TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
GELISAH GALAU MERANA


__ADS_3

Matahari nampak menyingsing tepat berada di atas kepala, sinarnya terasa begitu menyengat kulit para anak manusia di tambah udara panas di ibukota membuat Arnold yang baru saja turun dari bus berlari mencari tempat teduh di salah satu terminal yang ada di kota J karena merasa kepanasan. Setelah berdiri cukup lama di bawah pohon beringin rindang yang ada di sana, Arnold beralih mencari taksi yang akan membawanya ke tempat Sera bekerja, yaitu bank swasta yang memiliki jutaan nasabah itu.


Arnold nampak duduk dengan tenang di dalam taksi yang berudara dingin itu sambil menatap ke luar jendela melihat orang orang yang sedang beraktifitas di siang hari ini. Hingga tiga puluh menit kemudian, taksi yang di tumpangi Arnold berhenti di seberang jalan tempat Sera bekerja selama ini. Setelah membayar ongkosnya, Arnold segera turun dari taksi.


Arnold segera menyebrang jalan lalu masuk ke dalam bank tersebut. Di depan pintu ia di sapa dengan ramah seorang satpam pria yang bekerja di sana.


" Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya satpam.


" Saya mau bertemu dengan Sera, dia bekerja di sini di bagian customer servis katanya." Ucap Arnold.


" Oh bu Sera cuti hari ini Pak, beliau akan mengadakan acara pertunangan malam ini." Ucapan satpam membuat Arnold terkejut.


Jantungnya berdebar sangat kencang, pikirannya tertuju pada Sera yang selama beberapa hari ini mendominasi pikirannya. Apakah Sera yang bertunangan? Pikir Arnold.


" Tunangan? Kalau boleh tahu siapa yang bertunangan ya Pak?" Arnold kembali bertanya untuk memastikan jika dugaannya salah.


" Bu Sera dengan kekasihnya Pak."


Jeduarrrr....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Arnold benar benar merasa terkejut dengan berita ini. Kekasih? Sera punya kekasih? Lalu apa arti kedekatannya selama ini? Bagaimana Sera bisa bersikap seperti tertarik padanya? Apakah Arnold yang terlalu baper atau ada sesuatu yang Sera sembunyikan dari Arnold? Pikiran Arnold kembali melayang layang menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi.


" Kalau saya boleh tahu, anda siapa ya Pak?" Tanya satpam membuyarkan lamunan Arnold.


" Saya tetangganya dari kampung neneknya Pak. Bisakah saya meminta alamat rumah Sera? Ada titipan dari neneknya yang harus saya berikan sendiri padanya. Saya lupa meminta alamatnya kepada neneknya karena saya pikir bisa bertemu Sera di sini." Ujar Arnold.


" Oh kalau begitu bisa Pak, anda bisa mendatangi rumahnya atau hotel tempat bu Sera mengadakan acara. Tapi saya rasa bu Sera pasti ada di hotel untuk persiapan, sebentar ya Pak." Ucap satpam di balas anggukkan kepala oleh Arnold.


Bukan karena lancang Pak satpam berani memberikan alamat Sera kepada Arnold, ia tahu kalau Sera sempat mengambil cuti selama satu bulan dengan alasan mengurus neneknya yang sedang sakit di kampung. Ia berpikir kalau Arnold merupakan utusan nenek Sera.

__ADS_1


Pak satpam memberikan secarik kertas berisi alamat rumah Sera, dan alamat hotel tempat Sera melangsungkan acara pertunangannya nanti malam. Di sana tidak ada penjagaan khusus selama acara berlangsung, jadi tamu bisa bebas keluar masuk gedung untuk menyaksikan sekaligus memberikan doa restu kepada calon kedua mempelai.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada satpam, Arnold kembali menyetop taksi. Kali ini bukan ke tempat Sera ataupun hotel namun Arnold tujuannya adalah rumah Revia. Ia ingin meminta pendapat Revia tentang rencananya datang kemari.


Lima belas menit Arnold sampai di kediaman Revia. Ia berjalan menyusuri halaman yang di tumbuhi dengan pepohonan dan rumput hias di atasnya. Daun berguguran ke rerumputan karena di sibak kencangnya angin siang hari. Sampai di depan pintu berwarna silver, Arnold memencet bel rumah yang ada di bagian pinggir pada daun pintu.


Ting Tong...


Revia yang sedang menemani Arvi bermain sambil membaca majalah bisnisnya meminta Arvi untuk membukanya. Tanpa membuang waktu Arvi pun menurutinya, ia membuka pintu lalu mendongak menatap tamu yang saat ini sedang berdiri di depan pintu.


