aku bisa mendapatkan pendamping hidup sekaligus teman untuk melawan pamanku. Apa kau bersedia?"
" Aku bukan pria jahat seperti yang kamu pikirkan, aku hanya di paksa keadaan. Oleh sebab itu aku melakukan kejahatan ini. Aku mohon nona Sonia, bantu aku! Terima aku menjadi suamimu maka aku akan membahagiakanmu." Ucap Jean menggenggam tangan Sonia membuat jantung Sonia berdebar.
Kira-kira Sonia mau nggak nih?
Jangan lupa rekan like koment vote dan hadiahnya ya... Terima kasih..
TBC....
__ADS_1