" Daddy Ar." Ucap Arvi.


" Arvi sayang." Arnold berjongkok di depan Arvi dengan kedua lututnya sebagai tumpuannya.


" Daddy kangen sayang." Ucap Arnold menatap Arvi sambil menunggu menunggu reaksinya. Ingin rasanya Arnold langsung memeluk putranya namun ia teringat dengan sikap Arvi saat terakhir ia datang kemari. Ia tidak mau membuat Arvi marah ataupun kesal kepadanya seperti sebelumnya.


" Arvi juga kangen Daddy Ar."


Nyesss....


Ucapan Arvi bagaikan air es yang menyiram hati Arnold di tengah tengah kepanasan dan kekeringan. Ia merasa sangat bahagia mendengar pengakuan yang keluar dari bibir Arvi. Arnold mengelus punggung Arvi dengan penuh kelembutan. Keduanya saling meluapkan kerinduan lewat pelukan.


Revia yang mencemaskan Arvi karena Arvi tidak kunjung kembali segera beranjak dari duduknya, ia berjalan melewati ruang tamu menuju pintu. Revia menghentikan langkahnya ketika melihat keduanya saling berpelukan. Tidak mau mengganggu moment ayah dan anak itu, Revia kembali masuk ke dalam.


Setelah puas meluapkan kerinduan, kini keduanya masuk ke dalam menghampiri Revia yang berada di ruang keluarga.


" Mommy, ada daddy Ar datang." Revia menatap keduanya.


" Hai, silahkan duduk!" Ucap Revia.

__ADS_1


" Terima kasih." Sahut Arnold duduk di sofa sebrang berhadapan dengan Revia.


Tanpa basa basi Arnold segera memberitahu Revia tentang tujuannya datang ke ibukota. Revia meminta Arvi kembali ke kamarnya karena ia merasa ini percakapan orang dewasa. Arvi pun menurut, ia masuk ke dalam kamarnya.


Arnold melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda. Ia mengatakan jika ia ingin mengungkapkan perasaannya dan melamar Sera untuknya. Namun niatnya terhalang dengan berita tentang pertunangan Sera yang akan di langsungkan malam ini. Arnold juga menceritakan ke selatan hubungannya dengan Sera beberapa minggu ini. Ia merasa Sera juga menyukainya. Arnold meminta bantuan Revia untuk menemaninya datang ke acara itu. Kalau mau ke rumah Sera, ia khawatir membuat keributan di sana.


" Duh gimana ya? Kebetulan aku juga dapat undangan dari kolega bisnisku untuk menghadiri acara pertunangan anaknya juga, dan sepertinya mereka mengadakan acara di hotel yang sama. Hanya waktunya aja yang berbeda." Ujar Revia.


Ya... Revia mendapat undangan jam sembilan malam, sedangkan Sera bertunangan jam tujuh malam. Entah acaranya bergantian atau bagaimana Revia tidak tahu.


" Revi, atau mungkin anak kolega kamu dan Sera itu satu orang yang sama? Atau mungkin Sera bertunangan dengan anak kolega kamu itu?" Gumam Arnold mencoba memikirkan hal ini. Tidak mungkin kan jika semua ini hanya kebetulan? Pikiran Arnold kembali melayang layang tak karuan.


" Aku juga tidak tahu, tapi rumornya anak kolegaku itu tidak pernah terlihat publik. Entah dia perempuan atau pria aku tidak tahu karena kami di undang langsung lewat telepon. Dia juga tidak tinggal bersama orang tuanya, dia hidup mandiri dengan pekerjaannya." Ujar Revia.


" Memangnya dia bekerja dimana?" Entah mengapa Arnold begitu penasaran dengan sosok yang sedang di ceritakan oleh Revia.


" Kalau soal itu aku tidak tahu." Sahut Revia.


" Ya sudah gini aja. Nanti malam aku akan menemanimu menemui Sera, setelah itu aku pergi ke acara pertunangan kolegaku bersama Mas Zayn. Gimana?" Tawar Revia.


" Baiklah, terima kasih sebelumnya." Ucap Arnold.


" Sama sama." Sahut Revia.


Arnold menghembuskan nafasnya kasar mencoba mengusir gelisah yang melanda hatinya saat ini.


" Semoga aku belum terlambat Sera, dan semoga setelah aku mengungkapkan perasaanku padamu, kau bisa memberikan jawaban yang sebenarnya. Apakah kau menyukaiku atau tidak. Jika iya, aku akan memperjuangkanmu tapi jika tidak maka aku akan melupakanmu dan menutup hati ini untuk selamanya." Batin Arnold.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2